Penjualan lesu, pasar Karangpucung Cilacap berubah jadi salon kambing

Selasa, 21 Agustus 2018 23:03 Reporter : Abdul Aziz
Penjualan lesu, pasar Karangpucung Cilacap berubah jadi salon kambing Pasar kambing di Cilacap. ©2018 Merdeka.com

Merdeka.com - Di Jawa Tengah bagian barat, transaksi jual beli hewan kurban tak lagi terpusat di pasar. Pasalnya, pedagang-pedagang besar hewan kurban, mengubah pola dagang lewat jasa pemeliharaan ke peternak-peternak di desa. Pasar pun tak lagi jadi bagian signifikan mata rantai penjualan hewan kurban ke calon pembeli.

Kelesuan penjualan hewan tersebut, dialami oleh para pedagang kambing di Pasar Kambing Karangpucung di Kabupaten Cilacap. Pasar yang dikenal legendaris menyediakan kambing-kambing terbaik ini, tak lagi seramai 5 tahun silam sebagai pusat penjualan hewan kurban.

Dahulu, Pasar Kambing Karangpucung dikenal luas sebagai pasar hewan kurban terbesar di wilayah Cilacap, Banyumas dan beberapa wilayah lain di Jawa Tengah bagian barat. Berbagai jenis kambing seperti Jawa Randu, Etawa, domba Garut hingga Jawa kacang mudah didapat di pasar ini.

Letaknya yang strategis di jalan nasional lintas selatan (JLS) menjadikan pasar ini tempat bertemu para pedagang dari berbagai daerah. Pasar Karangpucung pun tersohor menjadi pasar rujukan harga.

Kepala Pasar Kambing Pasar Karangpucung, Tarsono bercerita model transaksi jual beli kambing yang semula terpusat di pasar telah berubah langsung ke pedesaan. Pasalnya, pedagang dari Jakarta dan kota-kota besar lainnya lebih memilih jasa pemeliharaan ke peternak-peternak di desa.

"Mata Rantai distribusi hewan kurban tak lagi mesti ke pasar. Tapi dari peternak desa langsung diambil pedagang diserahkan ke pembeli," kata Tarsono.

Tarsono mengenang, beberapa tahun silam setiap jelang Idul Adha, kambing kurban dari Jakarta dan kota besar sisi barat pulau Jawa yang dikirim ke Pasar Karangpucung bisa di kisaran 10.000 ekor. Kini yang terjadi penurunan drastis, jumlah kiriman jelang Idul Adha hanya berkisar kurang dari 4.000 ekor.

"Banyak pedagang kambing besar dari Jakarta yang berinvestasi di pedesaan. Mereka menitipkan ratusan ekor kambing jantan remaja kepada petani. Jumlah seluruh kambing jantan milik satu pedagang bisa berkisar puluhan hingga ratusan ekor," kata Tarsono.

Perubahan pola ini, dilakukan para pedagang agar tak perlu lagi berebut hewan kurban menjelang Idul Adha. Harga kambing yang mereka beli juga tetap rendah lantaran dibeli jauh-jauh hari. Keuntungan yang didapat bisa berlipat ganda, sebab pedagang bisa menjualnya dengan harga selangit menjelang hari raya Idul Adha.

Hanya saja, hewan kurban lewat jasa pemeliharaan peternak di desa acapkali tak berpenampilan menarik. Gejala yang nampak beberapa tahun terakhir, pasar Karangpucung pun lantas banyak ditempati oleh penjual jasa salon kambing.

Masa-masa jelang hari raya Idul Adha, salon kambing dibanjiri pengunjung. Dalam sehari, satu salon kambing bisa melayani hingga puluhan ekor kambing.

Pengelola jasa salon kambing di Pasar Karangpucung, Ahmad Seiko Minarjo menjelaskan layanan yang diberikan salon kambing pada perawatan tanduk, kuku dan bulu. Ada pula salon kambing yang melayani pembentukan tanduk. Uniknya, bahkan ada Creambath kambing.

Sepaket jasa perawatan tanduk dan kuku, dihargai Rp 20.000 per ekor. Adapun pembentukan tanduk, kisaran Rp 30.000-an. Ongkos paling mahal, Rp 75.000-Rp 100.000 per ekor, meliputi jasa creambath, suntik vitamin yang dirancang satu paket dengan perawatan kuku dan pembentukan tanduk .

"Dekat hari raya kurban, rata-rata tiap hari bisa terima sebanyak 20-40 ekor kambing. Pedagang memanfaatkan salon, untuk memperlihatkan pada pembeli bahwa kambing terawat baik. Sehingga harga kambing saat dijual harganya baik," ujar Minarjo. [rhm]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini