Penjelasan BPKH Jika Jemaah Haji Tak Tarik Setoran Lunas

Jumat, 12 Juni 2020 23:47 Reporter : Muhamad Agil Aliansyah
Penjelasan BPKH Jika Jemaah Haji Tak Tarik Setoran Lunas Jemaah Haji. ©2012 Merdeka.com/imam buhori

Merdeka.com - Calon jemaah haji tahun 1441 Hijriah atau 2020 Masehi yang batal berangkat diperbolehkan untuk menarik setoran lunas BiPIH (Biaya Perjalanan Ibadah Haji). Pertimbangan tersebut dilakukan terkait dampak ekonomi yang timbul akibat pandemi Covid-19.

Menurut Anggota Badan Pelaksana Bidang Keuangan, Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH), Acep R. Jayaprawira, ada dua opsi yang bisa dilakukan masyarakat, menarik setoran lunas atau tidak. Bagi yang akan menarik setoran lunas, maka bisa menghubungi agen perjalanan masing-masing.

Menurut Acep, calon jemaah haji memang hanya bisa menarik setoran pelunasan agar tidak kehilangan haknya sebagai jemaah berangkat pada tahun depan. Setoran pelunasan besarnya bervariasi tergantung embarkasi masing-masing calon jemaah.

Sesuai Keputusan Presiden Nomor 6 tahun 2020 tentang BPIH (Biaya Pelaksanaan Ibadah Haji) Tahun 1441 Hijriah atau 2020 masehi, maka setoran pelunasan besarnya sekitar Rp6 juta untuk jemaah dari embarkasi Aceh dan Rp13 Juta untuk embarkasi Makassar.

Pengembalian akan dilakukan paling lambat lima hari kerja setelah menerima surat permohonan pengembalian setoran BiPIH (Biaya Perjalanan Ibadah Haji) dari Kemenag sesuai pasal 4 PBPKH Nomor 2 Tahun 2020. Sedangkan bagi jemaah yang tidak melakukan penarikan setoran pelunasan akan disimpan dan dikelola secara terpisah oleh BPKH.

"Setoran pelunasan yang berkisar antara Rp6 juta–Rp13 juta tersebut akan mendapatkan nilai manfaat atau imbal hasil, besarnya sesuai dengan tingkat imbal hasil investasi dan penempatan yang dilakukan BPKH. Hal ini sesuai dengan KMA Nomor 494 tahun 2020," kata Asep dalam keterangannya, Jumat (12/6).

Setoran lunas akan diberikan melalui virtual account per masing-masing jemaah. Pembagian nilai manfaat setoran lunas dilakukan selambat-lambatnya 30 hari kerja sebelum pemberangkatan kloter pertama penyelenggaraan haji tahun 1442 Hijriah atau 2021 Masehi.

Seperti yang kita ketahui, BPIH (Biaya Pelaksanaan Ibadah Haji) mencapai Rp70 juta per orang yang terbagi dari dua komponen, direct cost dan indirect cost.

Direct cost adalah biaya yang langsung dibayarkan oleh calon jemaah haji atau yang kerap disebut BiPIH (Biaya Perjalanan Ibadah Haji) sebesar Rp38 juta. Sedangkan indirect cost yang bersumber dari hasil pengembangan atau optimalisasi setoran awal, yang dalam UU Nomor 34 Tahun 2014 disebut nilai manfaat.

"Untuk BiPIH (Biaya Perjalanan Ibadah Haji) terdiri dari terdiri dari setoran awal sebesar Rp25 juta yang dibayarkan calon jemaah haji untuk mendapatkan nomor porsi. Selanjutnya, calon jemaah haji akan membayarkan setoran pelunasan ketika nama calon jemaah resmi berangkat pada tahun tersebut. Sehingga total yang dibayarkan mencapai Rp38 juta," tutup Acep. [gil]

Topik berita Terkait:
  1. tag
  2. Haji 2020
  3. Jakarta
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini