Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Pengamat sebut perang tagar bentuk ekspresi simbolik yang meningkatkan partisipasi

Pengamat sebut perang tagar bentuk ekspresi simbolik yang meningkatkan partisipasi Aksi saling singgung massa di car free day. ©2018 Liputan6.com/Faizal Fanani

Merdeka.com - Analis Komunikasi Politik UIN Jakarta, Gun Gun Heryanto memberikan tanggapan terkait perang tagar di media sosial.

Diketahui saat ini ada beberapa tagar yang ramai di jejaring sosial. Beberapa diantaranya #2019Ganti Presiden dan #2019TetapJokowi.

Gun Gun menilai, fenomena ini sebagai perubahan konteks sosial politik yang semakin dinamis. Terutama ketika ada keterbukaan yang sangat erat antara demokrasi di dunia nyata dengan cyber demokrasi.

"Cyber demokrasi ini memang salah satu penandanya adalah ekspresi kebebasan berpendapat kemudian. Tentu juga kebebasan untuk punya pilihan-pilihan politik sesuai dengan preferensi pilihan masing-masing yang enggan di ekspresi di dunia digital, seperti misalnya di sosmed atau di web dan lain sebagainya," ujar dia dalam diskusi Polemik MNC Trijaya, 'Politik Tagar, Bikin Gempar' di Warung Daun, Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (4/5).

Gun Gun mengatakan, tagar di jejaring sosial Twitter merupakan salah satunya. Dia melihat ekspresi simbolik dari referensi pilihan yang ada di masing-masing orang.

"Seperti misalnya ada orang yang tertarik untuk 2019 ganti presiden, ada yang 2019 tetap melanjutkan incunbent dalam konteks ini yaitu pemerintahan Jokowi," ujar dia.

Dia menjelaskan, fenomena ini dapat berdampak positif dalam meningkatkan partisipasi politik. Internet user di Indonesia, kata Gun Gun ada 132 jutaan dari 185 juta pemilihan di Pemilu 2019.

"Ini sebenarnya bisa menjadi corong yang sangat potensial dari jumlah 250 juta penduduk Indonesia. Global avarage pengguna internet di Indonesia rata-rata 52 persen antara internet user dengan total populasi. Jadi ini menurut saya sebuah berkah kontestasi electoral yang terfasilitasi bukan hanya di media mainstream, bukan hanya di face to face informal akan betemu kemudian berjaring dengan kelompok tetapi bisa menyapa orang yang berbeda lewat sosial media antara lain lewat hastag," papar dia.

Namun demikian, Gun Gun mengingatkan, media sosial juga selalu berwajah janus. Media sosial bisa menjadi alat kampanye, alat publisitas, alat propaganda. Di sisi lain juga black propaganda, black campaign.

"Itu yang perlu di antisipasi. Akibat ekses dari pelimpahan komunikasi yang terjadi," kata Gun Gun.

Reporter:Ady Anugrahadi

Sumber: Liputan6

(mdk/frh)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP