Pengalaman Pahit Satu Keluarga Termakan Bujuk Rayu Kelompok ISIS

Rabu, 20 November 2019 14:43 Reporter : Didi Syafirdi
Pengalaman Pahit Satu Keluarga Termakan Bujuk Rayu Kelompok ISIS Dhania. ©2019 Merdeka.com

Merdeka.com - Kisah pilu dialami Nursadrina Khaira Dhaina karena terpapar ideologi dan rayuan paham ISIS melalui media sosial. Saat itu dia masih duduk di bangku SMA. Bahkan, Dhaina mengajak belasan keluarganya, termasuk ayah, ibu, kakak, adik, nenek serta pamannya terbang ke Suriah pada 2016 lalu.

Ternyata harapan hidup nyaman di negeri khilafah hanya mimpi belaka. Di sana, Dhania dan keluarganya hidup tersiksa dengan kesadisan ISIS. Janji-janji manis yang diberikan hanya isapan jempol. Yang ada, tiap hari ia dipaksa melihat kekerasan dan pembunuhan yang tidak sesuai dengan ajaran agama Islam.

Beruntung, Dhania dan keluarganya bisa melarikan diri keluar dari Suriah dan kemudian berhasil dipulangkan oleh pemerintah Indonesia, melalui Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) pada 2017 lalu.

Dari pengalaman pahit itulah, Dhania meminta generasi muda Indonesia untuk benar-benar mewaspadai apapun bentuk propaganda yang dilakukan kelompok ISIS dan radikalisme lainnya. Ia bahkan menggarisbawahi terkait narasi-narasi yang menggunakan dalil-dalil agama.

"Dalam surat Al-Hujurat ayat 6 sendiri kan Tuhan memerintahkan kepada kita untuk selalu memeriksa berita yang datang kepada kita agar tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan kita. Setelah itu kita bertanya kepada orang-orang yang lebih mengetahui, apakah itu aparat pemerintahan atau kepada alim ulama," tutur wanita 20 tahun itu dalam keterangan diterima merdeka.com, Rabu (20/11).

Lebih lanjut Dhania mengatakan sulit untuk mengetahui ciri-ciri orang yang menyebarkan radikalisme karena hal itu berkaitan dengan paham atau ideologi yang ada di kepala.

"Kita tidak bisa menilai seseorang terkena paham radikalisme dari fisiknya saja. Kita baru bisa mengetahuinya ketika kita berbincang dengan mereka atau dengan melihat tulisan-tulisannya di medsos," imbuhnya.

"Berdasarkan yang saya ketahui itu biasanya mereka yang terpapar paham radikalisme ini merasa dirinya paling benar yang lainnya salah. Dan biasanya juga setuju kepada tindakan-tindakan kekerasan. Lalu ketika ada kelompok lain yang menyampaikan argumen tidak mau didengarkan," tambah Dhania.

1 dari 1 halaman

Banyak Narasi Radikalisme di Medsos

Menurutnya, radikalisme ini bisa muncul karena pemahaman agamanya yang kurang. Padahal seharusnya jika dipelajari lebih dalam ternyata tidak seperti itu.

"Contoh seperti ayat membunuh, kita lihat-lihat dulu ayat sebelum atau sesudahnya atau di surat lain bahwa konteksnya untuk apa, kenapa ada ayat ini. Jadi kita tahu arti sebenarnya jihad dan hijrah itu sebenarnya," tuturnya.

Dhania juga menuturkan sulit untuk menghapus narasi radikalisme di medsos karena mereka bisa saja membuat akun lagi meskipun sudah pernah dihapus sebelumnya. Menurutnya, pemerintah berperan penting tidak hanya untuk melakukan kontra narasi tetapi juga bisa membuat sosialisasi kepada masyarakat sehingga bisa diberdayakan untuk lakukan pencegahan di lingkungan sekitarnya.

"Harus ada kolaborasi antara pemerintah, organisasi sosial dan juga masyarakat. Selain itu bisa juga dengan menampilkan orang-orang yang pernah terkena paham radikalisme ini untuk menunjukkan kepada masyarakat bahwa bahaya radikalisme ini memang nyata adanya dan ada orang yang pernah terpapar, jadi bukan rekayasa atau buatan dari pemerintah atau pihak manapun," jelasnya.

Saat ini, Dhania aktif menyebarkan narasi-narasi Islam yang damai serta kontra narasi melawan propaganda radikalisme baik melalui media online maupun medsos. Menurutnya, ini dilakukan karena harus ada narasi-narasi pembanding untuk melawan propaganda radikalisme.

"Kita mencoba terus kampanye dengan tidak memojokkan. Biasanya orang yang ilmu agamanya rendah dan dia mencari agamanya untuk pertobatan jangan kita malah salah-salahkan, justru harusnya kita rangkul," pungkasnya. [did]

Baca juga:
Buruh Migran Perempuan Asal Indonesia Jadi Target Perekrutan ISIS
Kementerian Luar Negeri Belum Pastikan Pemulangan WNI Anggota ISIS
Buntut Penangkapan Anggota JAD di Bali, Polisi Perketat Keamanan Lokasi Wisata
Geledah Indekos Mahasiswa Terduga Terafiliasi ISIS, Densus 88 Amankan Pisau dan Gotri
Ini Sosok dan Latar Belakang Pelaku Penyerangan Wiranto
Polisi Sebut Penusuk Wiranto di Pandeglang Terpapar ISIS

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini