Pelindo III Akui 8 Hektare Kawasan Mangrove di Pelabuhan Benoa Rusak

Senin, 26 Agustus 2019 20:21 Reporter : Moh. Kadafi
Pelindo III Akui 8 Hektare Kawasan Mangrove di Pelabuhan Benoa Rusak Pelindo III hentikan sementara reklamasi teluk benoa. ©2019 Merdeka.com/Moh Kadafi

Merdeka.com - VP Corporate Communication PT Pelabuhan Indonesia III (Persero) Wilis Aji Wiranata menjelaskan, kerusakan mangrove di kawasan Pelabuhan Benoa berkisar delapan hektare.

"Areal mangrove kurang lebih itu memang 17 hektare, tetapi yang mengalami dampak akibat pembangunan ini tidak sampai 17 hektare. Kalau pembicaraan semalam kurang lebih sampai 7 sampai 8 hektare," kata Willis saat ditemui di Kantor Pelindo III, Denpasar, Bali, Senin (26/8).

Menurut Wilis kerusakan kawasan mangrove tersebut sudah diantisipasi dengan meminta rekomendasi kepada Litbang di Bogor, Jawa Barat, dan kemudian membuat kanal agar air bisa masuk ke kawasan mangrove yang terdampak. Selain itu, pihaknya juga menanam 50 ribu pohon mangrove.

"Untuk itu kita sudah meminta rekomendasi dari Litbang di Bogor, Desember (2018) kita bikin kanal Februari (dan) kita menanam 50 ribu mangrove di situ," ujarnya.

"Menanam mangrove pun kita meminta asistensi dari UPT Tahura Ngurah Rai. Mereka lebih ahli ini menanam mangrove yang hidup seperti apa. Kita tanam di situ 50 ribu sejak bulan Februari, dan sekarang berdasarkan laporan 90 persen sudah hidup di situ dan sekarang masih kecil-kecil (ada) 80 senti sampai 1 meter," tutur Willis.

Saat ditanya mengenai area yang sudah direklamasi tidak boleh ada bangunan karena statusnya akan menjadi Ruang Terbuka Hijau (RTH), Wilis mengaku pihaknya tidak memiliki wewenang terkait kebijakan tersebut.

"Kalau itu jelas bukan wewenang pihak Pelindo III, karena kita membangun ada Rencana Induk Pelabuhan (RIP). Jadi kita berdasarkan itu. Kalau mengubah bukan Pelindo tapi dari Kementerian Perhubungan," ujarnya.

Mengenai tidak dibangunnya tanggul penahanan dan tidak dipasangnya slit screen sesuai dengan Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) yang ada di dokumen Amdal, pihak Pelindo III berkilah bahwa hal tersebut tidak sesuai dengan kondisi di lapangan.

"Sempat mau diterapkan tetapi karena slit screen di situ ada pasang surutnya tinggi sampai nol. Nol itu berarti tinggal daratan itu tidak bisa dia harus ada airnya terus. Jadi dia (slit screen) seperti mengapung kalau slit screen modelnya. Kita ganti dengan metode kayak tanggul tetapi memang kita akui pada saat ada pasang dan surut memang ada lumpur yang meluber, akhirnya sampai ke wilayah mangrove itu," ujarnya.

Pelindo III akan berkirim surat ke Pemprov Bali, berharap bahwa proyek di Pelabuhan Benoa tetap diberikan lampu hijau.

"Iya opsinya kita, kalau bisa tetap berjalan dalam artian nanti kita menjalin komunikasi dengan Pemprov, karena kita belum mendapatkan jadwal. Kita sudah minta audiensi ke sana tapi kita belum dikasih jadwal terkait surat-surat itu. Kalau opsi pengennya kita tetap ingin berjalan," ujarnya.

Wilis menjelaskan, Pelabuhan Benoa ke depannya menjadi akses masuk kapal pesiar hingga meningkatkan turis wisatawan yang berkunjung ke Bali.

"Impian kita semua kan Pelabuhan Benoa ini kan sebagai akses masuk dan meningkatkan turis wisatawan melalui pelabuhan. Sekarang dengan berhentinya, akhirnya kita juga mengambil langkah," jelasnya.

Seperti diketahui, Gubernur Bali Wayan Koster meminta PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) III untuk segera menghentikan reklamasi di area 85 hektare sekeliling Pelabuhan Benoa.

Penghentian ini karena pengurukan wilayah laut itu telah menyebabkan hancurnya ekosistem bakau seluas 17 hektare serta memicu terjadinya sejumlah pelanggaran.

Permintaan itu disampaikan Gubernur Koster dalam surat resmi kepada Direktur Utama Pelindo III yang juga ditembuskan kepada Menteri BUMN, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Menteri Perhubungan, serta Menteri Agraria dan Penataan Ruang. [cob]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini