Menkeu Sri Mulyani terharu saat mendapat penghargaan dari Unnes
Merdeka.com - Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati meraih gelar penghargaan bidang konservasi dari Universitas Negeri Semarang (Unnes), Kawasan Gunungpati, Kota Semarang, Jawa Tengah, Kamis (30/3).
Penghargaan bertema 'Upakarti Artheswara Adhikarana' itu diberikan atas jasa-jasanya melakukan reformasi birokrasi di Kemenkeu.
Penghargaan diberikan secara langsung oleh Rektor Unnes Kota Semarang, Prof Faturahman di hadapan ribuan civitas akademi, mahasiswa dan sejumlah tamu undangan.
Menkeu Sri Mulyani saat acara yang bertepatan dengan Dies Natalis ke-52 Unnes ini juga sempat memberikan kuliah umum.
Saat berbicara di hadapan tamu undangan, Sri Mulyani terharu dengan mata berkaca-kaca. Perempuan asli Kota Semarang itu menyatakan jika penghargaan penting bidang pendidikan itu diraih berkat peran kedua orang tua yang saat ini sudah tiada.
"Berkat peran kedua orang tua saya tercinta penghargaan ini. Profesor Satmoko dan Retno Sriningsih. Mereka punya andil besar menjadikan saya sehingga sampai seperti saat ini," ucapnya.
Sri Mulyani menuturkan sosok kedua orang tuanya merupakan panutan yang mengajarinya mengerti tentang perjuangan guru di Indonesia. Suri tauladan kedua orang tuanya yang kini menjadi pedoman Sri Mulyani bisa meraih kesuksesan di dalam pemerintahan.
Selain Sri Mulyani, penghargaan konservasi bidang pluralisme juga diberikan kepada ulama kharismatik Pekalongan Habib Luthfi Bin Yahya. Kemudian mantan jawara All England, Christian Hadinata menerima Upakarti Krida Adhikarana.
Menteri Lingkungan Hidup era Pemerintahan Presiden Soeharto Emil Salim juga mendapat penganugerahan Upakarti Mandala Bumi Adisajjana, dan dalang nyentrik sekaligus Bupati Tegal Ki Enthus Susmono mendapat Upakarti Reksa Manggala Budaya.
Dalam orasi ilmiahnya, mantan Direktur Bank Dunia ini menyoroti terhadap APBN untuk pendidikan yang kini sebesar 20 persen yang belum maksimal dalam penggunannya.
Kemudian dengan kondisi yang sama, negara Vietnam yang lebih kecil wilayahnya dari Indonesia bisa menduduki peringkat pendidikan yang bagus di beberapa negara Kawasan Asia Tenggara.
"Saya mendapati masih ada sekolah-sekolah tingkat dasar kita yang dalam kondisi rusak. Itu kenapa? Anggaran pendidikan kita masih belum maksimal," terangnya.
Menkeu yang merupakan alumnus SMA Negeri 3 Kota Semarang itu menambahkan jika selama ini kualitas pendidikan masih bergantung kepada pemerintah daerah dalam menyelenggarakan pendidikan, mulai dari tingkat SD sampai tingkat SLTA.
"Data statistik Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menyebutkan bahwa 20 persen anggaran pendidikan itu 65 persen rutin dibelanjakan lewat pemerintah daerah. Baiknya pemberian dana tersebut dikaitkan dengan prestasi dan kinerja. Nanti coba saya komunikasikan dengan Menteri Pendidikan dan Menristek Dikti," pungkasnya.
(mdk/cob)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya