Mengenal tarian perang Kabasaran dari Minahasa

Jumat, 5 Agustus 2016 09:31 Reporter : Tommy A Lasut
Mengenal tarian perang Kabasaran dari Minahasa Tarian perang Minahasa Kabasaran. ©2016 Merdeka.com

Merdeka.com - Tarian perang Kabasaran adalah tarian yang banyak kali digunakan untuk penyambutan tamu dan kerap dipertontonkan pada saat hari-hari besar maupun pada acara-acara daerah. Para penari berwajah garang dan mata melotot lengkap dengan pakaian serba merah, membuat kesan garang prajurit Minahasa zaman dulu. Meski mirip dengan tarian Cakalele dari Maluku namun tarian ini memiliki sejarah sendiri di tanah Minahasa.

Dikutip dari website resmi Pemerintah Sulawesi Utara, sulutpro.go.id, Kabasaran adalah tarian adat di mana kebanyakan dibawakan oleh pria lengkap dengan senjata tajam berupa pedang dan tombak ini, sangat identik dengan gerakan perkelahian ayam jantan.

Menurut salah satu tokoh kebudayaan dari Minahasa, Jessy Wenas, Tarian Kabasaran adalah tarian adat untuk perang atau tarian untuk mengawal salah satu tokoh adat penting di Minahasa.

Tarian ini sebenarnya merupakan tarian sakral yang dilakukan secara turun temurun oleh generasi penari Kabasaran. Dalam upacara adat Minahasa, Kabasaran adalah prajurit adat yang memiliki otoritas penuh dalam jalannya sebuah upacara adat. Mereka dulunya bisa membunuh atau mengusir si jahat yang mengganggu upacara.

Tarian perang Minahasa Kabasaran 2016 Merdeka.com

Bentuk dasar dari tarian ini adalah sembilan jurus pedang (santi) atau sembilan jurus tombak (wengkouw) dengan langkah kuda-kuda 4/4 yang terdiri dari dua langkah ke kiri, dan dua langkah ke kanan. Tiap penari kabasaran memiliki satu senjata tajam yang merupakan warisan dari leluhurnya karena penari kabasaran adalah penari yang turun temurun.

Tarian ini merupakan tarian keprajuritan tradisional Minahasa, yang diangkat dari kata 'Wasal', yang berarti ayam jantan dipotong jenggernya agar sang ayam menjadi lebih garang dalam bertarung.

Situs wikipedia.org menjelaskan Kata 'Kawasalan' ini kemudian berkembang menjadi 'Kabasaran' yang merupakan gabungan dua kata 'Kawasal ni Sarian'. 'Kawasal' berarti menemani dan mengikuti gerak tari, sedangkan 'Sarian' adalah pemimpin perang yang memimpin tari keprajuritan tradisional Minahasa.

Perkembangan bahasa melayu Manado kemudian mengubah huruf W menjadi B sehingga kata itu berubah menjadi Kabasaran. Perubahan ini tidak memiliki keterkaitan apa-apa dengan kata 'besar' dalam bahasa Indonesia.

Pada zaman dahulu para penari Kabasaran, hanya menjadi penari pada upacara-upacara adat. Namun, dalam kehidupan sehari-harinya mereka adalah petani dan rakyat biasa. Apabila Minahasa berada dalam keadaan perang, maka para penari Kabasaran menjadi Waraney.

Tarian perang Minahasa Kabasaran 2016 Merdeka.com


Tarian ini umumnya terdiri dari tiga babak (sebenarnya ada lebih dari tiga, hanya saja, sekarang ini sudah sangat jarang dilakukan). Babak babak tersebut terdiri dari :

1. Cakalele, yang berasal dari kata 'saka' yang artinya berlaga, dan 'lele' artinya berkejaran melompat lompat. Babak ini dulunya ditarikan ketika para prajurit akan pergi berperang atau sekembalinya dari perang. Atau, babak ini menunjukkan keganasan berperang pada tamu agung, untuk memberikan rasa aman pada tamu agung yang datang berkunjung bahwa setan-pun takut mengganggu tamu agung dari pengawalan penari Kabasaran.

2. Babak kedua ini disebut Kumoyak, yang berasal dari kata 'koyak' artinya, mengayunkan senjata tajam pedang atau tombak turun naik, maju mundur untuk menenteramkan diri dari rasa amarah ketika berperang. Kata 'koyak' sendiri, bisa berarti membujuk roh dari pihak musuh atau lawan yang telah dibunuh dalam peperangan.

3. Lalayaan. Pada bagian ini para penari menari bebas riang gembira melepaskan diri dari rasa berang seperti menari 'Lionda' dengan tangan di pinggang dan tarian riang gembira lainnya. Keseluruhan tarian ini berdasarkan aba-aba atau komando pemimpin tari yang disebut 'Tumu-tuzuk' (Tombulu) atau 'Sarian' (Tonsea). Aba-aba diberikan dalam bahasa subetnik tombulu, Tonsea, Tondano, Totemboan, Ratahan, Tombatu dan Bantik. Pada tarian ini, seluruh penari harus berekspresi Garang tanpa boleh tersenyum, kecuali pada babak lalayaan, di mana para penari diperbolehkan mengumbar senyum riang.

Dalam perkembangannya kini, tarian ini tak hanya dimainkan oleh lelaki dewasa saja, namun juga dilakukan oleh para wanita dan anak-anak. [hhw]

Topik berita Terkait:
  1. Kesenian
  2. Tradisi Unik
  3. Manado
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini