Mengapa orang mau direkrut masuk jaringan penyebar hoax ?

Kamis, 1 Maret 2018 10:16 Reporter : Henny Rachma Sari
Mengapa orang mau direkrut masuk jaringan penyebar hoax ? AKBP Dilia. ©2018 Merdeka.com

Merdeka.com - Bareskrim Polri membongkar jaringan ujaran kebencian serta penyebar berita hoax di media sosial. Ada enam orang yang diciduk karena kerap menyebar ujaran kebencian dan berita hoax.

Keenamnya tergabung dalam kelompok Muslim Cyber Army (MCA) dimana mereka adalah adminnya. Polisi mengklaim, anggota MCA ada sekitar 177 orang.

Lantas, apa yang menyebabkan seseorang mau ikut dalam kelompok penyebar kebencian dan berita hoax tersebut?

Psikolog Baharkam Mabes Polri AKBP Dilia Tri Rahayu Setyaningrum menjelaskan dengan kecenderungan angka pengangguran di Indonesia yang cukup tinggi, tergabungnya banyak individu ke dalam kelompok ini akan makin besar.

"Karena bagaimana pun dasar mereka melakukan itu karena mereka mendapat suatu keuntungan dari keadaan yang tidak stabil," kata Dilia saat berbincang dengan merdeka.com, Rabu (28/2) malam.

Indonesia, dinilai pasar yang pas. "Mengingat jumlah penduduknya yang besar," sambungnya.

Polisi Wanita (Polwan) yang kini menjabat Kabag Psikolog Polda Jambi ini melanjutkan, jika ditarik ke belakang, melihat dari bahasanya saja, Muslim Cyber Army (MCA), sudah ada kata 'Army' di dalamnya.

"Itu menandakan kelompok tersebut me-label dirinya sebagai semacam kekuatan angkatan untuk tujuan agar terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan. Kemudian berakibat pada ketidakseimbangan pada suatu hal," bebernya.

"Dengan kata lain, kelompok ini terbentuk dengan tujuan tertentu," tegas wanita yang pernah menjadi pengajar di Universitas Bhayangkara ini.

Meskipun, lanjut Dilia, hingga kini motif sebenarnya terbentuknya kelompok MCA masih diselidiki polisi. "Berbeda dengan Saracen. Itu jelas motif ekonomi," ujarnya.

Selayaknya kelompok yang bertujuan, lanjut Dilia, sudah barang tentu membutuhkan sumber daya manusia. "SDM itu direkrut dengan cara tertentu dan karakter per orangan tertentu," tambahnya.

"Akhirnya setelah direkrut, mereka disamakan persepsinya melalui 'Group think'. Pikiran kelompok dengan tujuan tertentu ini-lah yang membuat mereka semakin kuat menyebar isu, fitnah lewat berita-berita hoax dalam skala lebih besar," bebernya.

Dilia menegaskan, anggota kelompok penyebar kebencian dan berita hoax cenderung tidak akan berani secara psikologis jika bergerak sendirian. "Karena kecenderungan jika tidak dipecah pikiran kelompok atau 'grup think' tadi," tegasnya.

"Maka caranya mereka saling menguatkan satu sama lain. Makin ada yg berani melakukan pemberitaan yang gila, makin yang lain terdorong untuk membuat sensasi berita lebih gila lagi dan seterusnya," tandasnya lulusan Profesi Kekhususan Klinis Dewasa Fakultas Psikologi Universitas Indonesia ini. [rhm]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini