Menelusuri Fakta Video Viral 'Polisi Pukuli Remaja' Usai Aksi 22 Mei
Merdeka.com - Potongan video berdurasi kurang dari dua menit beredar di media sosial. Isinya sejumlah polisi memukuli seorang diduga anak kecil pada Kamis (23/5). Lokasi pemukulan disebut-sebut di halaman Masjid Al-Huda, Jalan Kampung Bali XXXIII No.3, RT.2/RW.10, Kecamatan Tanah Abang, Kota Jakarta Pusat.
Merdeka.com dan Liputan6.com mencoba menelusuri dan mencari tahu fakta peristiwa tersebut. Suasananya persis sama gambar-gambar yang ada di rekaman video. Paling mencolok adalah bangunan Masjid Al-Huda dan lapangan parkir.
Di sepanjang jalan terdapat beberapa gang sempit. Salah satu gang tepat berada di sebelah Masjid. Di gang sempit terlihat bangunan semi permanen yang menjual minuman ringan dan mi siap saji. Tampak juga sejumlah anggota Brimob masih berjaga-jaga. Mereka mondar-mandir mengamati situasi di jalan.
Kami bertemu Tajudin, imam masjid Al-Huda. Saat kami menunjukkan video viral yang beredar, Tajudin mengaku mengenali sosok pria yang dipukuli itu. Bukan anak kecil seperti yang ramai disebar di media sosial.
"Dia itu tukang parkir, bukan lagi ngumpet. Emang dia kerja di situ," ucap Tajudin di lokasi, Jumat (24/5).
Tajudin membenarkan lokasi pemukulan berada di halaman parkir tepat di belakang masjid. Menurutnya, peristiwa pemukulan terjadi pada 23 Mei 2019 sekitar pukul enam pagi. Namun Tajudin tidak mengetahui detil identitas pria yang dipukuli.
Sejumlah orang turut diamankan. Termasuk petugas parkir SmartParking. Salah seorang pegawai yang enggan disebutkan namanya membenarkan ada beberapa orang rekannya yang ikut diamankan.
"Ada empat orang yang diamankan. Salah satunya atasan kami," singkat dia.
Polisi Lakukan Investigasi
Karopenmas Divhumas Polri, Brigjen Dedi Prasetyo mengatakan, Direktorat Siber Polri sedang melakukan penelitian atau investigasi terkait beberapa video yang menunjukkan petugas kepolisian melakukan penganiayaan terhadap massa aksi.
"Beberapa video-foto yang viral di media sosial, saya sudah sampaikan tadi pagi koordinasi langsung dengan Ditsiber untuk meneliti kembali video tersebut. Termasuk ada beberapa narasi yang sifatnya perlu kita klarifikasi lagi," kata Dedi di Humas Polri, Jakarta Selatan, Jumat (24/5).
"Nanti hasilnya kita sampaikan apabila ada data yang jelas dari proses investigasi dari Ditsiber," tambahnya.
Dedi mengaku belum mengetahui video-video yang menggambarkan petugas kepolisian melakukan penganiayaan terhadap para peserta aksi. Sehingga, Dedi belum bisa memastikan kebenaran video yang beredar itu.
"Makanya kita belum berani memastikan bahwa video tersebut kapan kejadiannya sebenarnya, kemudian dimana, kemudian siapa-siapa saja yang terlibat itu perlu klarifikasi. Ditsiber akan menganalisa secara komprehensif. Saya belum bisa menyampaikan sebelum ada proses pembuktian penelitian secara ilmiah," tegasnya.
(mdk/noe)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya