'Masa bodoh urusan akademik, kita ingin sembuh'

Senin, 9 April 2018 08:04 Reporter : merdeka.com
'Masa bodoh urusan akademik, kita ingin sembuh' Hendropriyono. ©2017 Merdeka.com/Ahda

Merdeka.com - Celana pendek selutut. Topi lapangan berwarna loreng. Bertuliskan 'Para Komando' di depannya. Duduk santai di depan rumah. Didampingi para ajudan dan asisten rumah tangga. Seraya menyaksikan puluhan ayam mutiara asal Papua peliharaan berebut makan.

Begitu sekiranya aktivitas Minggu sore ala Abdullah Makhmud (AM) Hendropriyono di kediamannya bilangan Senayan, Jakarta Pusat. Jenderal purnawirawan angkatan darat ini lalu mengajak Liputan6.com dan merdeka.com menuju ruang kerjanya. Beberapa buku dan kertas bertumpuk di meja kerjanya. "Ini draf buku selanjutnya, kalau enggak dikerjakan suka lupa," kata Hendro di tengah usianya menuju 73 tahun.

Hendro lalu bercerita bagaimana dokter Terawan, Kepala Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto, menyelamatkan dirinya dari ancaman stroke. "Sekarang saya bisa lari, angkat besi, saya masih joging sama cucu. Kalau enggak saya udah tepar," dia menuturkan.

Hendro mendengar dan mengenal dokter Terawan mengobati stroke sudah lama. Dia sendiri bersentuhan langsung dengan spesialis Radiolog Intervensi itu sejak 2014. Hendro saat itu merasakan sakit kepala bukan kepalang.

"Tanpa ragu saya langsung ke Terawan. 45 menit langsung seger. Keluarga yang nonton di jendela tepuk tangan, dia terbuka, bisa dilihat," dia menceritakan.

Bukan tanpa alasan Hendro memilih berobat langsung ke dokter Terawan saat sakit kepala menderanya. Dia mengatakan, beberapa kali dirinya mengantar pejabat negara ke dokter militer tersebut saat stroke menyerang.

Pengalaman pertamanya adalah saat mantan Mensesneg Moerdiono bertandang ke kediaman salah seorang mantan wakil presiden RI. Moerdiono saat itu menemukan mantan pejabat itu terjatuh di kamar mandi. Moerdiono saat itu langsung menelepon Hendropriyono.

"Dro, saya ketemu mantan bos kita, saya bawa lari ke RSPAD. Saya di sana kenal seorang dokter, Terawan, tapi pengobatannya masih belum diakui," kisah Hendro.

Hendro yang saat itu mendapati kabar tersebut langsung bergegas ke rumah sakit yang dituju. Namun dia terkejut, mantan wakil presiden, yang tidak ingin diungkap namanya, sudah bisa tertawa lepas.

"Dalam waktu 45 menit, saya ketemu di sana sembuh, ketawa-ketawa," ujar Hendro.

infografis dokter terawan

Infografis Dokter Terawan ©Liputan6.com dan Merdeka.com


Kali selanjutnya, beberapa pejabat negara dan tokoh silih berganti berobat kepada Terawan. Hendro menyebut, dalam sehari dokter yang sekarang menyandang pangkat mayor jenderal itu mencapai 20 orang.

Bagi Hendro, apa yang ditemukan Terawan bukan simsalabim dalam praktik kedokteran. Terawan dengan apa yang telah dilakukannya cukup membantu pengembangan dunia medis, yaitu Digital Substraction Angiography (DSA) Modifikasi Terawan atau populer disebut metode "cuci otak".

Oleh sebab itu, pada 2015 lalu Terawan mendapat anugerah penghargaan dari Hendropriyono Strategic Colsuting terkait temuannya itu. Dalam pemberian penghargaan tersebut turut didengarkan kesaksian pasien yang berhasil disembukan dokter Terawan, seperti Wapres Try Sutrisno, Butet Kertarejasa, dan beberapa testimoni pasien lainnya.

Kabar rekomendasi Majelis Etik Ikatan Dokter Indonesia, cukup membuat terkejut Hendro dan pasien-pasien Terawan yang berhasil disembuhkan. Mereka, kata Hendro, tidak akan tinggal diam bila Terawan dipecat dan dicabut izin praktiknya oleh IDI.

"Buat kita adalah satu kata, masa bodoh bukan urusan kita soal akademik, kita ingin sembuh dan dia (dokter Terawan) menyembuhkan kita," kata mantan Kepala BIN Jenderal Purnawirawan Hendropriyono. "Kami akan kumpul untuk bergerak membela dia kalau sampai dia dicabut izin praktiknya. Kasian sama rakyat," tambah dia.

Reporter: Andry Haryanto dan Angga Yudha Pratomo

Sumber: Liputan6.com dan merdeka.com [ang]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini