Mantan Mensesneg luncurkan buku 'Hari-hari terakhir bersama Gus Dur'
Merdeka.com - Mantan Menteri Sekretaris Negara era Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Bondan Gunawan, melakukan peluncuran buku yang berjudul 'Hari-hari Terakhir Bersama Gus Dur'. Dalam acara itu, pengamat politik sekaligus sastrawan, Prof Mochtar Pabotinggi dan mantan Ketua BPIP, Yudi Latief didapuk sebagai pembicaranya.
Bondan mengisahkan, awalnya buku itu akan diterbitkan ketika dirinya berusia 65 tahun. Namun, pembuatan buku tersebut sempat tertunda dikarenakan kedua orang tuanya meninggal dunia. Sehingga baru lah di umurnya yang ke-70 saat ini, buku itu rampung dibuatnya.
"Baru sekarang buku itu jadi," ujar Bondan di Museum Nasional, Jakarta Pusat, Rabu (22/7).
Dia menjelaskan, pokok buku itu berisi tentang bagaimana kelompok-kelompok yang berbeda dapat mewujudkan satu cita-cita bangsa dan negara, yakni untuk melahirkan bangsa yang lebih besar dan kuat.
"Yang paling pokok dalam buku ini, kami berangkat dari kelompok-kelompok berbeda tapi ketika berbicara bersama-sama tentang negara maka tidak ada perbedaan dan bagaimana kami bisa mewujudkan cita-cita kami. Kami jelas berbeda tapi demi satu cita-cita kami bisa bersama dan mewujudkannya," ucapnya menjelaskan.
Yudi Latief yang hadir di sana pun memberikan selamat atas diluncurkannya buku tersebut. Menurut dia, buku itu bisa menjadi alat bercermin untuk melihat demokrasi saat ini. Karenanya dia menilai karya Bondan Gunawan itu menjadi penting.
Dia menjelaskan, buku yang garis besarnya berisi masa-masa puncak pemerintahan otoritarian Soeharto sekaligus mimpi publik tentang demokrasi, dapat menjadi tolak ukur perkembangan demokrasi di Indonesia yang telah berjalan selama 20 tahun.
"Apakah perkembangan demokrasi sekarang sudah sesuai dengan ideal-ideal itu atau mengalami deviasi. Nah buku itu menjadi penting sebagai batu uji," kata Yudi.
Di kesempatan yang sama, Mochtar Prabotinggi juga merasa buku itu dapat dijadikan sebagai referensi.
"Orang objektif dan berani ungkapkan sesuatu apa adanya dan buku ini sangat berimbang dan jadi referensi," ujar Mochtar.
Mochtar pun merasa, buku-buku terkait Gus Dur, termasuk yang dituliskan Bondan, selalu dapat membuat pembaca merasakan kerinduan atas perginya Bapak Pluralisme Indonesia itu.
"Tiap kali terbit buku bagus tentang Gus Dur, tiap kali itu kita merasakan kerinduan kita atas sosok beliau. Kita sangat merasa kehilangan oleh beliau," imbuhnya.
Reporter: Yunizafira PutriSumber: Liputan6.com
(mdk/rzk)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya