Macan Kumbang Nusakambangan Turun Gunung

Senin, 13 Mei 2019 01:03 Reporter : Merdeka
Macan Kumbang Nusakambangan Turun Gunung Macan Kumbang di Nusakambangan. ©2019 Merdeka.com

Merdeka.com - Beberapa hari terakhir, berbagai linimasa media sosial di Cilacap dihebohkan oleh penampakan macan kumbang di Pulau Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah. Ada dugaan, habitat macan kumbang itu terganggu.

Sebenarnya, Nusakambangan adalah sebuah pulau yang berimpitan dengan Kota Cilacap. Sebuah selat memisahkan Pulau Jawa dengan Nusakambangan.

Segala hal di Nusakambangan begitu misterius. Nusakambangan tak hanya dikenal dengan penjara-penjaranya yang ketat. Rimba Nusakambangan adalah labirin yang tak tertembus.

Rimba itu adalah jaminan bahwa napi yang kabur tak akan sebegitu mudah menyeberang ke Pulau Jawa. Ia mesti menerabas semak dan hutan yang dipenuhi satwa liar.

Di antaranya, macan tutul (Panthera pardus) dan macan kumbang (Panthera pardus melas). Ada pula berbagai jenis ular. Ada pula pasir isap atau pasir hidup yang tersembunyi.

Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Tengah pada 2018 lalu memperkirakan ada 18 ekor macan tutul dan macan kumbang di Nusakambangan. Persebarannya merata, mulai sisi timur hingga barat Pulau Nusakambangan.

18 hewan soliter ini terdeteksi dari tujuh kamera pengintai (trap camera) yang terpasang di wilayah konservasi timur dan barat Nusakambangan. Foto diunduh pada Oktober 2017.

Setahun berlalu, foto-foto penampakan macan kumbang Nusakambangan kembali mencuri perhatian publik. Sebabnya, macan kumbang ini melintas di wilayah terbuka, kawasan yang terjamah manusia.

Belakangan, selain aktivitas enam lapas tertutup dan satu lapas terbuka Nusakambangan, beberapa wilayah pulau telah dirambah manusia. Sebagian kawasan adalah wilayah penambangan kapur untuk sebuah pabrik semen. Lainnya, dimanfaatkan warga untuk bercocok tanam.

Tak pelak kemunculan macan kumbang di Nusakambangan ini memicu kekhawatiran. Sebagian orang khawatir, ekosistem atau habitat macan kumbang terganggu.

Koordinator Polisi Hutan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Tengah wilayah Konservasi Cilacap, Endi Suryo mengakui beberapa wilayah di Nusakambangan telah dieksploitasi, baik penambangan maupun kawasan pertanian.

Akan tetapi, kawasan tambang dan pertanian itu dia bilang bukan bagian dari wilayah konservasi Nusakambangan. Di Nusakambangan, wilayah konservasi dibagi menjadi dua koridor, yakni koridor timur dan koridor barat.

Di koridor timur, wilayah konservasi seluas 200 hektare. Adapun di sisi barat, wilayah konservasi lebih luasa lagi, mencapai 600 hektare.

"Sementara ini masih bagus. Habitat dan ekosistemnya masih terjaga," katanya seperti ditulis, Minggu (12/5).

Bahkan, ia memperkirakan jumlah macan tutul dan macan kumbang di Nusakambangan semakin bertambah. Sebab, ketersediaan mangsa alaminya masih cukup.

Di hutannya yang perawan, Nusakambangan menyediakan bermacam makanan alami macan kumbang. Di antaranya, babi hutan, berbagai jenis primata, ular, kijang hingga, berjenis-jenis burung.

Ketersediaan makanan itu membuat populasi macan kumbang terjaga dan ada kemungkinan bertambah. Terlebih, Nusakambangan relatif aman dari perburuan liar.

"Dimungkinkan sudah bertambah banyak," ucapnya.

Namun begitu, Endi mengatakan ancaman perburuan liar tetap masih diwaspadai. Utamanya di wilayah pantai Nusakambangan yang mudah digunakan untuk bersandar perahu dan relatif terbuka.

"Bukan berarti bebas dari perburuan. Di pantai yang mudah untuk bersandar itu ancaman masih ada," ujarnya.

Ancaman lainnya adalah aktivitas pariwisata di sisi timur Pulau. Di tempat ini memang ada destinasi wisata alam dan sejarah, berupa benteng kuno peninggalan Portugis da Belanda yang pula digunakan oleh Jepang sekaligus.

Aktivitas pariwisata itu dikhawatirkan akan meluas dan mengganggu kawasan konservasi. Selain macan kumbang dan macan tutul, di Nusakambangan masih ada sejumlah hewan dilindungi lainnya, seperti lutung Jawa, Kijang.

"Landak juga masih ada, terus ada kalau burung aves itu juga masih ada seperti Raja Udang, Paruh bengkok, rangkong itu juga masih ada. Burung-burung pantai juga masih ada itu," dia menjelaskan.

Menurut dia, saat ini jumlah macam tutul dan macan kumbang di Nusakambangan masih terjaga. Akan tetapi, ia tak bisa memperkirakan secara pasti jumlah individu macan kumbang dan macan tutul yang hidup di Nusakambangan.

Dia menerangkan, pada 2019 ini, BKSDA hanya memasang satu kamera pengintai satwa liar. Sebab itu, masih sulit untuk memperkirakan jumlah yang ada di alam liar Nusakambangan.

Selain menjaga wilayah konservasi, BKSDA juga berkomunikasi dengan instansi yang berwenang di Pulau Nusakambangan. Yakni, Kementerian Hukum dan HAM untuk melindungi habitat dan ekosistem Nusakambangan terutama di kawasan yang telah ditetapkan sebagai wilayah konservasi.

Sumber: Liputan6.com [fik]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini