Kisah Pilu Tenaga Medis RSUD Banten Diusir Pemilik Kos Karena Rawat Pasien Corona

Kamis, 26 Maret 2020 15:54 Reporter : Dwi Prasetya
Kisah Pilu Tenaga Medis RSUD Banten Diusir Pemilik Kos Karena Rawat Pasien Corona Rumah sakit karantina pasein corona. ©2020 AFP PHOTO/CHAIDEER MAHYUDDIN

Merdeka.com - Tenaga medis sebagai garda terdepan penanganan pasien positif virus corona menghadapi banyak risiko. Baik secara kesehatan maupun kehidupan sosial. Berbagai kisah keluh kesah diceritakan sejumlah tenaga medis di berbagai daerah.

Tugas mulia mengobati pasien terinfeksi corona berbalas perlakuan tak mengenakan di lingkungan tempat mereka tinggal. Masyarakat dilanda rasa khawatir ikut tertular virus mematikan tersebut.

Salah satunya dialami tenaga medis Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Banten. Tenaga medis yang tidak ingin disebutkan namanya bercerita dirinya dan teman-teman seprofesi yang merawat pasien corona harus mencari indekos baru.

Hal ini karena sang pemilik kosan ogah menerimanya kembali karena alasan takut tertular. Kondisinya makin parah lantaran Pemprov Banten tidak memfasilitasi karantina dan kendaraan khusus bagi tenaga medis sebagaimana standard operasional prosedur (SOP) penanganan pasien.

"Saya dan kawan-kawan tidak dapat kosan. Alasan pemilik kosan khawatir ada penularan, setelah tahu kami bekerja menangani pasien Covid-19," katanya Kamis (26/3).

Akibat ditolak pemilik kos, dia terpaksa pulang ke rumah dan tinggal bersama suami dan kedua anaknya. "Jujur saya takut menulari keluarga karena harus bolak-balik dengan kendaraan (motor) sendiri dari rumah sakit ke rumah bersama keluarga. Apa boleh buat karena tidak ada tempat khusus buat kami," ujar dia.

Ibu dua anak itu mengaku pernah terpikir untuk menggunakan kendaraan angkutan online, namun hati nuraninya tak kuasa karena perasaan takut menularkan virus kepada pengemudi dan penumpang lain.

"Enggak ada angkutan antar jemput juga buat kami. Terpaksa saya harus pakai motor yang biasa digunakan anak untuk sekolah," ujarnya.

1 dari 1 halaman

Beberapa fasilitas yang dijanjikan akan diterima petugas medis juga hingga kini tak kunjung tersedia. Pola kerja yang sesuai standar keamanan pasien infeksius seperti 14 hari kerja, 14 hari karantina dan 14 di rumah hanya tinggal wacana.

"Saya lima hari kerja, bolak-balik rumah, begitu seterusnya," katanya.

Gelombang pengunduran diri massal dari petugas kebersihan rumah sakit menambah beban pekerjaan tenaga medis. Selain merawat mereka yang terinfeksi, para tenaga medis juga harus mengurusi sampah-sampah medis bekas pasien.

"Sebelum efektif jadi RS Covid-19, ada sekitar 40 orang mundur kerja. Mereka semuanya tenaga outsourcing. Akibatnya kami yang harus membuang sendiri sampah medis. Dengan APD (alat pelindung diri), bayangkan harus berjalan sampai ke IPAL," kata dia.

Di tengah pembagian 4 shift, shift 3 yang bekerja dari pukul 17.00 hingga 01.00 dini hari kadang juga tak mendapat makan.

"Alasannya dari Dinkes tidak ada orang yang mengantar karena malam," ujarnya.

Dia bersama kawan medis lainnya meminta kepada Pemprov Banten agar serius dalam menerapkan standar keamanan penanganan penyakit infeksius.

"Kami tidak meminta fasilitas nyaman, tapi kami minta penuhi saja standar keamanan supaya penularan tidak semakin luas. Yang akan menjadi korban kan masyarakat Banten juga, khususnya di Kota Serang," kata dia. [ray]

Baca juga:
Anies Sebut Jakarta Lengang: Saya Apresiasi Masyarakat yang Memilih Tetap di Rumah
Berkah Pedagang Jamu Rempah di Tengah Pandemi Covid-19
Isolasi Diri Setelah dari Luar Kota, Titi Kamal Menangis Karena Rindu Anaknya
Dua PDP Virus Corona di Cianjur Dirujuk ke RS Darurat Wisma Atlet Kemayoran
Menengok Gudang Darurat PMI untuk Penanganan Covid-19

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini