Kisah Nenek Elisabet di Pulau Paling Selatan Indonesia, Sebatang Kara di Gubuk Reot

Selasa, 9 Maret 2021 01:03 Reporter : Ananias Petrus
Kisah Nenek Elisabet di Pulau Paling Selatan Indonesia, Sebatang Kara di Gubuk Reot Nenek Elisabet di Rote Ndao. ©2021 Merdeka.com/ananias petrus

Merdeka.com - Terhimpit kemiskinan, seorang lansia berusia 77 tahun di sebuah kampung kecil di pulau paling selatan Indonesia, tinggal dalam sebuah gubuk reot.

Lansia yang biasa dipanggil nenek Bet ini tinggal di Dusun Danolon, Desa Mukekuku, Kecamatan Rote Timur, Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur.

Di usianya yang sudah uzur, nenek yang mempunyai nama lengkap Elisabet Liman ini, terpuruk dalam kesendiriannya.

Rumah reot berukuran 4x4 meter milik nenek Bet jauh dari kata layak. Atapnya terbuat dari daun lontar, sedangkan dindingnya menggunakan pelepah lontar dan berlantai tanah.

Di dalam gubuk tersebut hanya ada sebuah balai-balai, tempat nenek merebahkan tubuhnya setiap malam.

nenek elisabet di rote ndao
©2021 Merdeka.com/ananias petrus

Tempat untuk mandi, cuci dan kakus (MCK) pun tidak ada. Semak belukar di dekat gubuk reot itu dijadikan kakus oleh nenek Bet. Untuk makan sehari-hari, nenek Elisabet mengharapkan uluran tangan dari tetangganya.

Filipus lassi, tetangga terdekat nenek Elisabet mengatakan, walaupun tidak ada hubungan darah namun sebagai tetangga terdekat, Ia prihatin dengan kondisi yang dialami nenek Elisabet.

Menurut Filipus, gubuk yang ditempati nenek saat ini merupakan hasil gotong royong bersama tetangga lainnya.

"Soal makan dan minum, saya dengan istri selalu memperhatikan nenek Elisabet, bahkan ini rumah saja dan tetangga yang bikin," Ungkapnya, Senin (8/3).

Menurut Filipus, pemerintah desa pernah menghubungi nenek Elisabet untuk memberikan bantuan rumah layak huni. Namun kendala status tanah yang bukan milik sendiri, menjadi kendala rumah bantuan pemerintah itu didapatkan.

"Saya selaku pemilik tanah bersedia menghibahkan tanah, namun kendala utamanya adalah masalah swadaya. Untuk makan minum saja sulit apalagi swadaya," Jelas Filipus.

Dia berharap, ada solusi dari pemerintah desa, pemerintah Kabupaten maupun pihak swasta yang peduli guna meringankan beban hidup nenek Elisabet. [bal]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini