Kisah Anggota KPPS Dikeluarkan dari Pekerjaan Karena Sakit Terlalu Lama Usai Pemilu
Merdeka.com - Pemilu serentak memang sudah berlalu. Tidak sedikit petugas KPPS jatuh sakit, bahkan meninggal akibat kelelahan.
Namun lain lagi dialami Syelvia Ningsih Kalauw (26), petugas KPPS di Samarinda. Dia diberhentikan dari pekerjaannya di kantor perusahaan ekspedisi, lantaran jatuh sakit usai merampungkan perhitungan suara di TPS 22 lebih dari 24 jam.
Merdeka.com menyambangi rumah yang dia tinggali bareng suaminya, Samsul (30), di Jalan Padat Karya, Sempaja Timur, Samarinda Utara. Meski bicaranya lugas, sesekali dia terlihat seperti meringis menahan sakit.
Perhitungan suara usai pemungutan suara Rabu (17/4) lalu, harus dia rampungkan hingga jelang tengah hari, Kamis (18/4). Padahal, dia sudah harus masuk kerja sehari setelah Pemilu, meski masih menjalani training.
"Sebelum saya keterima bekerja 8 April, saya sudah jelaskan bahwa saya anggota KPPS sejak Januari 2019," kata Syelvia, dalam perbincangan bersama merdeka.com, Sabtu (4/5) sore.
Usai Kamis (28/4), fisik Syelvia mulai drop. Dalam 2 pekan terakhir, ditemani sang suami dia sudah 2 kali berobat dengan mengeluarkan biaya sekitar Rp 1,1 juta. Padahal, honor yang dia terima sebagai anggota KPPS hanya sekitar Rp 400 ribuan.

"Saya dinilai terlalu banyak izin. Tapi saya kan berobat, semua ada buktinya. Sebenarnya, saya harus opname. Tapi karena soal biaya, saya rawat jalan saja. Sampai tanggal 28 April kemarin, saya dapat WhatsApp dari teman kantor kalau saya tidak lagi bekerja di kantor," tambahnya.
Suami Syelvia, Samsul, menambahkan istrinya didiagnosa mengalami pembengkakan rahim. "Awalnya setelah tugas di KPPS, selesai itu sakit mulai lambung, demam, batuk, flu, sampai nyeri di perut. Saya bawa ke dokter kandungan, ada pembengkakan di rahim," kata Samsul, yang kesehariannya sebagai guru di sekolah swasta di Samarinda itu.
"Padahal, 2 tahun menganggur, istri saya baru dapat kerjaan. Setelah pemberhentian itu, sekarang menganggur lagi. Dia bilang tidak apa-apa. Tapi saya melihat, itu seperti menjadi beban pikiran dia," ungkap Samsul.
Dalam kesempatan itu, Ketua KPPS Muhammad Thoyib (49) memastikan, sekitar Februari 2019 dilakukan pemeriksaan kesehatan semua petugas KPPS.
"Hasilnya saat itu, semua dinyatakan sehat. Sulit cari orang yang mau jadi petugas KPPS ini. Jadi, anggota KPPS yang ada ini, termasuk ibu Syelvia, berusia relatif muda dan enerjik. Saya tidak menyangka karena sakit, Bu Syelvia jadi kehilangan pekerjaannya," kata Thoyib.
(mdk/lia)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya