Kantongi RP 2,7 M per bulan, bos pabrik PCC dibidik TPPU

Selasa, 5 Desember 2017 03:00 Reporter : Arie Sunaryo
Kantongi RP 2,7 M per bulan, bos pabrik PCC dibidik TPPU Penggerebekan pabrik PCC di Solo. ©2017 Merdeka.com/Arie Sunaryo

Merdeka.com - Badan Narkotika Nasional (BNN) menggerebek pabrik tablet mengandung paracetamol caffein carisoprodol (PCC) di Solo, Minggu (3/12) kemarin. Sebanyak 11 orang diamankan dari pabrik yang ada di Semarang dan di Jalan Dr Setia Budi 66, Gilingan, Banjarsari Solo. Dua tersangka merupakan penyandang dana dan pemilik pabrik PCC tersebut.

"Kita menangkap 11 pelaku, yang dua bandarnya atau penyandang dana dan yang punya pabrik. Yang satu atas nama Djoni, orang ini punya senjata api dan sedang kita dalami. Terus ini juga kita menemukan tersangka atas nama Sri Anggoro alias Ronggo yang tinggalnya di Tasik (Tasikmalaya). Kemarin waktu kita gerebek hampir melarikan diri, dan mau melarikan diri ke Singapura. Paspor yang kita sita tertera dia berkali-kali masuk China dan India," ujar Kepala BNN Komjen Pol Budi Waseso (Buwas) di lokasi penggerebekan, Solo, Senin (4/12).

Buwas menyebut, bahan baku pembuatan PCC didatangkan dari kedua negara tersebut. Tersangka Anggono diduga sebagai orang yang bertugas berbelanja bahan baku pembuatan PCC ke kedua negara.

"Anggono inilah yang langsung membeli atau berbelanja bahan baku PCC ke China dan India," ujarnya.

Lebih lanjut, Buwas mengatakan, berdasarkan buku catatan jumlah pemesanan, pembuatan dan pendistribusian yang ditemukan dapat diketahui bahwa produksi PCC di Solo dilakukan sejak 8 bulan lalu. Berdasarkan catatan yang ada, Buwas memprediksikan, dalam sebulan pabrik tersebut bisa menghasilkan bersih sebesar Rp 2,7 miliar.

"Kita prediksi sementara saja, kasar saja, berdasarkan hasil telisik kita, dalam sebulan pabrik inu bisa menghasilkan bersih Rp 2,7 miliar. Itu yang diterima Djoni. Setelah dibagi-bagi kepada yang lain," urainya.

Buwas mengatakan pihaknya sedang mendalami kemungkinan adanya tindak pidana pencucian uang (TPPU). Pasalnya saat penggerebekan pihaknya menemukan banyak buku tabungan, BPKB mobil dan kartu atm dari berbagai bank di lokasi.

"Ini akan kita telusuri untuk TPPU-nya, karena uangnya besar sekali," katanya.

Menurut Buwas, berdasarkan pengakuan para tersangka, pabrik tersebut baru beroperasi selama 6 bulan. Namun ia tidak mempercainya. Karena mesin dan peralatan yang digunakan berteknologi modern dan bukan manual. Yang berarti sudah merupakan pabrik yang besar. [rzk]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini