Kenapa di Indonesia sarjana banyak yang menganggur?

Reporter : Agib Tanjung | Selasa, 21 Mei 2013 02:04
Kenapa di Indonesia sarjana banyak yang menganggur?
Ilustrasi sarjana. ©Shutterstock.com/J. Henning Buchholz

Merdeka.com - Anggota Dewan Pendidikan Tinggi (DPT), Sofian Effendi menjelaskan bahwa saat ini pendidikan tinggi di Indonesia tidak berkembang. Sebabnya selama ini lulusan dari banyak perguruan tinggi yang ada di Indonesia tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Hal ini disampaikan oleh Sofian Effendi dalam Workshop UU Pendidikan Tinggi (Dikti).

Cara Irit Pererat Pertemanan dengan Jalan-JalanMenurutnya, sekarang ini ada kecenderungan ketidaksesuaian tenaga-tenaga yang diperlukan oleh masyarakat. Masyarakat lebih membutuhkan mahasiswa yang menjadi teknisi daripada akademisi.

"Masyarakat kita itu sebenarnya lebih banyak membutuhkan teknisi daripada akademisi. Akibatnya apa? Sekarang masih banyak sarjana pengangguran, yang dihasilkan dari perguruan tinggi ini adalah yang tidak sesuai dari kebutuhan masyarakat. Masyarakat lebih butuh teknisi, tapi perguruan tinggi lebih banyak menghasilkan akademisi," kata Sofyan di Hotel Atlet Century Park, Senayan, Jakarta (20/5).

Sofyan memaparkan, di Indonesia saat ini lulusan perguruan tinggi dengan latar jurusan akademik berjumlah 82.5 persen dan hanya 17,5 persen yang berlatar belakang vokasi.

"Padahal, kebutuhan yang dibutuhkan oleh masyarakat saat ini adalah 75 persen, yang di mana itu adalah tenaga teknisi," ujar Sofian.

Mantan rektor UGM ini juga menilai saat ini industri-industri di Indonesia sudah semakin berkembang. Sudah seharusnya masyarakat mempunyai SDM yang baik, seperti mahasiswa-mahasiswa yang didukung dengan keahlian teknis. Akan tetapi, saat ini banyak perusahaan-perusahaan di Indonesia yang sudah mendatangkan teknisi-teknisi dari luar negeri.

"Bagaimana kalau begini, sekarang sudah ada kurang lebih 100 ribu teknisi asing yang didatangkan ke Indonesia. Mahasiswa kita pada ke mana? Sudah saatnya ada kebijakan yang baik dari perguruan tinggi untuk meningkatkan kualitas-kualitas mahasiswanya. Yang jelas tanggung jawab pemerintah di sini juga diperlukan, tanggung jawab pemerintah juga harus ada," papar Sofian di akhir wawancara.

Baca juga:
Rata-rata pendidikan orang Indonesia 5,8 tahun atau tak lulus SD
JK sarankan Ponpes beri pendidikan dunia usaha
UN bukan tolok ukur suksesnya pendidikan di Indonesia

[ian]

Rekomendasi Pilihan

KUMPULAN BERITA
# Pendidikan

Komentar Anda



BE SMART, READ MORE