Kejaksaan Tahan Bos Kontraktor Tersangka Keempat Korupsi Proyek Pasar di Jember

Rabu, 12 Februari 2020 00:34 Reporter : Muhammad Permana
Kejaksaan Tahan Bos Kontraktor Tersangka Keempat Korupsi Proyek Pasar di Jember Plh Kasi Intel Kejari Jember, Muhammad Jufri. ©2020 Merdeka.com/Muhammad Permana

Merdeka.com - Kejaksaan Negeri (Kejari) Jember kembali menetapkan satu tersangka baru dalam korupsi proyek revitalisasi Pasar Manggisan senilai total Rp7,839 miliar. Selasa (11/02) petang, Irawan Sugeng Widodo alias Dodik, Direktur PT Maksi Solusi Enjinering ditetapkan menjadi tersangka keempat dan langsung ditahan oleh penyidik kejaksaan. Tersangka berperan sebagai konsultan perencana proyek gagal tersebut.

Nama Dodik mencuat beberapa hari terakhir, karena disebut dalam proses Angket DPRD Jember sebagai pihak, yang mengalirkan dana untuk bupati Jember, dr Faida.

Pantauan Merdeka.com, Dodik sudah berada di dalam ruang pemeriksaan Kejari Jember sejak pukul 09:00 WIB dan baru keluar menuju mobil tahanan pada sekitar pukul 19:00 WIB. Mengenakan topi dan masker muka, Dodik hanya bungkam ketika diberondong pertanyaan oleh para pewarta. Termasuk soal aliran dana korupsi yang disebut-sebut juga mengalir ke bupati.

Sebelumnya, anak buah Dodik yang sudah lebih dulu menjadi tersangka, Muhammad Fariz Nurhidayat "bernyanyi" dengan menyebut bosnya mengendalikan banyak proyek besar di lingkungan Pemkab Jember. Nyanyian tersebut disampaikan Fariz kepada Panitia Angket DPRD Jember yang memeriksanya di dalam tahanan Lapas Jember.

Rapat perencanaan berbagai proyek dilakukan di Pendopo Wahyawibawagraha (rumah dinas bupati Jember) dengan melibatkan beberapa pejabat. Fariz juga diperintahkan Dodik untuk menyisihkan Fee sebesar 10 persen dari setiap proyek yang digarap, kepada Bupati, dr Faida " tutur Wakil Ketua Panitia Angket, David Handoko Seto, usai menemui Fariz di dalam Lapas Jember pada 6 Februari 2020 lalu.

David meyakini Fariz berkata jujur soal peran Dodik. Selain dalam kasus Pasar Manggisan, perusahaan Dodik juga disebut-sebut terlibat dalam banyak proyek di Pemkab Jember. Panitia Angket menyebut salah satunya adalah proyek pembangunan gedung 4 lantai di RSD dr Soebandi yang hampir dipastikan mangkrak.

"Pengakuan ini dilakukan di bawah sumpah. Kita juga menanyai dalam beberapa pertanyaan selama beberapa jam, dan jawabannya selalu konsisten. Dia tidak merasa tertekan. Saya pikir, Fariz layak jadi Whistleblower dan akan kita dorong untuk dapat perlindungan dari Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK)," lanjut David.

Hanya berselang beberapa jam setelah mencuatnya pengakuan Fariz lewat Panitia Angket, Bupati Jember dr Faida langsung membantah keras. Namun Faida tidak membantah secara detail tuduhan tersebut. "Saya tidak perlu merespon berlebihan segala tuduhan di luar prose hukum. Jelang momen Pilkada, kental aroma pembunuhan karakter," tutur Faida dalam pernyataan tertulisnya yang disampaikan Humas Pemkab Jember.

Faida sudah memastikan akan maju kembali sebagai calon bupati dari jalur independen. Di sisi lain, hingga kini Faida juga BELUM mengakui legalitas Panitia Angket DPRD Jember yang sudah berjalan beberapa minggu itu.

1 dari 1 halaman

Respon Kejaksaan

Di sisi lain, Kejaksaan belum menyikapi serius nyanyian Fariz itu. Plh Kasi Intel Kejari Jember, Muhammad Jufri menyebut, pemeriksaan belum mengarah pada apa yang disampaikan Fariz kepada Panitia Angket tersebut. "Tadi tidak ditanyakan soal itu (Fee 10 persen untuk bupati, red). Ya kita lihat nanti bagaimana pengembangan penyidik," ujar Jufri.

Pemeriksaan penyidik salah satunya mengarah pada Fee yang diberikan oleh Dodik selaku Direktur PT Maksi Solusi Enjinering, kepada perusahaan yang dipinjam benderanya, untuk menggarap perencanaan Proyek revitalisasi Pasar Manggisan. Perusahaan yang dipinjam benderanya itu adalah CV Menara Cipta Graha. "Dia mengakui, bahwa setiap proyek yang dikerjakan, ada Fee antara 7 hingga 8 persen yang diberikan kepada perusahaan yang dipinjam benderanya. Selebihnya, masuk ke kantong dia pribadi. Sementara hanya itu saja pengakuan dia," tutur Jufri.

Selain Dodik dan Fariz, dua tersangka lain yang sudah ditetapkan sebagai tersangka kasus korupsi Pasar Manggisan adalah mantan Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Anas Ma'ruf dan kontraktor pelaksana bernama Edy Shandi.

Selain itu, beberapa pejabat Pemkab Jember juga sudah diperiksa kejaksaan sebagai saksi. Mereka adalah mantan Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Jember, Siti Nurul Qomariah; Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Bina Marga dan Sumberdaya Air (DPUBMSDA), Yessiana Arifa; Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Achmad Imam Fauzi; serta Kabag Umum Pemkab Jember, Danang Andriasmara.

Proyek revitalisasi atau pembangunan ulang Pasar Manggisan ini berlangsung tahun 2018 dengan total nilai proyek mencapai Rp7,839 Miliar.

"Perkiraan kerugian kasus Korupsi Pasar Manggisan ini, kurang lebih mencapai Rp685 juta," jelas Kasi Pidsus Kejari Jember, Setyo Adhi Wicaksono saat penetapan tersangka pertama pada Rabu (23/01) lalu.

Proyek revitalisasi pasar tradisional menjadi salah satu program yang digaungkan oleh Bipati Jember, dr Faida sebagai salah satu dari 22 pemenuhan janji kamapnyenya. Proyek Pasar manggisan adalah satu dari 12 pasar tradisional yang direvitalisasi oleh Pemkab Jember. [gil]

Baca juga:
Panitia Angket DPRD: Bupati Jember Diduga Terlibat Korupsi Pasar Manggisan
Tiga Pejabat Pemkab Diperiksa di Kejari Jember Terkait Korupsi Proyek Pasar
PNS Diknas Ditetapkan Sebagai Tersangka Korupsi SD Ambruk di Pasuruan
KPK Periksa Pejabat PU dan Mantan Kadis DPKAD Terkait Kasus Suap dan Korupsi
KPK Periksa Bupati Sidoarjo dan Mantan Anggota DPRD Bandung

Topik berita Terkait:
  1. Kasus Korupsi
  2. Jember
Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini