Kasihan, bocah di Kintamani ini terpaksa dikurung karena suka hilang

Kamis, 12 Januari 2017 03:03 Reporter : Gede Nadi Jaya
Putu Robi. ©2017 Merdeka.com/gede nadi jaya

Merdeka.com - Putu Robi bocah asal Banjar Bugbugan, Desa Batur Selatan, Kintamani Bangli ini akhirnya bisa berlarian di halaman rumahnya. Selama ini, laki-laki berusia tujuh tahun itu lebih banyak dikurung di kamar seorang diri karena sang ayah, Nengah Dasi (30) harus bekerja sebagai buruh serabutan.

Selama ini, Robi memang dibesarkan seorang diri oleh ayahnya. Sang ibu pergi meninggalkan mereka sejak usia Robi 2 tahun.

"Sebelumnya kalau bapaknya kerja. Dia di kurung dalam kamar. Jam pulang istirahat makan, bapaknya datang kasih makan, terus berangkat lagi," cerita Nengah Manis (24), ibu Tiri Robi, saat ditemui wartawan, Rabu (11/1).

Dasi memilih menikah lagi dengan Manis sekaligus agar ada yang mengurus buah hatinya. Apalagi, ananda tercinta diketahui mengidap autis. Hal itu mulai terlihat saat Robi masih berusia 2 tahun dan terlihat sangat hiperaktif.

"Sekarang ada saya tidak lagi. Tapi aduh repotnya, harus sabar," ungkap Manis.

Manis menceritakan, pernikahannya dengan Dasi terjadi awal tahun ini. Dikatakan dia, sebelum mereka menikah, Robi selalu dikurung dalam kamar berukuran 3x4. Hal itu terpaksa dilakukan karena Robi sering menghilang jika tinggal di rumah sendirian.

Kata dia, ketika masih dikurung dalam kamar, Robi jarang berpakaian. Semenjak dia menikah dengan ayahnya Robi, barulah bocah itu mau sedikit demi sedikit diatur. Dia mulai mau berpakaian.

Dia mengisahkan, pernah suatu kali Robi kabur ke desa tetangga karena sang ayah lupa menutup pintu depan rumah. Bahkan, Robi sering berusaha memanjat tembok rumah.

"Dia ditemukan berjalan tanpa pakaian di Desa Bayung Gede. Untung seseorang yang kenal membawanya kembali pulang," kata dia.

Secara terpisah Kepala Dinas Sosial (Kadisos) Bangli, Nengah Sukarta, mengaku pernah menawarkan agar bocah itu dibawa ke panti asuhan sebelum memiliki ibu tiri.

"Anaknya itu memang sering ditinggalkan sendirian dalam rumah. Dia dikurung karena terlalu agresif. Ayahnya menolak saat dulu mau dibawa ke panti asuhan di Klungkung. Alasannya tidak tega karena tidak ada yang jaga," jelas Sukarta. [lia]

Topik berita Terkait:
  1. Kisah Ironis
  2. Jakarta
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Subscribe and Follow

Temukan berita terbaru merdeka.com di email dan akun sosial Anda.