Kalah dihitung cepat, Dedi Mulyadi ngaku akan fokus kegiatan sosial

Jumat, 29 Juni 2018 20:29 Reporter : Aksara Bebey
Kalah dihitung cepat, Dedi Mulyadi ngaku akan fokus kegiatan sosial Dedi Mulyadi. ©2018 Merdeka.com/Bram Salam

Merdeka.com - Calon Wakil Gubernur Jawa Barat nomor urut 4, Dedi Mulyadi yang berpasangan dengan Deddy Mizwar menempati urutan ketiga dalam hasil hitung cepat berbagai lembaga survei. Mengenai hal itu, Dedi menilai bahwa hidup harus terus berjalan dan kegiatan sosial tidak boleh berhenti.

"Politik hanya jalan saja, enggak ada politik pun kita tetap jalan buat kebaikan," kata Dedi Mulyadi, Jumat (29/6).

Usai menyatakan diri kalah dalam Pilgub Jabar, Dedi Muyadi mengaku akan terus fokus dalam kegiatan sosial. Ada beberapa agenda yang sudah ia jadwalkan, di antaranya membangun rumah bagi warga yang tinggal di wilayah kumuh, khususnya di sekitar Sungai Citarum.

Ia akan mengajak relasinya untuk merealisasikan program tersebut. Rencana pertama dilakukan di wilayah Dayeuh Kolot, Kabupaten Bandung.

"Ingin menambah jumlah rumah bagi peramah banjir (relawan yang membantu jika banjir). Baru bangun satu (rumah). Saya janji akan membangun rumah di seluruh kawasan pinggiran Citarum secara bersama-sama. Saya akan mengajak teman yang punya kemampuan," terangnya.

Selain rumah, ia berencana membangun klinik gratis bagi masyarakat tidak mampu di titik daerah kumuh. Dedi mengaku sudah mengumpulkan 10 dokter dan ambulans.

"Ambulans juga sudah disiapin. Ini untuk pemenuhan rakyat kecil mendapat akses pengobatan gratis. Daerah Karawang atau Bekasi itu rumah kumuhnya banyak," katanya.

Agenda selanjutnya yang ingin direalisasikan adalah memberi pelatihan kepada petani sekaligus membuat gerakan lumbung padi. Program itu akan dilakukan di daerah utara Jawa Barat, seperti Subang, Indramayu, Karawang dan sebagian Bekasi.

"Masih ada warga di sana yang mengonsumsi raskin, padahal daerah tersebut penghasil beras terbaik. Kita akan membuat beberapa desa menjadi percontohan bagaimana membangun lumbung beras di wilayahnya masing-masing, agar nanti tidak makan raskin lagi," imbuhnya.

Dedi Mulyadi mengklaim kehidupan dengan masyarakat kecil suda bagian hidupnya. Ia tidak memusingkan pihak-pihak yang menganggap gerakan sosialnya merupakan bagian kepentingan politik.

"Banyak yang menafsirkan apa yang saya lakukan itu untuk kepentingan politik. Tetapi nanti juga lama-lama orang makin tau apa yang saya lakukan sebenarnya bukan agenda politik," ujarnya.

Untuk meluruskan anggapan tersebut, harus ada pembelajaran bagi publik dalam menilai pemimpin secara sempurna, bukan menilai menjelang pemilihan.

Ia tidak menampik bahwa saat ini pola politik dibangun dengan serangan fajar. Kalau hal ini tetap dirawat, maka makin lama pemimpin akan malas bertemu dengan masyarakat. Mereka akan membuat kesimpulan berpolitik cukup tiga hari jelang pemilihan saja.

Apalagi Pemilihan Legislatif akan dihelat kurang dari satu tahun lagi. Ia meminta masyarakat harus memiliki kecerdasan dalam menentukan pilihan.

"Masyarakat jangan terjebak dalam istilah saya itu politik prostitutif. Mereka (Politisi) mendatangi (rakyat), memberi, meniduri, ditinggalkan, nanti datang lagi kalau butuh lagi," ucapnya.

"Ini harus jadi fokus kita, mari berpolitik secara baik, politik kemanusian. Politik itu adalah will untuk berbuat kebaikan kepada rakyat kecil," imbuhnya. [eko]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini