Gugus Tugas Covid-19: New Normal Bukan Euforia
Merdeka.com - Pemerintah telah mengizinkan sejumlah daerah untuk menerapkan New Normal atau tatanan kehidupan baru. Juru Bicara Pemerintah Percepatan Penanganan Covid-19 Achmad Yurianto meminta, keputusan ini tidak disalahartikan.
"Ini bukan euforia yang diekspresikan dengan merasa bebas, bebas untuk melakukan apapun, bertindak apapun, siapapun dengan abaikan protokol kesehatan, dengan abaikan kebiasaan baru yang harus dibentuk," katanya saat Konferensi Pers di Gedung BNPB, Selasa (2/6).
"Apabila kemudian ada pusat perbelanjaan sudah dibuka bukan berarti miliki kebebasan bawa orang tua kita, yang punya komorbid, hipertensi, sakit ginjal, kencing manis untuk kemudian berbondong-bondong ke pusat perbelanjaan atau bawa balita kita. Resiko akan semakin besar," dia menambahkan.
Yurianto mengatakan, keluarga memegang peran penting dalam memutuskan mata rantai Covid-19 di tengah rencana kebijakan new normal.
"Kami minta para keluarga betul-betul melindungi anggota keluarganya," ujarnya.
Menurutnya, adaptasi kebiasaan baru ini mutlak harus dijalankan. Basis perubahan ini tentunya pada edukasi yang terus menerus dilakukan oleh keluarga.
"Oleh karena itu, kita sangat berharap peran keluarga dalam adaptasi perubahan baru sesuatu yang harus dilakukan bersama," terangnya.
Yurianto mengingatkan, masyarakat untuk mematuhi pedoman new normal yang disusun oleh pemerintah. Tujuannya mencegah munculnya kasus konfirmasi positif Covid-19 baru.
"Anak-anak kita termasuk rentan dengan penyakit ini, mungkin dia seharian nggak keluar rumah, seharian di rumah tapi orang tua atau saudaranya dewasa yang aktif berada di luar bisa saja tak menyadari bawa penyakit ke rumah. Oleh karena itu beberapa anjuran yang kita saksikan bersama hendaklah jadi pegangan kita agar tak terjadi penularan," tutupnya.
Reporter: Ady AnugrahadiSumber: Liputan6.com
(mdk/fik)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya