Digitalisasi sebagai Upaya Pelestarian Manuskrip Kuno Keraton Yogyakarta

Sabtu, 20 Februari 2021 02:30 Reporter : Purnomo Edi
Digitalisasi sebagai Upaya Pelestarian Manuskrip Kuno Keraton Yogyakarta Keraton Yogyakarta. ©2020 liputan6.com

Merdeka.com - Keraton Yogyakarta terus berupaya melestarikan sejumlah peninggalan yang menjadi koleksinya. Salah satu upaya pelestarian ini dengan mendigitalkan manuskrip kuno.

Penghageng Kawedanan Hageng Nitya Budaya Kraton Ngayogyakarta, Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Bendara mengatakan, proses digitalisasi manuskrip kuno milik Keraton Yogyakarta telah dilakukan sejak 2018. Prosesnya masih berlanjut hingga kini.

Putri bungsu Raja Keraton Yogyakarta ini menerangkan bahwa manuskrip kuno milik Keraton Yogyakarta ini terdiri dari berbagai bentuk. Ada yang berupa babad, arsip, maupun naskah lainnya.

Bendara menjabarkan, koleksi manuskrip milik Keraton Yogyakarta berisi banyak hal, mulai tata pemerintahan hingga kesenian.

Saat ini ada 600 manuskrip kuno yang tersimpan di keraton. Sebanyak 400 manuskrip tentang pemerintahan berada di Perpustakaan Widyo Budoyo dan 200 manuskrip tentang kesenian berada di Perpustakaan Krido Mardowo.

"Kalau manuskrip sudah 95 persen terdigitalisasi semua. Hanya tinggal yang terlalu rapuh dan yang terlampau besar yang belum didigitalkan," ujar Bendara, 11 Februari 2021 lalu.

Koleksi manuskrip milik Keraton Yogyakarta yang tertua adalah naskah yang dimiliki Sultan Hamengku Buwono I. Manuskrip ini terdiri dari dua naskah pusaka.

Bendara mengakui ada sejumlah manuskrip milik Keraton Yogyakarta yang hilang. Hilangnya koleksi ini tak lepas dari peristiwa Geger Sepehi yang terjadi pada tahun 1812.

Keraton Yogyakarta mengalami masa gelap ketika terjadi Geger Sepehi. Peristiwa ini berlangsung pada masa kepemimpinan Sri Sultan Hamengku Buwono II.

Peristiwa Geger Sepehi ini sendiri diabadikan melalui sebuah karya bernama Babad Sepehi. Karya ini bercerita tentang tentara Inggris bersama dengan tentara dari India (Sepoy) dan Legiun Mangkunegaran masuk ke wilayah Yogyakarta pada tanggal 17 Juni 1812 malam.

Tentara di bawah kepemimpinan Gubernur Jenderal Raffles menyerang Keraton Yogyakarta selama beberapa hari. Di tanggal 20 Juni 1812, sejak dini hari pasukan Inggris menyerang dengan meriam.

Serangan pasukan Inggris di sisi timur laut Benteng Keraton Yogyakarta yang dikenal sebagai Plengkung Nirbaya berhasil membuat prajurit kalang kabut. Keraton Yogyakarta pun takluk di tangan pasukan Inggris setelah pasukan tersebut berhasil masuk ke area Bangsal Srimanganti yang berada di area dalam keraton.

Peristiwa Geger Sepehi ini membuat Keraton Yogyakarta mengalami kerugian. Penjarahan terjadi. Bukan hanya kekayaan material yang dijarah, namun juga kekayaan intelektual.

Ribuan manuskrip milik Keraton Yogyakarta turut dijarah. Dalam sebuah cerita digambarkan jika penjarahan ini berlangsung selama seminggu dengan jumlah manuskrip bergerobak-gerobak.

Ribuan manuskrip milik Keraton Yogyakarta masih berada di Inggris. Peninggalan itu menjadi koleksi British Library.

Peristiwa Geger Sepehi membuat ribuan manuskrip milik Keraton Yogyakarta hilang. Ketika itu, kata Bendara, hanya tersisa tiga manuskrip di Keraton Yogyakarta.

Manuskrip di Keraton Yogyakarta kembali dibuat semasa Sri Sultan Hamengku Buwono V. Di masa ini penulisan manuskrip berupa babad maupun naskah kembali dilakukan oleh para pujangga-pujangga Keraton Yogyakarta.

Terkait masalah digitalisasi, Bendara yang menjadi penanggung jawab masalah budaya di Keraton Yogyakarta, menyebutnya sebagai salah satu upaya untuk menyelamatkan manuskrip-manuskrip yang ada. Dengan digitalisasi, Bendara berharap peninggalan itu bisa diabadikan.

Selama ini, untuk merawat manuskrip-manuskrip kuno tersebut, Keraton Yogyakarta telah melakukannya sesuai dengan standar yang ada. Di antaranya dengan rutin diangin-angin, memantau timbulnya jamur, dan di antara halaman diberi kertas jepang tipis supaya acid tinta tidak saling menempel atau lengket dengan halaman lainnya.

"Ya ini salah satu upaya kami untuk menyelamatkan manuskrip milik Keraton Yogyakarta. Selain itu juga sebagai sebuah upaya untuk membuka kembali pengetahuan masyarakat tentang sejarah Jawa dan Keraton Yogyakarta," ungkap Bendara.

Selain mendigitalkan manuskrip kuno ini, pihaknya juga berencana melakukan alih aksara maupun alih bahasa. Lewat cara ini, Bendara berharap nantinya lebih banyak pihak yang bisa memanfaatkan manuskrip-manuskrip milik Keraton Yogyakarta.

Sementara itu, Raja Keraton Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X pada saat acara Pahargyan Digitalisasi Aksara Jawa yang digelar di Pagelaran Keraton Yogyakarta pada 5 Desember 2020 lalu menyampaikan pada 2013 telah diluncurkan aplikasi aksara Jawa versi 1.0. Setahun kemudian disempurnakan dengan versi 2.0. Hingga November 2013 aplikasi tersebut telah diunduh sekitar 10.000 kali.

Sri Sultan melanjutkan, kekhawatiran lenyapnya bahasa dan aksara Jawa sering kali dibahas dalam berbagai studi, seminar, diskusi, dan dialog, khususnya dalam serial kongres bahasa Jawa. Upaya ini merupakan upaya mempertahankan dan melestarikan Bahasa Jawa. Penutur bahasa lokal, kata Sultan, berangsur hilang dengan penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan.

"Hal ini menyebabkan kekhawatiran hilangnya berbagai bentuk pusaka budaya, tradisi, dan ekspresi berbicara penuturnya, mulai dari sajak dan cerita, hingga peribahasa dan lelucon. Kita seharusnya mendorong penggunaan bahasa daerah agar tetap hidup. Dimulai dari keluarga, guna mendukung program UNESCO tentang mother language," ungkap Sultan.

Sultan menilai, di era digital ini, kalau satu aksara tidak hadir dalam bentuk digital maka dianggap tidak ada. Kalaupun ada, dianggap sebagai aksara yang tidak hidup karena tidak ada lagi pendukungnya, persis seperti aksara Mesir. Sultan menilai bahwa aksara nusantara tidak terlalu ketinggalan dalam memasuki era digital karena 25 tahun yang lalu aksara Jawa telah terdaftar di UNESCO.

"Kita hanya terlambat beberapa bulan dari Thailand. Tetapi lebih dulu dari Burma. Aksara Jawa sudah masuk ke dalam smartphone. Kita bisa menyetingnya untuk menulis berbagai pesan di aplikasi seperti di Whatsapp," urai Sultan.

Terpisah, salah seorang pendiri komunitas Jagongan Naskah (Jangkah), Taufiq Hakim, mengapresiasi digitalisasi naskah-naskah atau manuskrip kuno yang dilakukan Keraton Yogyakarta. Jagongan Naskah sendiri adalah komunitas anak muda penggemar dan pengamat naskah-naskah kuno. Komunitas ini didirikan pada September 2018 yang lalu.

Taufiq menilai jika digitalisasi manuskrip di Keraton Yogyakarta ini membuat gampang diakses oleh masyarakat umum. Taufiq menerangkan bagi masyarakat baik akademisi dan mahasiswa filologi terkadang mengalami kendala untuk mengakses manuskrip kuno yang ada di Keraton Yogyakarta.

Taufiq mencontohkan kendala ini di antaranya orang harus datang langsung ke perpustakaan Keraton Yogyakarta untuk mempelajari manuskrip ini. Padahal terkadang peneliti atau mahasiswa tidak berdomisili di Yogyakarta. Selain itu, waktu untuk mengakses manuskrip ini juga terbatas, karena adanya jam kunjung atau operasional di perpustakaan Keraton Yogyakarta.

"Proses digitalisasi ini menguntungkan. Pertama manuskrip ini bisa diakses masyarakat secara lebih luas. Kalau belum didigitalkan kita harus mengikuti jam kerja perpustakaan untuk mengaksesnya. Selain itu kalau ingin memfotokopi juga biayanya tinggi. Biaya fotokopi ini memberatkan bagi mahasiswa Filologi yang sedang mengerjakan penelitian maupun skripsinya," kata Taufiq saat dihubungi, 11 Februari 2021 lalu.

Dia menilai proses digitalisasi naskah atau manuskrip kuno ini penting juga bagi sosialisasi pada masyarakat luas tentang budaya maupun kearifan lokal yang terkandung di dalamnya. Banyak hal yang bisa dipelajari dari naskah maupun manuskrip kuno ini.

"Misalnya, bagaimana leluhur kita dulu menyelesaikan sejumlah masalah yang muncul seperti saat ada erupsi Gunung Merapi ataupun gempa bumi. Selain itu melalui naskah kuno ini pula masyarakat bisa belajar bagaimana nilai-nilai budaya yang ada di Keraton Yogyakarta termasuk filosofi-filosofi yang ada," papar Taufiq.

Taufiq menyarankan prosesnya tak hanya berhenti ketika semua manuskrip ini didigitalkan. Dia berharap agar ada langkah berikutnya untuk menyosialisasikan isi-isinya supaya bisa diterima masyarakat, khususnya generasi muda.

"Digitalisasi tidak sekadar berhenti di-scanning. Usai scanning ini, harapannya naskah ini bisa diakses secara luas. Di tahap selanjutnya adalah upaya untuk mendigitalkan konten-konten di dalam naskah kuno ini. Sehingga tak hanya berbentuk naskah yang sudah di-scanning saja tapi bisa diubah ke bentuk film, infografis, typografi, maupun bentuk lainnya yang ramah bagi anak muda. Ini penting supaya naskah ini tak membosankan dan menarik perhatian anak muda untuk belajar isinya," papar Taufiq.

Selain itu, Taufiq juga menyarankan adanya tambahan sejumlah keterangan pendamping dari naskah kuno yang sudah didigitalkan. Misalnya, bahan kertas, detil yang ada dalam halaman naskah, seperti adakah lubang atau tidak. Yang tak kalah penting, tambahan keterangan detil tentang watermark atau cap yang ada di dalam halaman-halaman naskah tersebut.

Taufiq pun meminta agar upaya digitalisasi ini ke depannya tak berhenti pada koleksi yang ada di Keraton Yogyakarta saja. Taufiq menyebut di berbagai kampung pun ada naskah-naskah kuno yang dipegang secara turun menurun oleh masyarakat. Naskah-naskah ini dinilai oleh Taufiq tak kalah penting untuk didigitalkan.

"Ya biar masyarakat tahu bahwa naskah-naskah lain yang ada di kampung pun ada nilainya. Karena di banyak tempat, naskah-naskah yang ada di kampung ini justru diperjualbelikan ke orang asing maupun kolektor. Dengan digitalisasi ini, masyarakat tahu bahwa naskah kuno yang kebetulan dipegangnya ini bernilai penting bagi ilmu pengetahuan," pungkas Taufiq. [yan]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini