Cerita tradisi malamang dari Sumatera Barat

Kamis, 8 Mei 2014 13:42 Reporter : Eda Ervina
Cerita tradisi malamang dari Sumatera Barat Lemang. ©2013 Merdeka.com/imam buhori

Merdeka.com - Malamang sekilas tak ada istimewanya, karena hanya berartikan memasak lemang. Lemang sendiri adalah penganan khas dari Sumatera Barat yang terbuat dari adonan beras ketan putih dan santan yang dimasukkan ke dalam bambu. Bambu tersebut sebelumnya dialasi dengan daun pisang dan kemudian di panggang di atas bara api. Biasanya lemang di sajikan dengan tapai atau ketan hitam yang sudah difermentasikan.

Namun, bagi masyarakat Sumatera Barat, malamang merupakan suatu tradisi. Tradisi ini biasanya dilakukan di saat hari-hari tertentu, seperti hari besar keagamaan atau memperingati hari kematian. Contohnya masyarakat Pariaman Sumatera Barat, biasanya melaksanakan tradisi malamang pada saat acara Maulid Nabi.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, tradisi ini lahir tak lepas dari peran Syekh Burhanuddin, Ulama asal Pariaman. Saat itu Syekh Burhanuddin melakukan perjalanan ke daerah pesisir Minangkabau untuk menyiarkan agama Islam, terutama di daerah Ulakan, Pariaman.

Menurut Tambo (kisah yang meriwayatkan tentang asal usul dan kejadian masa lalu yang terjadi di Minangkabau), saat itu Syekh Burhanuddin rajin berkunjung ke rumah-rumah penduduk untuk bersilaturrahmi dan menyiarkan agama Islam. Oleh warga, beliau sering disuguhi makanan. Namun, sepertinya Syekh Burhanuddin agak meragukan kehalalan makanan yang dihidangkan. Dia pun menyarankan kepada setiap masyarakat yang dikunjunginya agar mencari bambu, lalu mengalasnya dengan daun pisang muda. Beras ketan putih dan santan lalu dimasukan ke dalamnya, kemudian dipanggang di atas tungku kayu bakar.

Kegiatan malamang sendiri biasanya dilakukan bergotong royong dengan pembagian tugas pencari bambu sebagai tempat adonan, pencari kayu bakar untuk memanggang, penyiapan pada bahan-bahan untuk membuat lemang, dan lainnya. Biasanya lemang dibuat dalam jumlah banyak dan disajikan untuk kudapan dalam acara Maulid Nabi di surau-surau.

Menurut Idar (31), perantau asal pariaman, di kampungnya malamang itu sudah menjadi keharusan yang dilakukan saat menyambut hari besar keagamaan. "Kalau Maulid Nabi tanpa malamang, ada yang kurang," jelasnya saat dihubungi merdeka.com, Kamis (8/5).

Idar melanjutkan, tradisi malamang sendiri sudah ada sejak ratusan tahun lalu dan sampai sekarang masih dilakukan oleh kebanyakan kampung-kampung di Pariaman.

Terlepas dari kegiatan malamang, lemang yang merupakan kudapan khas Sumatera Barat ini selalu dihidangkan dengan tapai atau ketan hitam/ketan merah yang difermentasikan.

Di Jakarta sendiri, penjual lemang dapat kita jumpai di daerah Senen Jakarta Pusat. Biasanya, penganan ini ramai dijajakan di bulan Ramadan di sepanjang Jalan Kramat Raya, Senen. Penjualnya tentu perantau asal Minang. [hhw]

Topik berita Terkait:
  1. Budaya Indonesia
  2. Tradisi Unik
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini