Cerita Mengerikan Perantau Saat Kerusuhan di Wamena, Rumah, Kios & Motor Dibakar

Kamis, 3 Oktober 2019 17:17 Reporter : Moh. Kadafi
Cerita Mengerikan Perantau Saat Kerusuhan di Wamena, Rumah, Kios & Motor Dibakar Defrizul dan Nur Wahid. ©2019 Merdeka.com/Moh Kadafi

Merdeka.com - Kerusuhan yang terjadi di Wamena, Papua, menjadi kenangan kelam. Hal ini dirasakan langsung oleh Defrizul (45). Pria asal Padang, Sumatera Barat mengaku sudah 19 tahun merantau ke Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua.

Dia menjelaskan, pada Senin 23 September lalu, kerusuhan pecah sekitar pukul 09.00 Wita. Dalam peristiwa tersebut rumah dan tiga kios sembakonya habis dibakar massa.

"Saya pedagang, yang terbakar rumah, 3 kios, ada Rp 300 juta kerugian untuk satu kios," kata Defrizul saat ditemui di Safe House Lanud TNI AU, I Gusti Ngurah Rai, Bali, Kamis (3/10).

Saat kerusuhan dirinya bersama sanak keluarga sempat mengungsi selama sepekan mencari tempat aman. Saat itu masa sudah mulai anarkis dengan membawa senjata tajam dan bom molotov. Sehingga banyak pendatang memilih pulang kampung.

"Sempat mengungsi satu minggu, Alhamdulillah (keluarga) tidak ada yang terluka. (Waktu) kerusuhan masyarakat mulai anarkis rumah di dalam kota terbakar. Semuanya jadi pulang kampung dulu," ungkapnya.

Defrizul juga menjelaskan, waktu kerusuhan ada warga lokal ikut membantu para warga pendatang. Karena saat terjadinya pembakaran di Wamena, warga pribumi sempat menghalangi, namun dikejar massa yang anarkis sehingga ketakutan.

"Ada yang bantu, ada juga tidak karena mereka (warga pribumi) juga ketakutan. Waktu pertama kebakaran masyarakat pribumi menghalangi, tapi karena mereka dikejar (oleh massa) mereka lari juga," tuturnya.

Defrizul juga mengungkapkan, kendati ada kerusuhan di Wamena, dirinya akan tetap kembali ke Wamena. Menurutnya, selama ini dirinya dengan warga pribumi berhubungan baik.

"Selama ini saya merasa damai, nyaman tenang dan berbaur sama masyarakat tidak ada gangguan apapun. Tidak tahulah kejadian apa yang membuat seperti ini. Kita berbaur seperti biasa, tidak ada gangguan apa-apa," ujarnya.

"Saya merasa senang dengan masyarakat asli pribumi di situ, ini kan yang bikin kacau bukan pribumi asli kan, dari kabupaten lain, bukan (dari) Kabupaten Jayawijaya," ungkapnya.

Defrizul juga menjelaskan, saat kejadian dirinya juga sempat panik karena tidak bisa menghubungi keluarganya di Sumatera Barat, karena jaringan telepon tidak ada.

"Sempat panik karena jaringan telepon tidak ada. Waktu itu sempat pakai Indosat dan juga Telkomsel tapi tidak bisa. Iya, harapannya semoga cepat aman di sana supaya cepat kembali lagi," ujarnya.

Defrizul bersama anak dan istrinya serta keluarganya kini kembali pulang kampung ke Padang. Namun, setelah mengantarkan keluarganya ia akan kembali ke Wamena.

"Saya mengantar anak dan istri sama adik-adik semuanya ke Padang. Paling lama dua minggu lagi ke sana (Wamena). Karena di sana merasa tenang, karena masyarakat yang punya lokasi juga dekat sama kita," ujarnya.

Sementara Nur Wahid (60) yang berasal dari Probolinggo, Jawa Timur, menceritakan, bahwa dirinya sudah 12 tahun merantau dan menjadi tukang ojek di Wamena.

Ia menyampaikan, saat kerusuhan terjadi di Wamena, rumah yang ditempatinya bersama adiknya juga dibakar massa. Ia juga melihat banyak korban tewas karena massa anarkis.

"Itu rumah milik orang Makassar, saya suruh jaga rumah itu. Waktu dibakar saya lari lewat belakang. Waktu itu kejadian jam 9 pagi. Akhirnya ada anggota, saya selamat. Tapi rumah dan motor 6 habis semua," ujarnya.

Nur Wahid juga menjelaskan, dirinya selamat bersama keluarganya karena lari ke perumahan TNI dan sempat juga terpisah dengan keluarganya. Namun keluarganya selamat semua.

"Saya 6 keluarga, selamat semua. Iya keluarga ada yang terpisah tapi selamat. Waktu itu saya lari ke Perumahan TNI, kalau tidak lari mati," ujarnya.

Nur Wahid juga menceritakan, massa selain membawa senjata tajam juga membawa bensin. Massa campuran dari anak muda hingga orangtua dan ada juga yang pakai seragam sekolah tapi dilihat dari wajahnya bukan seorang pelajar.

"Iya ada yang pakai seragam sekolah, tapi orangnya tua-tua dan campuran (ada tua dan muda). Saya cuma dapat bantuan makan saja, saya sempat mengungsi lama juga," tandasnya. [did]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini