Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Cegah kekerasan seksual anak, Mensos sebut orang tua jangan gaptek

Cegah kekerasan seksual anak, Mensos sebut orang tua jangan gaptek Mensos Khofifah Indar Parawansa. ©2017 Merdeka.com

Merdeka.com - Menteri Sosial (Mensos) Khofifah Indar Parawansa menegaskan kasus kekerasan anak tidak bisa dianggap sepele. Sebab jumlah kasusnya terus meningkat. Di 2016 pada kasus korban kekerasan seksual anak, jumlahnya sudah mencapai sekitar 358 anak.

Saat menghadiri deklarasi Stop Kekerasan Anak di Kabupaten Jombang, Jawa Timur, Khofifah mengatakan kekerasan anak, entah itu terkait fisik maupun psikis, memiliki dampak yang sama fatalnya bagi kesehatan jasmani dan mental anak.

"Dampak kekerasan pada anak, mungkin tidak terlihat dalam waktu dekat. Namun seiring berjalannya waktu, dampak dari kekerasan pada anak ini akan terlihat sangat jelas," kata Khofifah di acara yang digelar di kediaman advokat Ahmad Rifai dan dihadiri ratusan pelajar SMP, SMA, dan santri dari sejumlah pondok pesantren, Minggu (5/3).

Dari beberapa hasil riset, lanjut dia, menyebutkan bahwa anak-anak yang mengalami trauma kekerasan apapun bentuknya, akan tumbuh dengan pelbagai masalah perilaku. Mulai dari kecemasan, depresi, agresi, hingga pemberontakan.

"Tidak jarang yang sebelumnya menjadi korban bertransformasi menjadi pelaku. Trauma masa lalu yang menjadi penyebabnya," ungkapnya.

Kembali Khofifah menyoroti maraknya kasus kekerasan seksual anak, yang sebagian besar terjadi karena beberapa faktor seperti konten video porno, minuman keras dan narkoba serta pergaulan yang kontra produktif.

Karena itu, kata dia lagi, langkah preventif yang harus dilakukan adalah dengan memutus dari hulu. "Akses informasi yang mudah dan teknologi yang semakin canggih, memudahkan anak-anak dalam mengakses konten pornografi dan pola pergaulan yang kurang positif. Ini warning bagi semua orang tua. Jangan cuek dan gagap teknologi," imbaunya.

Orang tua, masih kata Ketua Umum PP Muslimat NU ini, tidak jarang membiarkan anaknya berkomunikasi via media sosial tanpa pengawasan lantaran gaptek (gagap teknologi). "Alhasil, tidak sedikit anak berkenalan dengan 'predator' seksual. Dia dijebak, dirayu, digoda, sehingga menjadi korban kejahatan seksual."

Hal lain yang menjadi tantangan dalam memerangi kasus kekerasan seksual anak, masih kata Mensos, adalah masyarakat Indonesia yang cenderung permisif. Tidak sedikit masyarakat yang enggan melaporkan kasus kekerasan seksual ke aparat penegak hukum karena beberapa kasus pelakunya justru anggota keluarga sendiri.

"Padahal yang terjadi sangat mungkin lebih banyak. Kebanyakan pelaku kekerasan seksual terhadap anak terkait inses adalah ayah, kakak, dan paman korban," ungkapnya.

Jumlah anak menjadi korban eksploitasi seksual yang masuk dalam catatan Kemensos, cukup banyak dalam setahun. "Di tahun 2016, sebanyak 258 korban kekerasan seksual masuk dalam catatan dan jangkauan Satuan Bhakti Pekerja Sosial, serta 100 korban melapor melalui telepon Sahabat Anak. Dua-duanya di bawah koordinasi Kemensos."

Olah karena itu, Khofifah mengajak seluruh pihak mengambil peran dalam upaya memerangi kekerasan seksual anak. Dia juga mendorong keluarga sebagai ujung tombak ketahanan nasional dan terus mengawal pola tumbuh-kembang anak sebagai generasi penerus bangsa. "Mari kita wujudkan baitiii jannati (rumahku adalah surgaku)," tandasnya.

(mdk/cob)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP