Belajar Agama dan Konsep Ekologi di Pesantren Ath-Thaariq Garut

Selasa, 28 Mei 2019 04:04 Reporter : Mochammad Iqbal
Belajar Agama dan Konsep Ekologi di Pesantren Ath-Thaariq Garut Belajar Agama dan Konsep Ekologi di Pesantren Ath-Thaariq Garut. ©2019 Merdeka.com/Iqbal

Merdeka.com - Ketika kita membayangkan sebuah pondok pesantren, gambaran aktivitas santri berpeci dan mengaji ilmu agama kepada gurunya yang akan mendominasi pikiran kita. Namun jika ke Garut, tepatnya ke Pondok Pesantren Ath-Thaariq di Kampung Cimurugul, Desa Sukagalih, Kecamatan Tarogong Kidul, bayangan tersebut mungkin menjadi berbeda.

Di Pesantren Ath-Thaariq para santri tidak hanya diajarkan ilmu agama semata, namun juga dengan konsep ekologi yang dibangun, santri diajarkan cara bertani dan berwira usaha. Pesantren tersebut dirintis oleh sepasang suami istri, Ustaz Ibang Lukman Nurdin dan Nisya Saadah Wargadipura.

Ibang menjelaskan bahwa dalam kesehariannya, para santri melakukan aktivitas seperti biasa, ada yang sekolah, kuliah, lalu mengaji. Namun yang menjadi tambahannya para santri selalu diajarkan untuk bertani, mulai dari menyiram tanaman, memanen, hingga mengolah tanaman pasca panen menjadi aneka ragam produk pertanian.

"Yang kita olah di sini adalah produk pertanian organik. Yang pasca panen kita buat menjadi teh, atau gula semut, dan juga banyak yang lainnya. Banyak yang kita oleh dari tanaman yang kita tanam sendiri di lahan milik pesantren yang luasnya kurang lebih 1 hektare ini. Kita juga ajarkan santri membuat pupuk organik," kata Ibang.

©2019 Merdeka.com/Iqbal

Ia menjelaskan bahwa uang hasil penjualan produk pertanian nantinya digunakan untuk kebutuhan sarana prasarana pesantren dan kebutuhan para santri dalam menimba ilmu. Saat ini sendiri, diakuinya tidak banyak santri yang mondok di pesantrennya karena keterbatasan lahan, namun ia memastikan seluruh santrinya mendapatkan pendidikan gratis di tempatnya itu.

"Terkadang juga kita berikan bekal kepada para santri saat hendak pulang ke rumahnya, baik untuk orang tuanya atau mungkin juga untuk melanjutkan sekolah. Pesantren memang lembaga sosial, tetapi tidak bisa menunggu bantuan dari siapapun sehingga harus mandiri dan membangun kedaulatan. Cara kita berdaulat adalah dengan menggunakan aktivitas dalam proses pembangunan ekonomi berbasis ekologi," jelasnya.

Namun Ibang menyebut, meski pesantrennya menggunakan aktivitas untuk membangun ekonomi hal tersebut tidak hanya berbasis pada keuntungan semata. Ia mengklaim bahwa aktivitas yang dilakukan di pesantrennya juga berbasis keberkahan. "Sehingga kemudian yang kita lakukan adalah proses pengolahannya menggunakan benih dan pupuk organik, sehingga yang terjadi manfaat dan berkahnya lebih besar, karena lebih sehat," ungkapnya.

Hasil pertanian dari olahan para santri pun tak bisa dipandang sebelah mata. Ratusan produk makanan minuman herbal dan organik yang dihasilkan berhasil menembus pasar Nasional bahkan Internasional dengan sejumlah penghargaan yang diraih dari segi kualitas produknya, hingga dari segi kedaulatan ekonomi dari Presiden Republik Indonesia.

"Alhamdulillah produk kami sudah tembus pasar internasional. Beberapa waktu lalu, Ummi (Istri Ibang, Nissa Saadah) diundang oleh PBB diminta ikut persentase soal pesantren berbasis ekologi," katanya.

Setiap minggunya sendiri, Ibang menyebut bahwa pesantren Ath-Thaariq tidak pernah sepi dari pengunjung, baik dari pesantren, kampung, hingga peneliti. "Pernah ada peneliti dari Singapura, Malaysia, Filipina, Jepang, Korea hingga dari Francis untuk melihat konsep yang diterapkan di pesantren ekologi ini," ucapnya.

Ibang berharap, sistem di pesantren ekologi Ath-Thaariq bisa dicontoh oleh negara, serta diimplementasikan oleh pesantren lain. Hal tersebut sebagai upaya dalam mewujudkan pesantren yang berdaulat, mandiri dan berkah. [bal]

Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini