KAPANLAGI NETWORK
MORE
  • FIND US ON

Begini metode pertanian jagung modern yang digagas Bupati Lamongan

Jumat, 17 Februari 2017 20:19 Reporter : Haris Kurniawan
Bupati Lamongan, Fadeli. ©2017 Merdeka.com

Merdeka.com - Komoditas jagung di wilayah Kabupaten Lamongan Jawa Timur sangat potensial untuk ditingkatkan. Meski begitu, peningkatan produksi jagung ini salah satunya dengan intensifikasi. Pasalnya, ekstensifikasi dengan memperluas lahan sudah sangat sulit dilakukan. Menurut data dari Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan tahun 2017, luas tanaman Jagung di Lamongan sebesar 54.393 hektare. Luasan lahan tanam itu, menurut Bupati Lamongan, Fadeli tidak bisa ditambah lagi. Jika diperluas akan berakibat pada turunnya produktivitas komoditas lainnya, katanya.

Dari hasil kunjungannya ke Iowa, Amerika Serikat, September 2016 lalu, Fadeli mengambil ilmu dalam hal metode penanamannya. Sebab tidak semua metode bisa diterapkan di Indonesia. Salah satu metode yang diterapkan Fadeli ialah soal cara tanam benih. Kami namakan Jajar Legowo. Itu cara nanam yang tidak terlalu dekat jarak tanamnya, kata Fadeli. Metode tanam Jajar Legowo diterapkan untuk mendapatkan sinar matahari yang maksimal, mempermudah perawatan dan juga menghindari adanya perebutan unsur hara antar tanaman. Salah satu variasi Jajar Legowo yakni 100 cm x 50 cm x 40 cm untuk 2 benih perlubang tanam.

Selain cara tanam Jajar Legowo, metode penanaman jagung modern juga mengharuskan pengolahan tanah dan pemberian pupuk yang benar. Untuk pengolahan tanah, tanah tempat pembenihan kedalamannya harus mencapai 20 cm. Selama ini, dalam metode konservatif, kedalaman tanah hanya mencapai 5-10 cm. Dangkalnya tanah yang diolah dikarenakan petani hanya mencungkil tanahnya dengan linggis. Kami membantu petani dengan menyediakan dua traktor yang sanggup membajak hingga kedalaman 20 cm, kata Fadeli.

Dosis pemberian pupuk juga tidak bisa lagi seenak kemauan petani. Pertanian jagung modern mensyaratkan keuletan dan ketaatan petani dalam menjalankan metode yang dianjurkan dengan baik. Pemberian pupuk ada dosisnya. Jangan sampai kurang dan berlebih. Itu kami sudah menyiapkan petunjuknya. Misalnya, untuk setiap hektare, harus diberi berapa kilo pupuk urea, ujarnya lagi.

Soal benih, Pemerintah Kabupaten Lamongan juga mempersilakan beberapa produsen benih untuk mengujicoba benih-benih unggulannya. Ada beberapa produsen benih jagung hibrida yang mengujicobakan benihnya, seperti misalnya Monsanto. Selain swasta, pemerintah melalui Balitbang Kementan juga menguji benihnya unggulannya yang dinamakan Nasa di Demfarm ini. Dalam pertanian Jagung modern ini, Pemerintah Kabupaten Lamongan juga menjalin kemitraan dengan CropLife International asosiasi internasional yang bergerak di bidang teknologi pertanian dan berbasis di Brussels, Belgia.

Pemerintah Kabupaten Lamongan tak hanya memberikan dukungan untuk kenaikan produktivitas, tapi juga jaminan kepastian bahwa hasil panen akan diserap dengan harga yang bagus. Pemerintah Kabupaten Lamongan bahkan menetapkan harga beli jagung yang lebih tinggi dari harga yang dipatok Pemerintah Pusat, yakni Rp3.400 per kilogram. Pemerintah Pusat hanya menetapkan harga jagung sebesar Rp 3.150 per kilogram, kata Ketua Asosiasi Petani Jagung Indonesia (APJI), Sholahudin, yang juga merupakan Kepala Desa Banyubang, Kecamatan Solokuro, Lamongan.

Untuk membeli jagung dari petani, Bupati Lamongan membangun plasma-plasma usaha yang bertugas untuk memastikan agar semua jagung hasil panen petani dapat dibeli. Plasma ini nyaris tak mungkin rugi karena tak lama setelah musim panen berakhir, harga jagung biasanya akan naik menjadi Rp3.800 per kilogram, terang Sholahudin. Selain itu, kata Sholahudin, dalam waktu dekat akan berdiri pabrik pengolahan pakan ternak yang berdiri di Lamongan yang siap menampung hasil panen jagung para petani. Selain itu, banyak pihak yang sudah memberikan garansi bisa menampung berapapun jagung hasil panen para petani Lamongan untuk disimpan di pergudangan miliknya, ujar Sholahudin.

Wakil Bupati Lamongan Kartika Hidayati menambahkan, sebagian besar jagung produksi Lamongan diserap oleh industri pakan ternak. Sisanya, sekitar 5 persen, diserap oleh Usaha Kecil Menengah (UKM) untuk dijadikan bahan baku snack atau makanan ringan seperti keripik dan kerupuk jagung, tepung maizena, bahkan agar-agar dan eskrim. Ada yang sampai diekspor ke Malaysia, Brunei dan Singapura. Itu yang modal dan aksesnya sudah bagus. Mereka mengambil dari sentra-sentra pengolahan jagung skala kecil, kata Kartika. [war]

Rekomendasi Pilihan

Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Subscribe and Follow

Temukan berita terbaru merdeka.com di email dan akun sosial Anda.