Basarnas akan Diperkuat Sistem Informasi Geografis, Analisa Big Data hingga AI

Kamis, 17 Maret 2022 17:26 Reporter : Dedi Rahmadi
Basarnas akan Diperkuat Sistem Informasi Geografis, Analisa Big Data hingga AI Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI Henri Alfiandi. ©2021 Merdeka.com

Merdeka.com - Kepala Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas), Marsekal Madya TNI Henri Alfiandi mengungkapkan, pihaknya melakukan operasi penyelamatan sebanyak 2.264 kali di tahun 2021. Operasi penyelamatan yang dilakukan Basarnas itu terdiri dari kecelakaan pesawat, kapal, bencana hingga kondisi membahayakan manusia.

Sedangkan pada tahun 2020, Indonesia mengalami 29 bencana alam dan menjadikannya negara paling rawan bencana alam di dunia. Menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), bencana yang paling banyak terjadi pada tahun 2020 adalah bahaya hidrometeorologi atau bencana yang terjadi akibat dari fenomena meteorologi.

Henri menyampaikan Basarnas bermitra dengan Esri Indonesia sebagai penyedia solusi geospasial di Indonesia untuk meningkatkan pemanfaatan teknologi Sistem Informasi Geografis (SIG), Analisa Big Data, dan Teknologi Kecerdasan Buatan (AI).

"Kemitraan strategis dengan Esri Indonesia ini diharapkan dapat meningkatkan kapabilitas kami sebagai lembaga SAR nasional dan memperkuat ketahanan Basarnas dalam melakukan operasi kemanusiaan di Indonesia," ujar Henri di Jakarta, Kamis (17/3).

Menurut Henri, teknologi SIG akan memperkuat pihaknya di dalam merencanakan, membuat keputusan, serta mengelola sumber daya dan fasilitas dengan lebih baik. Serta mengadopsi standar operasional yang ditetapkan oleh International Search and Rescue Advisory Group (INSARAG).

"Di Basarnas, misi kami adalah memastikan keselamatan dan keamanan penduduk saat terjadi bencana alam," tegas Henri.

Sementara itu, Country Manager Esri Indonesia, Christanto Yanuar mengatakan kemajuan teknologi dan inovasi telah menciptakan peluang baru untuk meningkatkan ketahanan bencana dan mengurangi risiko bencana.

"Perkembangan disrupsi teknologi – seperti kecerdasan buatan (Artifical Intelligence), Internet untuk Segala (Internet of Things) dan Mahadata (Big Data) telah bertansformasi ke berbagai bidang, termasuk meminimalisasi resiko bencana dan manajemen bencana. Misalnya, algoritma berbasis AI dapat digunakan dalam analisis prediktif untuk membantu memprediksi bencana serta mempercepat waktu pemulihan dan waktu tanggap," jelas dia.

Dengan menggunakan platform ArcGIS, kata dia, tim Basarnas dapat dengan cepat memvisualisasikan masyarakat yang terkena dampak dan infrastruktur kritikal yang rusak. Kapabilitas ini dapat memfasilitasi para pengambil keputusan dengan kesadaran penuh akan situasi yang dihadapi yang dapat membantu mereka secara efisien memobilisasi sumber daya yang terbatas dan mengoptimalkan rute pasokan kebutuhan bantuan yang mendesak

"Ketika setiap detik berharga dan tingkat risiko yang tinggi, badan yang berada di garis terdepan harus membuat keputusan yang didorong oleh data real-time otoritatif yang akurat, sehingga mereka yakin bahwa mereka telah membuat pilihan terbaik walau di bawah tekanan," tambah Yanuar.

[ded]

Topik berita Terkait:
  1. tag
  2. Basarnas
  3. Jakarta
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini