Analisis Ahli Kimia Unair soal Gas Air Mata Penyebab Kematian Korban Kanjuruhan

Sabtu, 26 November 2022 19:00 Reporter : Erwin Yohanes
Analisis Ahli Kimia Unair soal Gas Air Mata Penyebab Kematian Korban Kanjuruhan FGD Pertanggungjawaban Pidana Kasus Tragedi Kanjuruhan Malang di Kampus B Fakultas Hukum. ©2022 Merdeka.com/Erwin Yohanes

Merdeka.com - Pakar kimia dari Universitas Airlangga Surabaya, Dwi Setyawan mengatakan, gas air mata memang dirancang untuk pengendali kerusuhan. Oleh karenanya, formulasi dari gas air mata adalah zat kimia biasa yang digunakan secara terbatas.

"Formulasi gas air mata, gas air mata merupakan zat kimia biasa yang digunakan secara terbatas, senyawa 2 Clorobenzalmalononitrile (CS), komponen penentu yang biasa disebut gas CS, difungsikan sebagai agen pengendali kerusuhan," katanya dalam Focus Group Discussion (FGD) "Pertanggungjawaban Pidana Kasus Tragedi Kanjuruhan Malang" di Kampus B Fakultas Hukum, Sabtu (26/11).

Dia menerangkan, gas air mata sendiri bertekstur padat solid kristalik atau bubuk powder (serbuk), bahan kimia yang bersifat iritasi.

"Secara garis besar berkesimpulan bahwa bahan untuk gas air mata, sebenarnya yang memang sifatnya toxic tapi memang bahannya diformulasikan untuk kebutuhan khusus dalam batas aman," lanjutnya.

"Namun perlu melihat kondisi jika dalam keadaan tertutup misalnya, maka bisa jadi penyebab kematian korban Kanjuruhan," tambah Dwi.

2 dari 2 halaman

Sementara itu, Pakar kimia dari Unair Surabaya, Fahimah Martak menerangkan, komponen gas air mata merupakan senyawa yang sebenarnya bukan gas tapi serbuk.

"Jadi ada di situ digambarkan seperti sianida, itukan seperti kasus kopi diberi sianida itu kan mati, karena dosisnya yang tinggi dan diberikan langsung diminum, kalau ini kan langsung dihirup, itu kadarnya berapa kita tidak tahu yang dihirup itu berapa kadarnya, memang dapat menyebabkan sesak nafas," terangnya.

Dia menegaskan jika gas air mata tidak menyebabkan kematian kalau hanya dihirup sedikit saja. Namun kondisi berbeda terjadi gas air mata terhirup secara berlebihan.

"Tapi memang kalau bahan kimia itu semua berbahaya seperti gas CO yang di keluarkan motor, itu juga berbahaya tapi karena udara terbuka, mungkin banyak tanaman hijau yang menghirup gas CO sehingga manusia tidak apa apa, jadi bukan menyebabkan kematian," ujarnya.

"Gas air mata itu efeknya sesak napas, mata agak kabur jadi bukan menyebabkan kematian. Mungkin matinya itu karena menghirupnya agak banyak atau terinjak-injak, saya tidak tahu karena di lapangan itu seperti apa. Jadi kondisi seseorang itu yang sangat berpengaruh," pungkas Fahimah. [fik]

Baca juga:
Novita Pasien Terakhir Tragedi Kanjuruhan Dipulangkan usai 50 Hari Dirawat di RSUD
Dirawat 50 Hari, Pasien Terakhir Tragedi Kanjuruhan Dipulangkan
Kemenpora Tegaskan Transformasi PSSI Langsung Dipandu oleh FIFA
UEFA Bantu Pulihkan Reputasi Arema Setelah Tragedi Kanjuruhan
Keluarga Korban Tragedi Kanjuruhan Laporkan Pelanggaran Etik 3 Polisi ke Propam Polri
Polri Bakal Terbitkan LP Baru Terkait Tragedi Kanjuruhan Hari ini

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Opini