95 Orang di Tambrauw, Papua Barat meninggal karena kelaparan

Selasa, 2 April 2013 10:18 Reporter : Laurencius Simanjuntak
95 Orang di Tambrauw, Papua Barat meninggal karena kelaparan kelaparan. shutterstock

Merdeka.com - Sejak November tahun lalu, masyarakat adat di Distrik Kwoor, Kabupaten Tambrauw, Papua Barat, terserang wabah penyakit yang menyebabkan kematian massal. Hingga Februari 2013, sebanyak 535 orang terjangkit penyakit dan 95 orang meninggal dunia.

Laporan Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN), ormas yang beranggotakan komunitas-komunitas masyarakat adat dari berbagai pelosok nusantara, menjelaskan jenis penyakit yang diderita kebanyakan warga adalah busung lapar atau kekurangan gizi dan gatal-gatal.

Wabah ini telah menyebar di beberapa kampung yaitu Kampung Jocjoker, Kosefo, Baddei, Sukuweis dan Krisnos.

"Sejak awal masyarakat sudah lapor ke Dinas Kesehatan, tapi tidak ada tindak lanjut. Ketika korban mulai berjatuhan, baru Dinas Kesehatan merespons," kata Kostan, pegiat AMAN Sorong Raya, saat dihubungi merdeka.com di Papua Barat, Selasa (2/4).

Kostan menegaskan, pihaknya berani mempertanggungjawabkan laporan soal kematian massal itu. Dia merinci, di Kampung Baddei terdapat 250 orang sakit dan 45 orang meninggal dunia; Kampung Jokjoker 210 sakit dan 15 orang meninggal dunia; Kampung Kosefa 75 sakit dan 35 orang meninggal dunia.

Kostan mengatakan, Distrik Kwoor masih kekurangan tenaga medis, sehingga setiap warga yang datang seringkali tidak mendapatkan pelayanan karena mantri atau dokter tidak ada di tempat.

"Seringkali warga harus berjalan kaki ke kampung lainnya untuk mencari pengobatan," ujarnya.

Kostan mencontohkan, 12 warga Kampung Kosefo yang sakit harus berjalan kaki ke Distrik Sausapor selama empat hari untuk berobat dan melaporkan kejadian ini ke pihak Rumah Sakit.

"Masyarakat di Kampung Jokjoker juga mengalami trauma (ketakutan) karena banyak warga yang meninggal dunia. Mereka terpaksa pindah ke Kampung Bikar, Baddei Sibi dan sebagian ke Sausapor. Sedangkan jarak tempuh dari Kampung Jokjoker ke Bikar adalah 1 hari berjalan kaki," ungkapnya.

Dia menambahkan, pelayanan atau bantuan dari pemerintah setempat sangat lambat. Sejak Sabtu (30/2), pemerintah baru dilakukan pengiriman obat-obat di beberapa titik, yakni Kampung Sumbab dan Bikar saja.

"Masyarakat disuruh turun ke Kampung-kampung. Karena banyak yang sakit dan tidak mampu berjalan jauh lagi, maka hanya sebagian warga saja yang mengambil obat-obatan dari kampung yang ada pelayanan kesehatannya," ujar dia. [ren]

Topik berita Terkait:
  1. tag
  2. Papua
  3. Gizi Buruk
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini