Selama ini masih banyak perbankan yang belum berani memberikan akses modal kepada Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM). Alasannya sektor UMKM beresiko tinggi karena skalanya yang masih terbatas dan transaksinya masih belum dibukukkan sebagai laporan keuangan.
"Proposal (laporan keuangan) UMKM yang biasanya sangat sederhana, jadi kita harus bisa mengatasi persepsi risiko tinggi yang jadi anggapan UMKM tidak bisa mendapatkan modal dari perbankan," kata Menteri Sri Mulyani dalam Pembukaan The 6th Annual Islamic Finance Conference, Jakarta, Rabu (24/8).
Di sisi lain, UMKM juga merasa tidak mampu untuk memenuhi kriteria yang dibuat perbankan untuk mengakses permodalan. Pelaku usaha juga tidak memiliki tempat bertanya dan konsultasi yang bisa memberikan masukan secara teknis.
"Mereka merasa kemampuannya tidak cukup dan tidak terjangkau, mereka juga tidak punya masukan mengatasi hal teknis dan dengan kondisi transaksi yang tinggi," kata dia.
Maka dari itu, Menteri Sri Mulyani mendorong perbankan atau lembaga keuangan bisa memberikan pembiayaan kepada pelaku UMKM. Salah satunya dengan memanfaatkan teknologi untuk mengetahui kondisi nyata bisnis UMKM.
"Dengan digitalisasi ini bisa memonitor kondisi nyata bisnis UMKM," kata dia.
Advertisement
Edukasi UMKM
Digitalisasi yang dilakukan juga harus mendorong UMKM mendapatkan banyak akses informasi. Sehingga pelaku usaha bisa memperluas pembiayaan yang efektif.
"Jadi bagaimana caranya kita bangun akses pemberian modal dalam hal ini penyediaan jaminan sampai tahap tertentu, sehingga asimetris informasi di kalangan UMKM ini bisa dikurangi," kata dia.
Program pembiayaan juga diharapkan bisa sekaligus dikombinasikan dengan edukasi penggunaan teknologi digital. Agar pelaku usaha bisa memiliki informasi dan menentukan pilihannya untuk mendapatkan modal dengan biaya yang lebih murah.