Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Belajar tak harus ke sekolah

Belajar tak harus ke sekolah Ilustrasi Anak Sekolah. ©2014 Merdeka.com

Merdeka.com - Jarum jam menunjukkan pukul 07.30 WIB saat Annisa Hasanah Indarviningtyas atau biasa disapa Hanna keluar dari pintu rumahnya. Dia bergegas masuk ke dalam mobil yang akan mengantarkannya ke Jalan Ketintang Baru III No. 03, Surabaya, Jawa Timur. Butuh waktu tidak lebih dari 10 menit dengan jarak tempuh 10 kilometer (km) dari rumahnya.

Dalam ruangan yang berisi tak lebih dari 10 orang, Hanna menjalankan aktivitas belajarnya. Jadwal belajarnya tidak menentu. Dalam sehari biasanya hanya dua jam saja. Terkadang dia belajar pukul 08.00-10.00 WIB, 10.15-12.15 WIB, 11.15-13.15 WIB.

Jika jadwalnya siang, dimulai pukul 13.00 WIB sampai 15.00 WIB. "Jadwal yang menentukan gurunya," kata Hanna saat berbincang dengan merdeka.com, Kamis (23/6).

Gadis 16 tahun ini duduk di kelas 11 atau 2 SMA. Namun dia tidak belajar di sekolah-sekolah pada umumnya. Ibunda Hanna, Avianty memilih pendidikan anaknya dengan konsep homeschooling. Semula Avianty menyekolahkan Hanna di salah satu sekolah negeri di Kota Pahlawan. Hanna diterima penjurusan IPA. Kurikulum sekolah itu dirasa tidak cocok dengan minat Hanna. Karena dia tetap harus belajar IPS.

"Penjurusan dari kelas 1 (kelas 10), tapi semua harus dipelajari, dia kurang berminat di IPS, ya akhirnya kami homeschooling," ungkap Avianty.

kegiatan belajar murid sd di bogor yang minim fasilitas

Avianty mulai mencari informasi dan seluk beluk homeschooling. Dengan metode belajar homeschooling, putrinya bisa lebih fokus mempelajari pelajaran yang diminatinya. Keuntungan lainnya, Hanna punya banyak waktu untuk mengasah ilmu lain seperti Bahasa Inggris atau komputer.

Ada dua metode homeschooling yang ditawarkan. Pertama menggunakan modul tanpa aktivitas belajar mengajar dengan guru. Kedua menggunakan modul dan tetap datang ke tempat kegiatan belajar mengajar. Dia memilih metode kedua dan menyekolahkan anaknya di Homeschooling Pena Surabaya.

"Tetap datang ke tempat KBM (kegiatan belajar mengajar) dan dia tetap bisa bertemu teman-temannya. Waktu belajar sehari 2 jam, Senin-Jumat. Guru tetap disediakan oleh tempat KBM itu. Dan yang dipelajari hanya mata pelajaran yang di UNAS-kan saja," jelasnya.

Untuk bisa menyertakan Hanna dalam proses belajar menggunakan metode homeschooling, Avianty harus mengeluarkan biaya lebih mahal dibanding menyekolahkan Hanna di sekolah umum. Setiap bulan Avianty harus membayar Rp 850.000. Biaya ini lebih mahal dibandingkan dengan hanya menggunakan modul saja yakni Rp 300.000. Dia tidak mempersoalkan, apalagi metode belajar semacam ini diakui legalitasnya oleh pemerintah.

Tidak dipungkiri, masih banyak masyarakat yang masih mempertanyakan legalitas pendidikan dengan konsep homeschooling. Terlebih lagi, lulusan homeschooling mendapatkan ijazah Kejar Paket A, B, atau C dan bukan ijazah seperti yang dikeluarkan sekolah formal. Hal ini diakui masih menjadi ganjalan bagi sebagian masyarakat untuk mempercayakan pendidikan anak menggunakan sistem atau metode homeschooling. Tapi tidak bagi Avianty. Yang terpenting pendidikan anaknya tetap berjalan.

"Patokan tetap kurikulum Diknas, tetap ada ujian kenaikan kelas. Nanti ijazahnya Kejar Paket C," ucapnya.

Metode belajar homeschooling memang belum akrab ditelinga masyarakat Indonesia. Tidak dipungkiri, cara belajar dari rumah memang lebih banyak diterapkan di luar negeri. Tengok saja cara belajar Nyson Omar Rizqi dan Naomi Ofira Rizqi yang menetap di Houston, Texas, Amerika Serikat. Cara belajar dengan metode homeschooling yang dilakoni kedua anak itu sudah dimodifikasi dengan menyesuaikan pesatnya perkembangan zaman yakni dengan cara online.

"Sekarang kan era digital, di mana pendidikan sudah tidak berbatas dengan suatu institusi lagi," ujar Kevinia D. Pramono atau biasa disapa Kevin, ibunda Nyson dan Naomi.

Kevin menceritakan, pendidikan di negeri Paman Sam tidak terlalu banyak aturan mengikat. Terpenting, peserta didik mendapatkan pelajaran inti yakni Bahasa Inggris, Matematika, IPA dan IPS.

Metode homeschooling melalui program pendidikan online dinilai Kevin menjadikan putera dan puterinya semakin disiplin mengatur waktu. Keuntungannya, dengan penjadwalan yang matang maka selalu ada waktu untuk berlibur bersama keluarga. Setiap bulan, Kevin dan suaminya harus mengeluarkan biaya USD 17 atau Rp 223.000 untuk program pendidikan yang dijalankan dua buah hatinya.

Metode belajarnya sepenuhnya dengan mengandalkan jaringan internet yang terhubung ke laptop atau komputer mereka di rumah. "Intinya satu hari mereka harus bisa duduk belajar di manapun dan kapanpun kita berada selama 5 jam. Mereka punya timer sendiri jadi sudah otomatis independen," imbuhnya.

ilustrasi belajar menggunakan media laptop

Konsep homeschooling pada dasarnya menempatkan peran orangtua lebih besar ketimbang guru. Ini berbeda dengan konsep sekolah formal yang menempatkan sosok guru sebagai pemeran utama. Memilih metode pendidikan homeschooling juga bagian dari cara Kevin dan suami mengawasi serta memperhatikan perkembangan dua anaknya agar tidak terpengaruh lingkungan yang buruk. Dia banyak mendapat kisah anak-anak di Amerika yang terjerumus pergaulan tak baik. "Jadi Lebih baik kita jaga mereka sampai mereka kuat sesuai yang kita impikan, jangan sampai anak hancur sebelum jadi," kata Kevin.

Kevin tidak setuju dengan anggapan bahwa homeschooling membuat anak-anak kurang bergaul dan sulit berteman. Kevin bersama suami tetap membebaskan anak-anaknya beradaptasi dengan beragam kondisi dan mengakrabkan diri dengan orang lain. Namun tetap dalam pengawasan mereka. "Intinya mereka itu kan homeschooling bukan home alone," tegas Kevin.

Sedikit menengok ke belakang, homeschooling atau sekolah dari rumah sesungguhnya didasari konsep awal pendidikan bahwa belajar dimulai dari rumah. Setelah itu konsep pendidikan berkembang dengan kehadiran guru sebagai sosok pengajar dan menempatkan sekolah di gedung sebagai sarana belajar mengajar.

Konsep pendidikan homeschooling memberikan ruang lebih besar pada peran orangtua. Peran aktif orangtua dalam metode belajar ini menjadi pembeda sekaligus kunci dalam pelaksanaan homeschooling.

Praktisi pendidikan anak, Seto Mulyadi menuturkan, metode homeschooling memberi peluang kepada anak-anak menentukan materi pendidikan yang ingin dipelajarinya. Dalam hal ini, anak tidak lagi menjadi objek melainkan subjek dalam kegiatan belajar. Bahkan, bukan hanya materi pelajaran, gaya belajar pun tidak terikat aturan ketat.

Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Haris Iskandar mengatakan, metode pendidikan homeschooling semakin banyak diminati masyarakat Indonesia. Meski semakin banyak peminat, namun belum semua pemerintah daerah memberi izin penyelenggaraan homeschooling. Karena itu siswa homeschooling baru terdaftar sebagai peserta pendidikan kejar paket A, B, dan C di Penyelenggara Kegiatan Belajar Mengajar (PKBM).

"Mereka terdaftar sebagai warga paket A, B, atau C di PKBM tertentu, sulit untuk memilahnya. Bagi kami yang penting mereka belajar," jelas Haris.

Konsep homeschooling sudah diatur pemerintah dalam Undang–Undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003. Itu terlihat jelas dalam pasal 27 ayat 1 yang menyebutkan kegiatan pendidikan informal yang dilakukan oleh keluarga dan lingkungan berbentuk kegiatan belajar secara mandiri. Lalu dilanjutkan pada ayat 2 yang berbunyi, hasil pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat 1 diakui sama dengan pendidikan formal dan nonformal setelah peserta didik lulus ujian sesuai dengan standar nasional pendidikan.

Berangkat dari aturan itu, Haris menjamin ijazah Kejar Paket yang diterima peserta homeschooling berlaku sama dengan ijazah yang dikeluarkan oleh sekolah-sekolah konvensional. "Insya Allah begitu," tutup Haris. (mdk/noe)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP