Ada sekian aspek yang menjadikan sosok seorang pria tangguh, termasuk di dunia balap. Rifar Helmy Sungar atau biasa disapa Rifat Sungkar adalah satu dari sekian pebalap yang konsisten menekuni bidang motorsport reli.
Setelah merasakan asam-garam di dunia reli hingga menuai prestasi di ajang Asia Pasific Rally Championship, Rifat punya beberapa sudut pandang dari apa-apa yang dibutuhkan jika kita ingin terjun di dunia balap.
"Berlatih, mentalitas dan semangat, kesemuanya itu penting. Tapi, yang pertama itu harus punya mentalitas yang kuat. Meskipun sudah punya kemampuan dan fasilitas, kalau tidak diimbangi dengan mentalitas yang kuat, berarti belum siap untuk berkompetisi," ujar putra pasangan pereli era 1970-an Helmy dan Ria Sungkar ini.
Dalam pandangannya, mental yang kuat bisa dilanjutkan dengan kemampuan fisik, dan sisi teknis terutama mobil dan skill. "Kalau mental sudah kuat, baru kita bicara soal kemampuan fisik; endurance dan durability. Kalau kemampuan fisik menurun, performa ketika di lintasan dan konsentrasi juga pasti menurun. Kemampuan teknis harus diimbangi dengan kemampuan atau daya tahan fisik," tuturnya.
Ia pun menepis cara pandang bahwa balapan pada intinya adalah gas pol dan adu kencang. Menurutnya, strategi untuk membalap pun menjadi hal penting, bahkan tak perlu ragu jika lawan main punya mobil yang lebih canggih.
"Strategi. Kompetisi dalam olahraga otomotif melibatkan banyak faktor. Misalnya jenis lintasan, perbedaan spesifikasi mesin dan lainnya. Balapan bukan cuma sekedar gas pol, adu kencang. Kita harus bisa memaksimalkan 'senjata' kita di saat yang tepat," ujarnya.
"Misalnya, secanggih-canggihnya mobil tim dari satu negara, mobil dari tim manufaktur bisa lebih kencang. Kalau memang kita tahu kalau mobil kita kencang tapi daya tahannya kurang, di track yang pendek kita bisa all-out, tapi di track yang panjang kalau dipaksakan mobilnya bisa nggak kuat," pungkas Rifat Sungkar.
(kpl/nzr/abe)