" /> Deindividuasi Penggemar Sepak Bola | merdeka.com

Deindividuasi Penggemar Sepak Bola

Robert Bala Ketua Yayasan Koker Niko Beeker, Penyelenggara Sekolah Keberbakatan Olahraga San Bernardino (SMARD) Senin, 24 Oktober 2022 11:35
Deindividuasi Penggemar Sepak Bola Solidaritas suporter Semarang untuk korban Tragedi Kanjuruhan. ©Instagram/@psisfcofficial

Merdeka.com - Tragedi Kanjuruhan (1/10) yang menewaskan 134 orang tidak henti menghadirkan tanya: mengapa nyawa manusia begitu mudah dikorbankan? Apakah yang wafat membayangkan bahwa Kanjuruhan menjadi saksi kematiannya?

Meski mudah menjawabnya. Sefanatik apapun, orang tidak akan mengorbankan nyawanya hanya demi sebuah permainan konyol. Tetapi mengapa dalam keadaan kerumunan, tindakan mortal itu bisa terjadi?

Festinger, Pepitone, dan Newcomb, dalam artikel Some Consequences of De-Individuation in a Group, punya jawaban. Pada artikel di Journal of Abnormal and Social Psychology, 47 (1952), mereka mengungkapkan bahwa kerusuhan bisa terjadi karena adanya proses deindividuasi.

Baginya, individualisasi adalah hilangnya rasa individualitas yang diderita subjek ketika mereka menemukan diri tenggelam dalam kelompok. Subjek menjadi tidak dapat dibedakan dari lingkungan terdekatnya (anggota lain dari kelompok). Akibatnya, perilakunya berubah.

Pendapat serupa sebenarnya sudah lebih dahulu diungkapkan Le Bon, G. Dalam The Crowd: A Study of the Popular Mind, 1895, ia tulis bahwa subjek yang berkumpul secara massal adalah anonim dan kehilangan kepribadian sadar mereka. Mereka lalu tenggelam dalam massa. Dalam situasi ini, ketidaksadaran primitif mereka muncul, menyebabkan perilaku irasional dan destruktif. Oleh karena itu, individu padam dalam massa.

Pudarnya rasa individualitas pada satu sisi dan bertambahnya deindividuasi di pihak lain, akan membentuk identitas kolektif. Hal itu kian tampak tidak saja pada saat memenangkan sebuah pertandingan tetapi juga (dan itu lebih dahsyat) saat kalah.

Saat menang, demikian psikolog, Erik Salazar Flores seperti dikutip Fernando Guzmán Aguilar (artikel La afición al futbol, vista por un psicólogo, (Unam Global 31/2/22), eufori itu berefek ke otak dan melakukan fungsi seperti obat. Memicu sekresi dan pelepasan oksitosin dan dopamin, hormon yang terkait dengan kesenangan, di otak.

Hal yang lebih mengerikan justru saat kalah. Penderitaan akibat kekalahan, secara tidak sadar memperkuat identitas kolektif. Individu bersama sesama penggemar, mengalami penderitaan kolektif. Atas nama penderitaan bersama (apalagi ditambah penghinaan dari lawan), maka aksi brutal bisa hadir secara spontan.

Tragedi Kanjuruhan di awal Oktober bisa dijelaskan dalam konteks ini. Sebuah identitas kolektif yang seakan menghipnotis penggemar yang kalah untuk melepaskan individualitas, daya kritis, dan evaluasi diri. Mereka lalu masuk dalam sebuah aksi kolektif yang tentu saja tidak terskenario dari awal.

Selain itu, kasus Kanjuruhan mengingatkan bahwa aksi seperti itu akan lebih mudah terjadi dalam kelompok ukuran besar. Artinya di tengah anonimitas dan tergerusnya identitas individu, dorongan untuk turut terlibat dalam massa akan lebih mudah. Orang yang tadinya secara individual bisa saja baik-baik saja, tetapi oleh sebuah eufori kolektif, mereka pun ikut dan hanyut.

Cerminan Identitas Sosial

Lalu apakah deindividuasi dibiarkan untuk terus menjadi pemicu kekerasan lainnya? Tentu saja tidak. Tragedi Kanjuruhan minimal membangkitkan kesadaran bahwa hal itu tidak bisa dibiarkan.

Pertama, identifikasi kolektif yang tercipta begitu mudah antara penggemar sepak bola sebenarnya menjadi kritik atas entitas sosial lainnya. Politik (partai) misalnya yang digadang-gadang sebagai wadah pendidikan (dan rekrutmen), harusnya menjadi wadah pembentukan identitas kolektif. Sayangnya, masyarakat justru meninggalkan (partai) politik dan lebih menyerahkan identitas kolektifnya terbentuk dalam ruang anonim seperti sepak bola.

Di sini sepak bola seakan "menjajah" ruang entitas lain yang tidak disukai masyarakat. Ada orang yang alih-alih melakukan kritik sosial atau berpartisipasi dalam politik. Mereka malah lebih memilih menjadi bagian dari sebuah hobi, seperti yang terjadi dalam sepak bola. Penggemar lalu "menjangkarkan" diri mereka ke tim untuk menjadi bagian dari identitas bersama.

Pada titik ini kita bisa berkesimpulan bahwa banalitas yang terjadi dalam politik bisa telah menjadi pemicu masyarakat untuk lebih mengikatkan diri menjadi penggemar sepak bola. Sayangnya, justru yang terjadi adalah sebuah kesialan. Mereka terjebak dalam deindividuasi yang kemudian dicaplok oleh identitas kolektif yang rapuh. Tragedi Kanjuruhan adalah cerminan dari identitas sosial kita saat ini yang sayangnya cermin itu retak.

Kedua, kesadaran akan meluasnya desindividualisasi mestinya melahirkan tekad untuk memperjuangkan lagi individualisasi. Meluasnya desindividualisasi sebenarnya menyimpan kerinduan bahwa kini saatnya menempah kembali individualisasi.

Hal seperti ini tentu harus dibentuk. Kita bisa mulai dalam sepak bola dengan menempah penggemar untuk selalu menempatkan individualisasi dan tanggungjawabnya karena di tengah kerumunan, hal itu rapuh.

Pada sisi lain, individualitas sepeti ini perlu dibantu pembentukannya. Contoh berikut ini tentu saja tidak bisa dijadikan ukuran karena terjadi jauh di pelosok di Lembata NTT. Dalam El Tari Memorial Cup (9-29/9), suporter tuan rumah persebata (lomblenmania) telah diawaskan melalui lagu ‘buat apa rusuh-buat apa rusuh, rusuh itu tak ada gunanya’. Kalaupun kalah (sebagai tuan rumah) hal itu mestinya dianggap bisa dan tidak memicu kerusuhan dan hal itu terbukti.

Di luar kancah sepak bola, proses individualisasi mestinya menjadi target pencapaian tiap orang. Memang eufori untuk mencapai persamaan hak (termasuk identitas kolektif) tidak bisa melupakan individu akan kesadaran dirinya. Hal itu diungkapkan secara sangat jelas oleh gitaris Rock, Trey Anastasio: Equality implies individuality. Artinya eufori secara kolektif semestinya diimbangi tanggungjawab individu.

Ketiga, individualisasi tidak cukup kalau tidak disertai upaya memotivasi diri. Tragedi Kanjuruhan terjadi karena kemenangan dan kekalahan dilihat sebagai kenyataan statis. Padahal bagi Vince Lombardi justru tidak demikian: Winners never quit and quitters never wind.

Kanjuruhan, karena itu mengingatkan, yang perlu kita bangun adalah individualisasi dan motivasi diri untuk terus menjadi petarung sejati yang tidak menyerah. Kalau kita sepakat, maka tidak hanya sepak bola maju di negeri ini, tetapi secara bangsa kita pun maju.

[noe]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Opini