Polisi 86 (1)

Tersandung papir

Senin, 3 Maret 2014 07:39 Reporter : Faisal Assegaf
Tersandung papir Ilustrasi Polisi. ©2014 Merdeka.com

Merdeka.com - Dunia madat sudah dia selami sejak masih sekolah. Kegemarannya mengisap narkotik jenis ganja itu akhirnya mengantarkan dia merasakan sesaat pengapnya hotel prodeo.

Bermula dari niatnya membeli selembar kertas pembungkus tembakau biasa disebut papir di sebuah toko minuman beralkohol. Tanpa disadari sekelompok polisi berpakaian bebas dari satuan reserse dan kriminal sudah mengintai dari jauh. Kejadiannya pertengahan 2012. Polisi membekuk lelaki berinisial D itu dengan bukti ganja dibungkus kertas koran dan beratnya tidak lebih dari tiga gram. Jika dilinting bisa menjadi dua batang.

Seperti biasa, malam itu sugesti dalam tubuhnya meninggi untuk mengisap ganja. "Saya sudah mengisap sejak kelas dua sekolah menengah atas, keterusan sampai masuk kuliah," kata pria 25 tahun itu saat ditemui merdeka.com Kamis pekan lalu di Jakarta. Dia mengaku sekarang sudah menjauhi barang laknat itu.

Dulu, dia biasa mengisap ganja bersama teman-temannya di sekitaran rumahnya di wilayah Bekasi, Jawa Barat. Sebuah warung kelontong tak jauh dari kediamannya menjadi tempat pesta kesukaan.

Lazimnya, malam Minggu nahas itu D berencana tongkrong bareng gengnya beli minuman keras sambil bakar ganja. "Tapi (waktu itu) sepi, nggak ada yang lain. Saya pulang lagi,

barangnya masih di rumah," ujarnya. Campuran kedua barang setan itu biasa disebut dua dimensi.

Di tengah jalan pulang, D bertemu seorang temannya. Dengan berboncengan sepeda motor, dia lantas berinisiatif membeli papir di sebuah toko minuman keras milik pensiunan tentara. Toko ini sudah sangat terkenal dan letaknya tepat di belakang sebuah perumahan, menyatu dengan pangkalan angkutan umum menuju pusat belanja dekat pintu tol Bekasi.

Saat membeli papir, penjual sudah memberi kode sambil mengarahkan matanya ke samping. Dia ingin memberitahu ada informan polisi, yakni seorang remaja bertubuh kecil tengah duduk di bangku tepat di depan toko. "Akhirnya saya beli rokok saja setengah bungkus lalu pulang," tutur D.

Sekitar sepuluh meter dari toko itu berdiri sebuah pos dari bambu dan beratap anyaman biasa dipakai sebagai pangkalan ojek. Di sana tengah duduk enam laki-laki dengan tiga sepeda motor terparkir.

Saat melewati pos, mereka menyergap sepeda motor ditumpangi D seraya berteriak mengaku polisi. "Minggir-minggir dari Polres (Kepolisian Resor Bekasi)," tiru D. Salah satu dari mereka kemudian menggeledah D dan interogasi terjadi terkait transaksi pembelian di toko minuman beralkohol barusan.

"Habis beli apa kamu tadi di toko, papir ya? Mau make yah kamu? Di mana kamu mau make ganja? Tongkrongannya di mana?, ujar seorang polisi. Dia panik setengah mati menjawab para anggota reserse waktu itu.

D berkelit. Namun cepu remaja di warung tadi membantah semua sangkalan D. Setelah tak ditemukan barang bukti, anggota reserse membawa D untuk mengikuti tes urine di Rumah Sakit Bhakti Kartini, Margahayu, Bekasi. "Tes urine bisa jadi barang bukti juga," gertak anggota reserse kepada D.

Badannya lemas, jantungnya berdetak kencang. Sambil menunggu hasil tes urine, selama 45 menit pemeriksaan terus berlangsung sampai akhirnya mereka menemukan barang bukti ganja. [fas]

Topik berita Terkait:
  1. tag
  2. Kasus Narkoba
  3. Polisi Narkoba
  4. Polisi 86
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini