KAPANLAGI NETWORK
MORE
  • FIND US ON

Sadiq Khan, Ahok-nya London

Senin, 9 Mei 2016 09:11 Penulis : Christianto Wibisono
Sadiq Khan. ©2016 Merdeka.com

Merdeka.com - Bersama Bung Karno saya baru saja Jumat 6 Mei 2016 menyaksikan terpilihnya Sadiq Khan sebagai muslim walikota London pertama dalam sejarah 2000 tahun ibukota Inggris Raya yang pernah menjadi imperium Pax Britannica selama abad ke XiX. Ketua Partai Buruh Jeremy Corbyn mencuit Sadiq dengan tag 'Yes We Khan' setelah pada Selasa 3 Mei menghadiri rapat International Parliamentarian for West Papua.

Sadiq menjadi muslim kedua setelah Ahmed Aboutaleb walikota Rotterdam keturunan Maroko terpilih pada 5 Januari 2009. Sadiq adalah warga Muslim pertama yang masuk kabinet Inggris 2009 dan Indonesia kini juga menjadi domisili muslim dubes Inggris pertama untuk RI Moazzam Malik.

CW: Apa makna terpilihnya Sadiq sebagai Muslim pertama menjadi walikota London?

BK: Saya rasa kita harus bangga bahwa Ahok sudah lebih dulu dari Sadiq Khan dan London membuktikan bahwa Indonesia bisa menghargai meritokrasi tanpa melihat asal usul SARA. Ya kita ini memang selalu “kepagian” orang lain belum mikir kita sudah beraksi. Sadiq menyusul Aboutaleb yang jadi walikota Rotterdam 2009 dan telah beberapa kali mengunjungi Jakarta bermitra dengan Gubernur Ahok untuk rencana Giant Sea Wall yang sekarang terhadang kemelut reklamasi. Yang lebih serius dari urusan walikota ini adalah rapat yang digelar oleh International Parliamentarians for West Papua (IPWP) di London Selasa 3 Mei 2016. Di situ Jeremy Corbyn, Ketua Partai Buruh menyatakan dukungan membawa isu Papua ke PBB untuk melakukan Internationally Supervised Vote di Papua. Corbyn baru mengalahkan Ed Milliband bulan September 2015 dengan mandate lebih besar dari Tony Blair 1994.

Untungnya pemilih Inggris sudah dewasa dan secara keseluruhan Partai Buruh mengalami penurunan dalam pemilu sela, kecuali kemenangan Sadiq atas Zac Goldsmith dari Partai Konservatif di London. Kita sudah sering berdialog tentang universalisme nilai luhur agama Abrahamic yang “murni”. Para modernis Mesir Djamaludin Al Afgani dan Muhamad Abduh menyatakan bahwa mereka menemukan nilai “Islam sejati” justru di Inggris yang menghormati HAM. Dan memberlakukan sesama manusia setara tanpa diskriminasi SARA yang justru dipraktikkan oleh elite Muslim formal di negara Timur Tengah. Jadi kata kuncinya adalah nilai luhur Islam dan derivatives Abraham, bapak orang beriman justru dilaksanakan di Inggris. Sedang di negara negara Arab Timur Tengah yang mengklaim sebagai Islam, rakyatnya tidak kerasan, kapiran, kesrakat dan semua mau jadi pengungsi ke London, Inggris dan Eropa. Inilah yang sedang terjadi di dunia.

CW: Wah jadi mumet, agama formal beda dengan agama aktual. Tapi tetap saja dunia masih diganggu teroris ISIS dan perilaku biadab 14 pemerkosa Yuyun di Rejang Lebong Bengkulu yang sangat mengkawatirkan kita semua bahwa generasi muda Indonesia sudah termakan mental pemerkosa, pemabuk dan penyiksa wanita yang pengecut karena mengerubuti seorang gadis cilik tak berdaya.

BK: Saya sudah cukup jadi mantan manusia untuk mengatasi emosi yang hampir meledak di dada ini mendengar kasus Yuyun bisa terjadi di negeri kita dan cucu saya sempat tidak tahu menahu dengan kasus yang menyedihkan itu. Bangsa kita itu cenderung tidak suka detail dan tidak mau belajar dari masa lalu, sejarah dan pengalaman orang lain dan diri kita sendiri untuk jadi cermin, hakim, wasit, guru dan pencerah pemikiran yang baik, netral dan bermanfaat. Bangsa Jepang yang karena Budhis sering dinilai “atheis” malah menghormati dan menghargai orang lain, wanita lain. Karena mereka menerapkan hukum besi Golden Rule, jangan anda melakukan sesuatu yang anda tidak ingin orang lain lakukan terhadap anda. Kalau tergoda untuk memperkosa, segera dilarang oleh akal sehat dan hati nurani bayangkan seandainya wanita yang kamu mau perkosa itu adalah anak, adik, kakak atau istri anda sendiri.

Begitu juga dompet yang kembali setelah jatuh di kereta api. Karena masyarakat tidak ingin dompetnya hilang maka mayoritas mengembalikan dompet. Ini semua dilakukan dalam praktek, bukan cuma didakwahkan dikotbahkan. Sedang para pemimpin kita pidato anti korupsi tapi semua tertangkap tangan atau terbongkar brandkasnya penuh uang tunai valuta asing, karena sudah tidak percaya lagi sama rupiah.

CW: Kembali ke soal ideologi yang katanya sudah kalah oleh pragmatisme. Apa yang Bapak lihat dari benang merah bangkitnya Jeremy Corbyn di Inggris, Bernie Sanders di AS dan ketakutan terhadap bangkitnya kembali komunisme di Indonesia setelah Menko Polhukam mengizinkan Seminar kesejarahan 1965.

BK: Seperti saya katakan tadi Indonesia ini negeri mistik dan penuh legenda yang popular meskipun belum tentu benar. Kalau di Eropa ada mitos dan legenda Drakula, maka di Indonesia ini partai politik yang sudah bubar malah jadi Drakula politik yang lebih menakutkan dan dianggap lebih berpengaruh dari ketimbang masih hidup. Misalnya Partai Sosialis Indonesia (PSI) yang cikal bakalnya lahir dari duet Sutan Syahrir - Amir Syarifuddin yang menjadi PM kedua dan ketiga setelah saya digusur dari kabinet presidensial pertama. Partai Sosialis berkesempatan memimpin pada dasawarsa pertama Republik.

Keburu pecah karena Amir Syarifudin ikut pemberontakan PKI Musso 1948 dan Sutan Syahrir tidak pernah akan come back setelah digulingkan oleh Amir dari kursi PM ke-2 RI pada 11 November 1947. Pada pemilu 1955, PSI tersapu oleh pemilih grassroots hanya menjadi partai intelektual gurem yang memperoleh cuma 5 kursi DPR. Setelah itu karena terlibat PRRI Permesta bersama Masyumi yang menjadi juara kedua pemilu 1955, dua partai itu saya bubarkan 1960. Secara formal saya orbitkan tokoh tokoh Muhamadiyah seperti Mulyadi Djojomartono sebagai unsur pengganti politisi berwadah eks Masyumi. Sedang dengan eks PSI melalui Subandrio saya tetap mempergunakan masukan brilliant mereka seperti waktu Soedjatmoko menyusun Deklarasi Ekonomi 1963.

Untuk mengatasi kemerosotan ekonomi yang terjadi karena saya menggunakan US$ 2,5 miliar untuk membeli pesawat tempur MIG dan kapal selam untuk merebut Irian (Papua) Barat. Nah kemudian meletus G30S PKI dan Soeharto membubarkan PKI bahkan membuat TAP MPRS melarang Marxisme Komunisme. Sejak itu sudah 50 tahun PKI bubar. Tapi Indonesia masih ketakutan dan lucunya ada juga yang masih keblinger pro komunis, padahal Boris Yeltsin dan Deng Xiaoping kapok karena sudah jadi komunis 70 tahun dan 30 tahun negaranya malah bangkrut tidak mampu mendeliver sembako ke supermarket meski berhasil kirim sputnik dan kosmonaut. Persis seperti Korea Utara, punya nuklir tapi rakyatnya tidak sejahtera seperti Korea Selatan.

Drakula Masyumi PSI PKI

CW: Jadi maksud bapak, orang atau elite Indonesia itu kepagian, kesiangan, kesorean dalam ikut ikutan arus perubahan zaman dari era Perang Dingin melawan komunisme sampai Perang Teror antar peradaban malah jadi korban ISIS atau dikelabui dan dikacau oleh ISIS termasuk kasus penyandraan Abu Sayyaf yang memicu konflik terbuka Megawati Jokowi.

BK: Ya itu risiko dari sistem politik terbuka. Apa yang dipikirkan Megawati bisa spontan diucapkan begitu pula sebaliknya dengan guyonan bersama santri “buta politik”. Jokowi menyindir bahwa dimana rakyat biasa itu yang dikenal sebagai presiden ya Jokowi. Bukan Megawati, Prabowo atau Ahok yang malah cuma ditebak jadi menterinya Jokowi. Dunia ini memang sedang mengalami demam anti jurang ekonomi antara kelas super elite dengan masyarakat yang celakanya mungkin 20% masih di bawah garis kemiskinan hidup di bawah US$ 2 per hari atau sekitar Rp. 27.000 sedang elite politik punya milyaran rupiah atau jutaan dollar di brand kasnya. Semua isu tentang Gini rasio dan kesenjangan kaya miskin dan kepemilikan aset memang laku keras dan bisa dipakai untuk menghasut orang menjadi “komunis” yang anti jurang kaya miskin.

Tapi resepnya jelas tidak bisa kembali ke drakula Marxisme, komunisme, Leninisme, Maoisme. Seluruh dunia sudah paham bahwa Marxisme dan turunannya gagal total memberi kesejahteraan yang lebih merata. Jadi kalau di Indonesia masih banyak orang terutama elitenya membuang waktu untuk berdebat minta maaf, minta hukuman buat pelaku yang sebagian besar sudah wafat itu berarti rakyat Indonesia sedang hidup dalam mimpi mistik Drakula Politik. Segala macam bekas partai politik yang sudah bubar secara orgnisatoris maupun ideologis karena ternyata semua munafik tidak perlu diperpanjang dan menyita waktu kita semua. Masak orang masih mau jadi ISIS setelah Sadiq Khan bisa jadi Walikota London Muslim pertama selama 2000 tahun kota legendaris itu. Juga setelah Obama bisa jadi presiden tanpa perlu kudeta model Afrika dan Timur Tengah, kenapa orang masih ribut dengan isu sara yang ketinggalan zaman. Drakula Masyumi, PSI, PKI, Ku KLuk Klan, komunisme, ISIS dst dsb sebetulnya Cuma rekayasa elite untuk mengelabui masyarakat yang sebetulnya simple, ingin hidup lebih baik, lebih aman, lebih tenang, lebih sejahtera dengan cara halal, kerja keras dan menghargai meritokrasi tanpa ditindas sewenang wenang oleh elite pelanggar HAM. Itu saja tuntutan mereka just as simple as that.

Maka kembali ke Abduh, Di Eropa saya melihat orang non Muslim menerapkan nilai luhur Islam sejati, di Timur Tengah justru despot tirani beragama formal Islam, menindas rakyat secara sewenang wenang. Itulah yang sekarang terjadi hingga arus pengungsi membanjiri Eropa. Nah kalau yang menang di Eropa adalah ideologi ISIS dan bukan lingkungan yang memilih Sadiq dan Aboutaleb maka ekstremnya akan muncul Donald Trump yang juga memakai jalur sara untuk menyetop ketakutan grassroots terhadap kondisi tidak favorable yang ditimbulkan ISIS.

CW: Terakhir kaitan dengan soal Papua dan SARA, Mei yang juga jadi mistik mitos dan legenda.

BK: Ya betul bulan Mei itu diawali oleh Hari Buruh yang tentu saja berkonotasi Marxisme. Tapi segera disusul hari lahir Ki Hajar Dewantara yang mawas diri dan positif. Bulan Mei 1963 adalah penyerahan Irian ke RI melalui perantaraan PBB yang dikukuhkan dalam Referendum 1969. 10 Mei 1963 adalah peristiwa rasialis di Bandung makan korban anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia PPKI drs Yap Tjwan Bing yang hijrah ke AS karena menderita trauma. 13 Mei 1969 adalah perang rasial di Kualalumpur Malaysia yang selalu dijadikan momok oleh golongan Melayu untuk mengingatkan kelompok Tionghoa Malaysia agar tidak mengungkat ungkit hak prerogative Melayu bumiputera. 13 Mei 1998 adalah The Rape of Jakarta yang oleh ekstremis SARA masih dipakai untuk perang primitif melawan Ahok. Karena mereka gagal mendiskreditkan Ahok seperti juga pemilih London menolak isu sara terhadap Sadiq Khan.

Nah yang perlu diwaspadai ialah kohabitasi Partai Buruh, komunisme dan SARA dalam satu paket 3 in 1 yaitu Jeremy Corbyn terjebak menggelundungkan isu Papua ke PBB. Karena ideologi para penganut Marxisme AS dan Eropa Barat (termasuk Ingris dan negara EU lain) yang merasa Marxisme belum pernah dicoba di Eropa Barat dan hanya gagal di Uni Soviet, RRT dan Eropa Timur. Kemudian mereka juga melihat gejolak faktor SARA anti ISIS dan anti teror, dicampur aduk dengan faktor SARA kesamaan etnis dengan Afro Melanesia. Nah campur aduk ini yang harus diwaspadai. Untung Nelson Mandela sudah wafat, sebab pemenang hadiah Nobel Uskup Desmond Tutu kabarnya merestui referendum di Papua. Elite Indonesia harus waspada, kalau sampai Jeremy Corbyn membawa Partai Labour menang mengalahkan partai Konservatif, dan membolasaljukan Papua merdeka, maka itu akan sangat rawan bagi Indonesia. Dubes Rizal Sukma dari CSIS saya rasa punya kapabilitas intelektual dan profesional sebagai lobbyist tangguh berdiplomasi di Istana Saint james dan di lubuk hati masyarakat Inggris untuk bisa meruwat dan merawat hubungan bilateral Jakarta London secara cerdas, canggih menghindari politik keblinger 3 in 1 SARA Corbyn.

CW: Terima kasih ada uraian yang sangat tepat imingnya dengan bulan Mei yang penuh tantangan bagi bangsa Indonesia, masyarakat ASEAN dan dunia yang sedang bingung menghadapi Drakula Masyumi PSI PKI pada tingkat global universal. Sebab ternyata tiga partai itu juga masih hidup segar bugar secara internasional meski berbentuk NGO, LSM dan organisasi tanpa bentuk melalui sosmed dan aksi aksi yang terselubung dengan slogan muluk dan innocent. Tapi berbisa dan berdampak destruktif bagi masyarakat dunia yang cinta damai dan cinta Golden Rule. Jangan melakukan sesuatu kepada orang lain yang ada tidak ingin orang melakukan pada anda. Tapi berbuat baiklah kepada sesama, seperti anda ingin orang memberlakukan anda. Sampai ketemu 16 Mei 2016 edisi ke-19. [war]

Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Subscribe and Follow

Temukan berita terbaru merdeka.com di email dan akun sosial Anda.