Gaji kecil, buruh pabrik nyambi jual diri

Sang mucikari juga dikenal sebagai Anjelo (Antar jemput Lonte).

Pramirvan Datu Aprillatu
Gaji kecil, buruh pabrik nyambi jual diri
Ilustrasi Prostitusi. ©2014 Merdeka.com

Wajahnya tampak polos. Seorang wanita muda, berinisial RA, datang bersama lelaki berumur separuh baya bergaya modis berboncengan sepeda motor matic. Wajah wanita muda itu dipoles bedak dan bibirnya bergincu. Dia tidak genit. Sesampai di sebuah hotel melati di kawasan Industri dia ditunggu pria hidung belang yang hendak memakai jasanya sebagai pekerja seks komersial (PSK).Tepatnya di wilayah Jatiuwung, Tangerang, Jawa Barat, para buruh harian mencari tambahan sebagai pekerja seks. Hal itu akibat rendahnya upah minimum kota/kabupaten (UMK). RA memilih jalan gelap untuk menambah penghasilannya. Selama dua tahun bekerja sebagai buruh di pabrik garmen, penghasilan RA masih kurang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari."Buat tambahan beli susu, selebihnya buat hidup sehari-hari saja," ujarnya kepada merdeka.com di Jakarta, pekan lalu. Dia menjadi tulang punggung keluarganya sebagai anak pertama. Dari tinggal bersama kedua orang tua dan tiga adiknya yang masih bersekolah. Mereka masih tinggal di satu atap di wilayah sama."Anak satu baru berumur enam tahun," kata wanita lulusan Sekolah Menengah Atas (SMA) itu. Dia sadar, pekerjaan malam yang dia ambil tidak baik. Wanita kelahiran Tangerang itu memang belum lama menjanda. Lewat bisikan teman sepabriknya, ajakan menambah fulus lewat esek-esek ditekuni baru beberapa bulan. "Memang beberapa teman sudah duluan jadi beginian," ujarnya.Modusnya memang terbilang rapih. Seorang lelaki kenalannya di pabrik biasa menjadi mucikari bagi RA dan teman seprofesinya di kawasan pabrik. Lelaki itu biasanya seorang jawara di wilayah tersebut. "Biasanya anggota Ormas juga, tapi emang disegenin," ujarnya. Sang mucikari juga dikenal sebagai Anjelo (Antar Jemput Lonte).Di pabrik garmen milik perusahaan negeri ginseng itu memang menjadi salah satu perusahaan yang melayangkan permohonan penangguhan UMK 2015 lalu. Saban bulan RA cuma mengantongi bayaran sampai Rp 1,3 juta. Belum dihitung upah melebihi jam kerja atau lembur."Kalau ada lembur tapi enggak tentu, bisa bawa pulang Rp 1,7 juta paling banyak, masih kurang kemana-mana," ujarnya.Besaran upah minimum kabupaten atau kota 2015 di Banten sudah diketuk. Tetapi kenyataannya, banyak perusahaan enggan membayar upah sesuai UMK. Memang bukan menjadi alasan wanita bekerja sebagai buruh lepas menjadi wanita penghibur para pria hidung belang. Akibat tak langsung perusahaan-perusahaan nakal menjerumuskan sebagian wanita ke dalam kehidupan liar.

Rekomendasi