Rintik hujan menemani Pak Parno berbagi kisah tentang Tambora. Raut wajah beberapa pendaki muda nampak serius memperhatikan dan mendengar penuturan lelaki yang hampir setengah abad menjadi bagian dari gunung berketinggian 2.851 meter di atas permukaan laut (mdpl) itu. Nama aslinya Suparno, dia bekas kepala Perkebunan Kopi di Dusun Tambora, Desa Oi Bura, Kecamatan Tambora.Meskipun bukan warga asli Kabupaten Bima ataupun Kabupaten Dompu, Suparno tahu betul seluk beluk kisah yang tersimpan di balik gunung yang tercatat memiliki kaldera terluas di dunia. Dia kini menjaga situs pabrik kopi peninggalan zaman Belanda. Gayanya bercerita persis orang mendongeng.Dalam bahasa Bima, Tambora berarti ajakan menghilang. Ta diartikan sebagai ajakan, sedangkan Mbora artinya hilang. Nama Tambora lahir dari perpaduan sejarah berbalut cerita rakyat yang dipercaya kebenarannya. Seorang ulama asal Jambi, Syekh Said Idris tak pernah muncul kembali dan tak jelas keberadaannya setelah dibawa ke gunung dan dihabisi anak buah Raja Tambora Abdul Gafur.Syekh Said Idris dibenci Raja Abdul Gafur karena membawa Islam di tengah kehidupan rakyat kerajaan yang semula percaya animisme dan sangat menghormati raja. Rakyat mulai mendalami ajaran agama yang dibawa sang ulama. Syekh tersebut juga membuat raja marah lantaran menolak memberi hormat dan memuja raja karena tidak sesuai dengan ajaran Islam. Kekesalan raja semakin menjadi-jadi setelah Syekh Said Idris mengusir anjing raja yang memasuki masjid.Pak Parno mengisap dalam-dalam rokoknya, dan kembali melanjutkan ceritanya. Berbagai cara licik digunakan Raja Abdul Gafur untuk menjebak Syekh Said Idris. Suatu kali, Syekh Said Idris diundang menghadiri makan malam di istana kerajaan Tambora. Raja menjebak dengan menyuguhkan daging anjing untuk Syekh Said Idris. Sementara tamu lainnya, disuguhkan daging kambing. Syekh beranggapan dan meyakini, daging yang disantapnya adalah daging kambing, seperti yang disantap tamu lainnya.Sang Raja berkeras mengatakan bahwa daging itu adalah daging anjing. Namun Syekh Said Idris bergeming dan tetap pada pendiriannya. Kesal jebakannya tak berhasil, Raja Abdul Gafur memutar otak untuk menghabisi Syekh Said Idris. Dibawalah Syekh Said Idris naik gunung dan dia menghilang tak pernah kembali lagi. Menurut kepercayaan rakyat, di sanalah Syekh Said Idris dihabisi. Karena itu, gunung tersebut dinamakan Ta Mbora yang diartikan ajakan menghilang.Dari situ petaka muncul. Setelah tertidur ribuan tahun, Gunung Tambora murka pada 1815. Gelegar mura Tambora terekam melalui tulisan abdi dalem istana yang dirangkum dalam kumpulan arsip kesultanan Bima yang bernama Bo’Sangaji Kai. Buku itu berisi peristiwa dari tahun 1700-an sampai 1800-an. Catatan buku terhenti persis saat Tambora menunjukkan amarahnya dan mengubur tiga kerajaan yakni Tambora, Pekat, dan Sanggar.Tidak semua rakyat di tiga kerajaan itu binasa. Mereka yang percaya ajaran agama yang dibawa Syekh Said Idris diyakini selamat dari jilat lidah api dan amarah Gunung Tambora. Sementara rakyat yang tunduk dan menjalankan perintah raja, binasa bersamaan dengan hancurnya peradaban tiga kerajaan itu.Kisah itu ditulis dalam sebuah cerita berjudul Asal Mulanya Meletus Gunung Tambora. Dalam cerita itu dikisahkan Tambora lenyap karena murka Tuhan terhadap raja Tambora yang dilukiskan mengingkari ajaran Islam. Sumber lain berasal dari Syair Kerajaan Bima gubahan katib Lukman sekitar 1830. Dia seorang pejabat kesultanan Bima yang menceritakan raja Tambora sebagai seorang yang takabur dan durhaka sehingga negerinya dikutuk.Catatan ahli sejarah dan geologi menggambarkan maha dahsyatnya letusan Tambora yang menghancurkan hampir sepertiga tubuh gunung tersebut. Gunung yang semula berketinggian 4.300 mdpl, kini hanya menyisakan 2.851 mdpl dengan lubang kaldera terluas di dunia yakni berdiamater 7-8 km. Tidak hanya itu, dampak erupsinya juga dirasakan hingga Amerika dan Eropa. William Klingaman dan Nicholas Klingaman menggambarkan tahun tanpa musim panas melanda Eropa pasca meletusnya Tambora. Ahli vulkanologi sepakat menempatkan letusan Tambora sebagai petaka gunung api terbesar sepanjang peradaban manusia.Lelaki asal Pati itu mengakhiri ceritanya. Hampir sebagian besar penduduk Tambora dan Bima mendengar dongeng mengenai sejarah Gunung Tambora dari para orang tua dan sesepuh. Kisah rakyat di balik nama Tambora dan sejarah terbentuknya peradaban masyarakat di sana, diceritakan turun temurun meski tingkat kebenarannya hingga saat ini masih terus dipelajari oleh kalangan peneliti dan akademisi. Tapi bagi penduduk setempat, cerita rakyat itu terus dipelihara.Raut wajah Pak Parno sedikit menyiratkan kekecewaan lantaran menjumpai kenyataan saat ini anak-anak di kaki Gunung Tambora justru tak tahu soal dongeng atau cerita rakyat yang selama ratusan tahun diceritakan turun temurun. Tongkat estafet cerita rakyat mengenai Tambora tak boleh berhenti. Tradisi itu harus terus dipertahankan sebagai bentuk kebanggaan memiliki gunung dengan sejarah panjang yang gemuruh letusannya mengubah dunia. Kalau perlu, sapalah dunia dengan dongen tentang Tambora.