@Starbucks_Kokas, makan malam @Jala-jala_KuninganCity, atau Ngegym @FitnessFirst_Platinum, demikian kadang kita melihat teman-teman kita (atau bahkan kita sendiri) di Facebook, Path, Twitter sedang menunjukkan aktivitasnya. Sebagian dari kita mungkin berpikir, wah.. keren, atau mungkin ada dari kita yang nyinyir: 'penting gak seeh buat gue, tau loe ada di mana'.Demam 'pamer', atau riya' dalam bahasa Arabnya di media sosial memang sedang mewabah di kalangan masyarakat kita. Mungkin maksud mereka bukan pamer, tapi sekadar update status, atau buat lucu-lucuan dan seru-seruan saja. Namun kalau dilakukan secara terus menerus, masif, dan berkesinambungan, wajar saja jika orang menganggap ini adalah perbuatan riya'.Seorang teman saat saya sindir, 'kok kamu kerap posting sedang berada di tempat-tempat yang mewah', dia menjawab dengan enteng, 'ini adalah tahadduts bini'mah (menceritakan/memperlihatkan kepada khalayak kenikmatan yang Allah berikan). Maklum, dia anak pesantren, jadi bisa-bisa saja ngeles, kayak bajaj.Tapi memang postingan teman yang menunjukkan mereka sedang sama siapa, lagi dimana, makan apa, dan sebagainya, kadang mengganggu. Kebiasaan-kebiasaan 'pamer' tersebut parahnya kini telah menggejala di kalangan kita, penikmat social media. Jangan anggap meski menulis tentang fenomena riya' ini, saya bebas dari 'penyakit' riya. Justru tulisan ini saya dedikasikan buat diri sendiri, biar tak suka riya', tapi sekali-kali boleh lah ya.Tak cuma di Path, di Twitter orang kadang juga kerap 'memamerkan' pengetahuan, berkedok kultwit, atau apalah apalah (mengikuti gaya komentator acara dangdut di Indosiar). Mengambil tema tertentu, kadang orang sampai betah kultwit puluhan, bahkan ratusan seri. Keren sih, tapi kalau itu benar-benar dari pengetahuan si pelaku kultwit. Soalnya, kadang ada orang kultwit bahannya dari googling, atau tanya-tanya ke teman. Tapi dengan bahasa dia sendiri, informasi yang dia dapatkan dari berbagai sumber itu dia tuangkan dalam bentuk kultwit yang bikin mereka tampak kelihatan cerdas selangit. Kemarin, Selasa (14/4), mantan pemimpin redaksi sebuah stasiun televisi swasta, nulis status di Facebook. Kalau gak salah bunyinya seperti ini: Tidur cepat, bangun cepat..Teringat curhat para jurnalis muda, reporter. Senior/pemred nya suka kultwit informasi liputan medianya, seolah dia sendiri yg meliput. Atau menulis. Reporter menyabung nyawa dan berkeringat untuk dapatkan bahan2.Atau membuat status panjang...seolah liputan langsung. Padahal itu liputan reporter.Status Facebook di atas merupakan suatu hal yang mungkin saat ini lumrah terjadi di lingkungan media. Para reporternya berjibaku dengan liputan dan cover both side, sementara atasannya ongkang-ongkang, nulis status di Facebook, seolah-olah dia yang paling ngerti kondisi di lapangan.Saya ingat beberapa tahun lalu, teman saya, seorang wartawan, yang sebenarnya juga cuma kenal di sosial media, dia menanyakan suatu hal kepada saya lewat direct message. Tak lama kemudian dia ngetwit informasi yang dia dapatkan dari saya. Cakeppp.Ah.. tapi mungkin sebenarnya saya saja yang suudzon kepada mereka. Mungkin mereka tidak bermaksud riya, dengan memberikan informasi-informasi A1 lewat social media, atau posting makanan enak, tempat yang cozy, di hampir semua timeline-nya. Jangan-jangan mereka juga melakukan tahadduts bini'mah, seperti teman saya di atas.Tapi satu hal, boleh-boleh saja kita pamer dan berlagak sok iye. Asal memang kenyataannya kita memang keren, apa yang kita tampilkan di social media memang sesuai dengan keseharian kita, kemampuan kita. Jangan sampai kita jadi orang-orang yang dalam kategori BPJS: Budget Pas-pasan, Jiwa Sosialita. Silakan tertawa, hahaha.
Anwar Khumaini
Penulis adalah wartawan www.merdeka.com. MerdeKata merupakan ruang opini para penulis di merdeka.com yang diunggah setiap Kamis.