Pernyataan Kepala Kantor Staf Kepresidenan Luhut Panjaitan mengusik tanya dalam hati. Intinya begini, Luhut menekankan soal pentingnya menjaga kelestarian hutan. Investasi dan pembangunan nasional tak perlu merusak hutan. Indonesia tak boleh didikte negara lain dan membiarkan investasi merusak lingkungan. Semua perlu berjuang agar tidak menyesal di kemudian hari.Benarkah itu sebagai bentuk komitmen atau sekadar pemanis lidah? Kalaupun benar, mengapa tidak sejak dulu? Faktanya, selama ini hutan telah diperkosa habis-habisan demi kepentingan bisnis. Tengok saja pembukaan lahan besar-besaran di Kalimantan dan Sumatera demi pundi-pundi uang dari bisnis kelapa sawit, kertas, dan pertambangan. Indonesia dengan kekayaan dan keanekaragaman hayati terbesar kedua di dunia--setelah Brasil--bisa jadi suatu saat nanti hanya tinggal cerita setelah isi rimba tak ada tempat berpijak lagi. Begitu yang diungkapkan penyanyi legendaris Iwan Fals.Dampak lainnya, hubungan antara manusia dan alam tak lagi harmonis. Alam, khusus dalam hal ini hutan, tak lagi memberi apa yang dibutuhkan manusia. Asumsi itu dikaitkan dengan kematian 11 anak rimba suku anak dalam di kawasan Taman Nasional Bukit Duabelas, Jambi, belum lama ini. Kematian mereka disebut-sebut karena bencana kelaparan. Peristiwa ini tentu menohok pemerintah. Wajar saja, bencana kelaparan bisa dipandang sebagai bukti kegagalan pemerintah melindungi rakyatnya.Saya sendiri tidak sepenuhnya percaya kabar penyebab kematian 13 anak rimba dari suku anak dalam karena bencana kelaparan. Secara logika saja, manusia yang hidup berdampingan dengan alam (hutan) seyogyanya takkan pernah kelaparan. Segala yang dibutuhkan untuk bertahan hidup, disediakan secara gratis selama tidak digunakan secara serakah.Hutan menjadi rumah dan sumber penghidupan orang rimba. Mereka hidup lepas di alam liar, baik dalam kelompok kecil maupun besar. Mereka jauh lebih kuat dibanding orang kota yang hidup serba praktis namun tetap saja mudah mengeluh. Orang kota mengandalkan kebaikan negara lain melalui bahan pangan impor, orang rimba justru percaya kebaikan hutan beserta isinya, untuk kehidupan mereka.Asumsi kematian manusia rimba karena bencana kelaparan bisa benar adanya jika melihat kondisi hutan Indonesia dewasa ini. Perusakan hutan secara massif seolah membenarkan kondisi memprihatinkan yang harus dialami orang-orang yang menggantungkan hidup dari kebaikan hutan. Kehidupan dan hubungan baik orang rimba dengan alam terusik kepentingan pemilik modal dan pebisnis lewat pelbagai proyek yang seakan 'mengharuskan' tindakan perusakan hutan.Jika dibanding negara lain, hutan Indonesia tercatat sebagai yang tercepat mengalami deforestasi. Tidak hanya itu, rusaknya hutan tropis di Indonesia berimbas pada keberadaan satwa yang kehilangan habitatnya di alam. Jangan heran jika terjadi konflik antara satwa liar dan manusia yang hidup di sekitar hutan. Data Greenpeace menunjukkan, angka kematian manusia akibat serangan harimau meningkat rata-rata dari 2 menjadi 14 jiwa per tahun.Mereka (orang rimba) terpaksa hidup berpindah-pindah lantaran termarjinalkan di rumahnya sendiri. Makanan yang biasa diperoleh dari alam, secara perlahan hilang bersamaan dengan bunyi raung buldozer dan gergaji yang tak pernah berhenti. Secara sadar kita mengetahui, menyadari, bahkan mengakui, paru-paru dunia tengah dirusak secara terstruktur, massif dan sistematis. Keanekaragaman hayati yang terkandung di dalamnya semakin hari terancam keberadaannya.Kehidupan manusia modern di tengah gemerlap kota yang penuh dengan kesibukan, membuat kita alpa menjaga hubungan baik antara manusia dan alam, khususnya hutan. Surga bagi segala jenis spesies tanaman dan hewan sewaktu-waktu bisa berubah menjadi neraka. Revolusi mental yang didengungkan pemerintahan baru seharusnya bisa menyentuh tingkat kesadaran kemudian menggerakkan naluri rakyat Indonesia untuk merawat hubungan manusia dan alam.Tidak bisa ditawar lagi, upaya merawat hubungan manusia dan hutan harus terus dilakukan. Apalagi semakin banyak rakyat Indonesia yang hidup tergantung kebaikan hutan. Data Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2014 mencatat, jumlah masyarakat yang tinggal di kawasan hutan sudah mencapai 8,64 juta rumah tangga. Dengan asumsi satu keluarga terdiri empat orang, maka ada 32 juta orang yang hidup di sekitar dan di dalam hutan. Dalam kurun waktu satu dekade, jumlah manusia yang hidup bergantung pada hutan naik 800.000 rumah tangga. Pada 2004 lalu hanya mencapai 7,8 juta rumah tangga.Orang rimba menjaga betul rumahnya dari segala bentuk kerusakan karena sadar betul di sanalah denyut nadi kehidupan mereka. Dari orang rimba sesungguhnya kita diajarkan pentingnya menjaga hubungan baik manusia dan alam. Hubungan mereka menjadi bagian dari kearifan lokal, salah satu kekayaan Indonesia. Itu perlu dilakukan untuk menjaga asa (harapan) orang rimba agar mereka tak sekadar hidup hanya untuk menanti giliran mati karena kelaparan.
Wisnoe Moerti
Penulis adalah wartawan www.merdeka.com. MerdeKata merupakan ruang opini para penulis di merdeka.com yang diunggah setiap Kamis.