Peran koran Tionghoa buat Sumpah Pemuda

Senin, 30 Oktober 2017 06:00 Reporter : Rendi Perdana
Koran Sin Po. ©2017 Merdeka.com/rendi

Merdeka.com - Alunan biola di tengah Kongres Pemuda II pada 28 Oktober 1928 begitu merdu. Dimainkan seorang anak muda. Pria berkacamata dan memakai peci hitam. Membawakan karya ciptaannya. Berhasil membakar semangat para peserta. Mereka datang dari pelbagai daerah. Berkumpul di Jalan Kramat Raya No.106, Jakarta. Dalam sebuah gedung. Bersepakat menjadi satu bangsa. Sekaligus menjadi pendengar pertama lagu Indonesia Raya.

Pria berkacamata itu adalah Wage Rudolf Supratman. Akrab dikenal sebagai WR Supratman. Seorang anak muda dikenal bekerja sebagai pewarta dan musisi. Lagu ciptaannya di tengah Kongres Pemuda II itu begitu dikagumi. Sakral. Khususnya bagi masyarakat Indonesia. Mempunyai pesan penting. Mengajak Indonesia untuk menjadi negara merdeka.

Kongres Pemuda II itu menghasilkan deklarasi penting. Bernama Sumpah Pemuda. Berisi tiga poin. Mengajak para peserta tetap bertanah air, berbangsa dan berbahasa Indonesia. Dari kongres ini pula, Indonesia Raya karya WR Supratman menjadi lagu kebangsaan. Sampai sekarang.

Karya WR Supratman begitu penting. Harus disebarkan ke seluruh penjuru dan rakyat Indonesia. Surat kabar zaman pra kemerdekaan pun mengambil peran. Adalah Koran Sin Po. Media massa cetak milik keturunan Tionghoa di Indonesia. Sekaligus tempat WR Supratman bekerja sejak tahun 1925

Koran ini merupakan media pertama menyebarluaskan syair dan partitur lagu Indonesia Raya. Dalam edisi bahasa Melayu, WR Supratman menulis sendiri. Saat itu masih berjudul 'Indonesia'. Tepat tanggal 10 November 1928, edisi koran berisi lagu Indonesia Raya akhirnya terbit. Mencetak 5.000 eksemplar. Sekaligus sebagai hadiah buat WR Supratman.

Sin Po pertama kali terbit pada 1 Oktober 1910. Dalam perjalanannya, media cetak ini menjadi salah satu pelopor penggunaan kata 'Indonesia'. Mereka mengganti sebutan 'Nederlandsch-Indie', 'Hindia-Nederlansch', atau pun 'Hindia Olanda'. Semua berubah menjadi Indonesia. Termasuk menghapus kata 'inlander'. Sebab, dirasa sebagai penghinaan. Mereka dianggap memiliki pandangan politik pro nasionalis Tiongkok. Salah seorang wartawan terkemuka, Kwee Kek Beng, sempat menjabat pemimpin redaksi Sin Po sejak 1925 hingga 1947.

Gerakan pro nasionalis Tiongkok selama ini didukung Sin Po akhirnya sirna. Seiring kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Di mana banyak tokoh Tionghoa terlibat. Mereka pula menyatakan etnis Tionghoa adalah bagian dari masyarakat Indonesia. Dan, koran ini lantas mengubah nama. Pada Oktober 1958, menjadi Pantjawarta. Kemudian berubah lagi dengan nama Warta Bhakti pada tahun 1960an. Nasib Sin Po pun berakhir. Di mana masa Orde Baru muncul. Perusahaan media ini dianggap simpatisan Partai Komunis Indonesia (PKI). Koran sudah bernama Warta Bhakti itu kemudian dilarang terbit sejak 1 Oktober 1965.

Koran Sin Po ©2017 Merdeka.com/rendi

Jejak koran Sin Po pada era sekarang mulai hilang. Dalam peringatan 89 Tahun hari Sumpah Pemuda, lokasi kantor mereka sudah berubah. Kami mencoba menelusuri. Dari pelbagai sumber, kami mendapat informasi alamat kantor itu berada di kawasan Jalan Asemka, Jakarta Barat. Kawasan itu memang lebih dikenal menjadi pusat perbelanjaan grosir. Mulai dari mainan hingga cinderamata pernikahan. Terletak di sebelah barat dari Stasiun Beos atau sekarang dikenal Stasiun Jakartakota.

Kawasan ini ramai pedagang. Aktivitas jual beli di siang hari itu terlihat sangat sibuk. Banyak warga dan para pedagang hilir mudik. Bergantian. Lengkap membawa tentengan. Sesekali ada juga mereka memanggul karung barang dagangan di pundak. Biasanya para pembeli juga merupakan pedagang. Mereka membeli untuk dijual kembali. Harga ditawarkan jauh lebih murah. Banyak barang dagangan di situ merupakan Impor dari Tiongkok.

Penelusuran ke sejumlah lokasi di Jalan Asemka dimulai. Beberapa warga sekitar kami tanya tentang Koran Sin Po dan lokasi bekas kantornya. Umumnya mereka menjawab tidak tahu. Bahkan ada pula baru mendengar nama surat kabar tersebut. Lantas kami pun mencari beberapa sesepuh di sekitar Jalan Asemka. Guna mengorek tentang keberadaan koran Sin Po.

Kami bertemu sempat bertemu pria tua bernama Atjionk di sebuah ruko. Dia Dianggap salah seorang sesepuh. Pria kelahiran tahun 1940 ini mengaku pernah mengetahui tentang Koran Sin Po. Itu merupakan bacaannya saat muda. Sekitar tahun 1950an. Isi berita pun pelbagai macam. Menurut dia, koran dengan bahasa Indonesia tempo dulu itu menghadirkan banyak rubrik. Mulai dari hukum, politik hingga berita internasional. Beberapa iklan merek ternama juga kerap mejeng di sana.

Ingatan Atjionk sudah mulai lemah. Hampir tak ingat berita apa saja telah dibaca. Namun, dia mengetahui bahwa koran itu akhirnya ditutup karena dilarang pemerintah. "Setahu saya itu kan ditutup pas tahun 1965 karena dianggap tidak sejalan dengan pemerintah," kata Atjionk ketika berbincang dengan merdeka.com, Selasa pekan lalu.

Sayang pria akrab disapa Koh Acong itu tidak mengetahui lokasi persis kantor redaksi Koran Sin Po. Meski begitu, dia membenarkan bahwa kawasan tempat dia berdagang ini pada zaman dahulu banyak muncul kantor media massa. Di samping sebagai tempat para warga Indonesia keturunan Tionghoa.

Kami pun coba menelusuri ke Jalan Toko Tiga. Lokasinya tak jauh dari Jalan Asemka. Menurut orang sekitar, zaman dahulu memang banyak kantor media. Sebab di area ini banyak jasa percetakan. Bahkan hingga sekarang. Tentu saja bangunannya sudah berubah. Tidak ada sisa bangunan asli seperti dahulu. Kini kebanyakan berubah menjadi ruko, minimarket dan hotel.

Lokasi kantor redaksi Koran Sin Po ©2017 Merdeka.com/Rendi

Di sana kami juga bertemu salah seorang sesepuh sekaligus pemiliki toko percetakan. Sentosa, begitu pria kelahiran tahun 1936 itu berkenalan kepada kami. Dia mengaku sebagai pelanggan setia Koran Sin Po pada zamannya. Menceritakan lebih jauh, Sentosa menyebut koran Sin Po sangat berjaya di zamannya. "Bisa dikatakan koran nomor satu di Jakarta," ungkap dia bercerita kepada kami.

Kertas dipakai itu juga memakai kualitas terbaik. Cetakannya juga masih hitam putih. Pria keturunan Tinghoa itu menyebut bahwa Koran Sin Po terbit setiap hari. Jumlah halamannya tidak banyak. Satu eksemplar koran terdiri dari lebih kurang 6 halaman. Memuat berita dan juga iklan.

Bukan hanya sebagai pelanggan setia. Dia juga masih mengetahui lokasi kantor redaksi Koran Sin Po. Dia menyebut masih berada di Jalan Asemka. Sisa gedungnya memang sudah tak ada. Telah berubah. Sepengetahuannya, gedung redaksi Sin Po kini menjadi kantor Bank BCA cabang Asemka.

Pada zaman dahulu, kata Sentosa, banyak toko maupun gedung di sana hanya dua lantai. Termasuk kantor Sin Po. Semua sejajar. Bahkan masih ada bentuk bangunan asli di sana. "Kalau Anda lihat sekarang di lokasi sana ada gedung dengan dua lantai yang sudah terlihat mau ambruk, nah itu bentuk aslinya. Sekarang bangunan itu kosong, tidak tahu siapa pemiliknya sekarang karena hanya ditinggalkan begitu saja," ucap Sentosa.

Lokasi Bank BCA cabang Asemka bekas kantor koran Sin Po itu berada di sebelah jalan layang menuju Pasar Pagi. Atau berada di seberang sisi kanan museum Bank Mandiri. Di sana menjulang tinggi gedung dengan dominasi warna abu-abu dan Biru.

Meski gedungnya telah berubah, edisi surat kabar milik keturunan Tionghoa itu masih bisa dinikmati. Silakan berkunjung ke Perpustakaan Nasional Republik Indonesia di Jalan Salemba Raya, sebelah kantor Kementerian Sosial. Dibuka untuk umum. Hampir semua arsip dari koran itu masih tersimpan. Rapih. Walau ada arsip rusak ulah tangan jahil. [ang]

Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Subscribe and Follow

Temukan berita terbaru merdeka.com di email dan akun sosial Anda.