Narasi baru si Pitung, hero masyarakat Betawi asal Rawa Belong

Rabu, 11 Juli 2018 11:53 Reporter : Syakur Usman
diskusi si pitung di ancol. ©2018 Merdeka.com

Merdeka.com - Bagai kisah klasik, cerita mengenai Pitung, tokoh hero di masyarakat Betawi, tak pernah lekang oleh waktu. Nama Pitung begitu melekat di hati dan menjadi legenda kebanggaan bagi penduduk asli Jakarta ini, terutama bagi orang Betawi di kampung Rawa Belong, Jakarta Barat. Sebagai anak Betawi asli dengan nama orisinal Salihun, Pitung lahir di Rawa Belong pada 1870, menurut kerabat dekatnya yang masih hidup saat ini.

Sepak terjangnya terkenal sebagai pembela rakyat miskin dan ditindas oleh tuan tanah dan pemerintah kolonial Belanda saat itu. Tak heran bila kepahlawan Pitung disandingkan dengan toko hero Robin Hood, asal hutan Sherwood, Inggris. Namun di mata pemerintah kolonial Belanda, Pitung dinilai sebagai perampok dan penjahat.

Ibarat dua sisi mata uang, cerita Pitung selalu menawarkan dua sisi menarik; sebagai pahlawan atau penjahat. Sisi mana yang lebih tepat untuk menggambarkan sosok pujaan masyarakat Betawi asal Rawa Belong ini? Dan benarkah Pitung adalah gerakan atau kelompok jawara yang terdiri dari tujuh orang?

Dalam sebuah diskusi tentang "Si Pitung dari Kampung Rawa Belong" yang digelar di Pasar Seni Ancol, akhir pekan lalu, narasi Pitung sebagai hero tampak lebih kuat ketimbang sebagai penjahat. Adalah Khotib, kerabat dekat Pitung asal Rawa Belong, yang memaparkan kisah Pitung versi keluarga. Ini versi baru yang belum pernah diungkap ke publik, meski tokoh Pitung sering kali diangkat ke layar lebar, lenong, buku, komik, dan sebagainya.

Menurut Khotib, Pitung bukanlah penjahat seperti yang dicitrakan pemerintah Belanda, tapi tokoh politik di zamannya seperti dua abangnya, tokoh politik, yang telah ditahan oleh Belanda. Murid guru ngaji H Naipin ini mampu menggugah kesadaran rakyat yang terindas untuk bangkit melawan kolonialisasi. Aktivitas 'politik' inilah yang membuat Pitung lebih berbahaya ketimbang keahliannya main pukul dan bisa menghilang (konon).

"Pitung adalah pelindung rakyat kecil. Dia hanya menyakiti orang yang menindas rakyat kecil. Ketika mencuri, dia melakukan itu untuk rakyat tertindas," ungkap Khotib.

Di satu surat kabar Belanda, Hindia Olanda terbitan Juli 1893, Pitung digambarkan sebagai sosok yang ditakuti, tapi dicintai oleh rakyat. Sceara fisik disebutkan sebagai pria tinggi dengan kulit hitam dan wajah bulat. Pitung juga dikabarkan meninggal dalam usia muda, 23 tahun.

Pitung bukan gerakan atau kumpulan jawara

Pada kesempatan itu, Khotib juga meluruskan informasi keliru soal Pitung yang selama ini beredar di masyarakat, yakni Pitung merupakan sebuah gerakan, bukan orang per orang atau kelompok yang terdiri dari tujuh orang. Versi tersebut diyakini sangat keliru oleh keluarga Pitung yang masih hidup dan tinggal di Rawa Belong. Apalagi pihak yang menuliskan versi lain Pitung itu tidak pernah mewawancarai pihak keluar atau kerabat dekat Pitung.

"Klaim itu menyakiti kami, sehingga kami memutuskan untuk bicara dan berencana membuat buku Pitung versi keluarga untuk meng-counter-nya," ucap Khotib yakin.

Bachtiar, pimpinan Sanggar Si Pitung Rawa Belong, termasuk anak Betawi asli yang terinspirasi dengan perjuangan Pitung. Sehingga dia merawat 'legacy' Pitung dengan mendirikan sanggar Betawi Si Pitung Rawa Belong pada 1995. Salah satu kegiatan sanggar ini adalah melatuh anak-anak dan remaja belajar silat cingkrik khas Rawa Belong, yang menjadi salah satu 'mainan' andalan Pitung.

"Spirit Pitung tidak pernah mati. Saya berharap para anggota sanggarnya selalu membawa spirit Piting dan perilakunya yang religius dalam kehidupan sehari-hari saat ini," ujarnya penuh harapan.

diskusi si pitung di ancol 2018 Merdeka.com

M Sulhi, Sekretaris Jenderal Gerakan Kebangkitan Betawi (Gerbang Betawi), mengaku mendapat informasi baru tentang kepahlawanan Pitung dari diskusi tersebut. Mantan komisioner Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) DKI Jakarta ini berpendapat, setelah bertahun-tahun bergulat dengan banyak versi Si Pitung, menarik pernyataan Khotib, kerabat Pitung di Rawa Belong. Terutama informasi Pitung ditembak mati pemerintah kolonial Belanda di usia 23 tahun.

"Saya bayangkan Pitung, seperti di film-film dan beragam sumber, ditembak di usia matang, sekitar 30 atau 40 tahun. Jika benar Pitung wafat di usia semuda itu, wajar namanya harum mewangi. Seperti perginya penyair Khairil Anwar: sekali berarti, setelah itu mati. Sosok populer yang mati muda, lazimnya memang melegenda," katanya.

Di usia semuda itu, Pitung dianggap sebagai orang paling berbahaya di Batavia pada masanya. Belanda sampai menugaskan polisi khusus Schout Hinne untuk memata-matai dan menangkap sang jagoan. Nama Pitung pun muncul di koran-koran Hindia Belanda sebagai sosok paling dicari, ujar M Sulhi atau biasa disapa Icoel.

Berdasarkan berita-berita di koran saat itu pula, kata dia, digambarkan Pitung adalah sosok yang jelas asal-usul dan kampungnya, yakni Rawa Belong. Dia bukan nama organisasi atau kumpulan jagoan.

Jagoan semuda itu diburu sedemikian serius, tidak mungkin hanya lantaran aksi kriminal (perampokan) seperti didengungkan pemerintah kolonial. Pitung mestinya punya kelebihan lain, yang merisaukan dan berpotensi mengganggu kebijakan kolonial. Saya menduga, tentu mesti ada penelitian lanjutan soal ini, kelebihan Pitung adalah popularitasnya sebagai orang muda yang sangat potensial.

"Pitung adalah jagoan flamboyan, punya banyak cinta untuk rakyat, dekat dengan akar rumput, dan punya visi sebagai pejuang yang melewati batas Batavia. Jadi, dia berbahaya bukan lantaran perampokan terhadap orang-orang kaya ala Robin Hood, tapi karena punya konsep perjuangan dan narasi politik yang didukung popularitas luar biasa. Kekejaman Si Pitung hanyalah kampanye hitam Belanda untuk menutupi ketakutannya terhadap potensi calon pemimpin pergerakan di masa depan. Itu makanya Pitung diburu sedemikian rupa, melebihi penjahat, jagoan, dan pemberontak lokal lain di zamannya," pungkas Bang Icoel yang mengikuti dengan telaten diskusi sore itu hingga tuntas.

[sya]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini