Melawan Terorisme dari Rumah

Senin, 5 April 2021 12:41 Reporter : Wilfridus Setu Embu, Ronald
Melawan Terorisme dari Rumah TKP Rumah Terduga Teroris di Condet. ©2021 Merdeka.com/Iqbal S Nugroho

Merdeka.com - Kompleks Mabes Polri di Jalan Trunojoyo, Jakarta Selatan, dibuat geger pada Rabu sore pekan lalu. Perempuan muda dengan mudah masuk lewat pintu belakang. Kemudian melakukan penyerangan. Menggenggam senjata di tangan, dia menembaki tiap arah.

Suara letusan senjata terdengar berkali-kali. Petugas segera bertindak tegas. Pelaku dilumpuhkan. Ditembak hingga tewas di dekat area parkir pos penjagaan.

Setelah situasi terkendali, identitas sosok itu diketahui. Namanya Zakiah Aini (ZA). Usianya masih tergolong muda. 25 tahun. Diduga pelaku berideologi ISIS sehingga nekat menjadi lone wolf.

Tidak ada yang menduga jika gadis itu bakal melakukan aksi penyerangan. Tak hanya keluarga, para tetangga pun ikut terkejut. Gadis yang berdomisili di Ciracas, Jakarta Timur, ini padahal dikenal sebagai pribadi pendiam. Bahkan jarang keluar rumah.

Sikap diam yang ditampilkan Zakiah tak pernah dianggap aneh. Apalagi dicurigai akan berbuntut pada aksi yang menggemparkan. Bahkan menurut cerita keluarga, sifat pendiam itu sudah berlangsung sejak ia masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP).

"Tidak ada (perilaku aneh). Ibu-bapaknya tidak pernah (menyangka) untuk ke arah situ (terlibat aksi penyerangan). (Aktivitas sehari-hari) biasa saja. Bantuin, nyapu ngepel biasa di rumah, kata keluarga," ujar Kusdi selaku Ketua RT tempat Zakiah tinggal.

Fenomena lone wolf seperti yang dilakoni Zahkia memang mengkhawatirkan. Tidak saja di Indonesia, tapi sudah menjadi momok dalam upaya pemberantasan terorisme di berbagai negara. Namun, yang membuat lone wolf di Indonesia semakin mengkhawatirkan karena dilakukan banyak anak muda.

Guru Besar Unpad Bidang Keamanan Dalam Negeri, Prof Muradi, melihat kejadian pelaku penyerangan seorang diri alias lone wolf, banyak berusia di bawah 30 tahun. Tiap pelaku di usia muda itu juga dirasa belum matang secara psikologi.

Bila dibandingkan dengan aksi teror didalangi kelompok atau jaringan teror, memang aksi lone wolf lebih mengkhawatirkan. Kondisi ini dikarenakan seorang lone wolf justru tinggal dan berbaur di dalam masyarakat. Sehingga menyulitkan aparat penegak hukum untuk mendeteksi keberadaan dan aksi mereka.

Sementara untuk kelompok teroris cenderung membentuk sebuah kelompok eksklusif. Bahkan mereka melepaskan diri dari masyarakat. Salah satunya kelompok Jamaah Ansharut Daulah (JAD).

"Kalau tanya ke saya lebih milih mana? JAD atau lone wolf untuk diperangi. Saya lebih suka menghajar kelompok JAD. Karena garis koordinasinya, garis komunikasinya itu masih kelihatan," kata Muradi kepada merdeka.com, Jumat pekan lalu.

Keluarga Menjadi Kunci

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) melihat sejak 2014 tepatnya sebelum adanya deklarasi ISIS, pola perekrutan lebih banyak dilaksanakan secara tatap muka dan pertemuan tertutup. Namun kehadiran ISIS, perekrutan dengan menggunakan media online semakin marak digunakan.

Per 12 Maret 2021, catatan BNPT terdapat 321 grup maupun kanal media sosial yang terindikasi menyebarkan propaganda radikal terorisme. Dari jumlah tersebut, 145 grup atau kanal platform Telegram. Sedangkan sepanjang tahun 2020, terdapat 341 konten siber yang terpantau menyebarkan propaganda radikal terorisme. Sebagian besar penyebar konten, lanjut dia, merupakan akun underbow organisasi yang telah resmi dilarang seperti HTI.

Perekrutan anggota kelompok terorisme saat ini memang menyasar golongan muda. Masa transisi krisis identitas kalangan pemuda membuat mereka terbuka untuk menerima gagasan baru yang lebih radikal. Alasan-alasan seperti inilah yang menyebabkan kaum sangat rentan terhadap pengaruh dan ajakan kelompok kekerasan dan terorisme.

Peran kaum muda yang dalam kelompok radikal pun bisa beragam. Sebagai contoh, kelompok Jamaah Islamiyah (JI) membentuk tim Askari. Tim ini terdiri dari 5-10 orang yang berperan sebagai tim penyerang yang beranggotakan anak-anak muda. Mereka kemudian melakukan aksi bom bunuh diri di Hotel J.W. Marriott dan Ritz Carlton pada 12 tahun lalu.

"Kita lihat pada kasus bom J.W. Marriott dan Ritz Carlton. Pelaku berusia 18 dan 27 tahun. Kemudian Bom Bali, pelaku berusia 20-23 tahun. Hingga kasus terkini yang terjadi di Makassar dan Mabes Polri (berusia di bawah 30 tahun)," ungkap Direktur Penegakan Hukum sekaligus Juru Bicara BNPT Brigjen Eddy Hartono.

Beragam konten di media sosial memang seharusnya menjadi perhatian serius. Khususnya terkait terorisme. Memang sejauh ini sulit mendeteksi konten yang spesifik mengajarkan paham radikal maupun mengarah terorisme di dalam ruang publik media sosial.

Pendiri Drone Emprit, Ismail Fahmi, menyebut biasanya pembahasan mengenai terorisme dilakukan dalam platform yang lebih aman. Mereka biasanya tergabung dalam tiap grup yang lebih privasi. Sehingga sulit dilakukan pemantauan.

"Mereka biasanya sudah masuk ke grup Telegram. Itu sudah ada pembahasan yang lebih dalam," katanya kepada merdeka.com, Sabtu pekan lalu.

Tiap kelompok yang menyebarkan radikalisme, lanjut dia, sangat hati-hati dan selektif dalam memilih pengikut. Sebelumnya mereka akan memastikan dengan sungguh-sungguh bahwa seseorang memang bisa diajak untuk bergabung. Setelah dianggap dapat memenuhi kriteria, baru calon pengikut ini dimasukkan dalam grup yang lebih tertutup lagi.

Meski begitu, Ismail Fahmi melihat bahwa postingan yang bersifat umum juga menjadi pemicu mendorong kaum muda masuk ke dalam tiap pembahasan terkait radikalisme. Karena memberikan kesan pertama terkait sebuah tema. Jika satu postingan mendapatkan banyak dukungan maka bisa menggoda anak muda untuk mencari tahu lebih jauh.

"Tapi kalau semua orang kebanyakan menolak narasi-narasi yang tadi, dia akan kecut (takut). Sendiri kan tidak ada dukungan. Soalnya masih muda. Dia butuh dukungan dari publik. Makanya di sini publik pun juga punya peran. Perannya kita harus mengutuk itu," dia mengungkapkan.

Peran keluarga menjadi penting untuk menjaga anak muda tidak jauh terperosok ke dalam jurang terorisme. Terutama menekan fenomena lone wolf.

Keluarga sebagai bagian paling dekat seharusnya mampu menangkap tiap sinyal perubahan perilaku anggotanya bila dicurigai mulai terpapar radikalisme. Sehingga keluarga bisa segera menghalangi sebelum mereka melakukan aksi lebih jauh.

Setelah keluarga, masyarakat juga punya peran yang tidak kalah penting. Aparat negara seperti BNPT dan Polri tentu akan banyak bergerak di bagian penegakan hukum. Karena itu, keluarga lah yang harus memainkan peran untuk menyampaikan kontra narasi terhadap paham radikal.

Soal kondisi psikologis kaum muda yang rentan untuk tergoda, Muradi berpandangan bahwa itu memang merupakan karakteristik usia muda. Karena itu pendampingan dan komunikasi dari keluarga dan orang yang lebih dewasa amat diperlukan.

"Hampir semua anak muda mengalami itu. Tinggal seberapa jauh dia berinteraksi dengan keluarga. Kuncinya begitu ada perubahan sikap, sekecil apapun, keluarga harus paham," Muradi menegaskan.

Sementara menurut Fahmi, menilik dari pengaruh respon publik terhadap satu konten dapat memengaruhi psikologi kaum muda, ke depan seharusnya semakin banyak hal positif yang didukung. Kemudian masyarakat digital juga bersatu melawan tiap konten berbau radikal.

"Yang bisa kita lakukan bersama-sama sebagai komunitas, dibanyakin konten-konten moderat. Konten dari tokoh-tokoh yang benar. Yang menjelaskan. supaya anak-anak muda ini ketika mereka cari di YouTube, di instagram. Masukan kata kunci yang sedang mereka pelajari, muncul yang paling atas itu konten-konten yang moderat ini," kata Ismail mengungkapkan. [ang]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini