Kerja mudah gaji berlimpah

Selasa, 1 Mei 2018 07:00 Reporter : Anisyah Al Faqir, Ika Defianti
Ilustrasi pekerja asing. ©Shutterstock/Dmitriy Shironosov

Merdeka.com - Sejak akhir tahun 2017, Michael Villareal sibuk bolak-balik Jakarta-Halmahera Barat. Mengerjakan proyek pembangkit listrik. Menjadi konsultan. Membantu perusahaan rekanan. Kebiasaan ini masih terus dijalankan. Statusnya sebagai warga negara Amerika Serikat (AS) bukan jadi alasan. Kemampuan dimilikinya menjadi keutamaan untuk ditawarkan.

Indonesia di mata Mike, panggilan akrabnya, sudah menjadi rumah kedua baginya. Separuh hidupnya dihabiskan mencari nafkah di negeri ini. Buat menghidupi keluarga. Mendapat uang berlimpah. Selain jatuh cinta dengan budayanya.

Tahun 1994, untuk pertama kalinya Mike menginjakkan kakinya di Indonesia. Kala itu dia diajak seorang rekan. Menjadi bagian dari perusahaan PT Harvest Internasional. Perusahaan konsultan pemerintah bergerak lintas sektor. Sebagai Direktur Marketing. Setahun tinggal di Indonesia, dia sudah bisa berbahasa Indonesia. Tapi bukan hasil kursus. Hanya sering berinteraksi dengan warga lokal. Utamanya supir taksi, salah satu moda transportasi andalan Mike kala itu.

Beberapa tahun kemudian, Mike naik jabatan. Sebagai Wakil Direktur Harvest Indonesia. Pendapatan bulanannya juga naik. Mike mengatakan perusahaannya mempekerjakan warga lokal sebanyak 75 persen. Sementara sisanya merupakan orang Amerika. Setalah 11 tahun bekerja untuk Harvest, tahun 2005 Mike memutuskan mengundurkan diri. Itu di tengah kasus dugaan kasus korupsi Monsanto Company.

Berbicara soal gaji, Mike mengatakan wajar bila tenaga kerja asing dibayar lebih mahal dari warga lokal. Sebab para TKA ini memiliki keahlian tertentu yang tidak dimiliki warga lokal. Sehingga wajar bila gajinya lebih tinggi ketimbang warga lokal di suatu perusahaan. Namun bagi Mike anggapan itu tidak berlaku lagi di Indonesia. Sebab saat ini sudah banyak warga Indonesia memiliki keahlian setara dengan pekerja asing.

"Dahulu wajar bila pendapatan tenaga kerja asing lebih tinggi. Karena mereka ahli. Tapi sekarang sudah banyak orang Indonesia memiliki kemampuan seperti warga asing," ungkap Mike kepada kami, Senin kemarin.

Kini Mike menjabat Wakil Direktur USP Int Indonesia sejak dua tahun lalu. Perusahaan rekannya. Di perusahaan saat ini, hanya dirinya berstatus warga negara asing. Sementara anak buahnya adalah warga Indonesia asli. Meski begitu, Mike mengaku tak mudah dalam menjalankan pekerjaannya.

Untuk bisa menyakinkan warga dan pejabat pemerintah bukan perkara mudah. Ini dikarenakan masih banyak anggapan orang asing tidak bisa dipercaya alias penipu. Untuk itu, Mike kerap menggunakan pendekatan personal terutama kepada warga.

Dalam proyek di Halmahera Barat, misalnya. Untuk menyakinkan warga tentang pembangunan tenaga listrik tenaga surya di desa. Dia tak takut kulitnya terbakar lantaran matahari di lokasi proyek lebih terik. Bahkan Mike bisa berbahasa daerah atau sekedar berbicara dengan logat serupa warga lokal.

Cara pendekatan ini bagi Mike membuat hidupnya justru lebih berwarna. Dia jadi lebih banyak koneksi dan hubungan pertemanan. "Meskipun bisa bahasa Indonesia tetap orang asing. Jadi memang dibilang kesulitan juga enggak, cuma challenge (tantangan)," kata dia.

Hampir 20 tahun Mike malang melintang bekerja dan menetap di Indonesia. Mike sempat berpindah-pindah perusahaan. Dia juga sempat memboyong keluarganya kembali ke Amerika. Apalagi ketika itu mantan istrinya adalah model ternama Indonesia, Sophia Latjuba. Sekaligus membantu melebarkan karir Sophia ke dunia internasional.

Belum genap 5 tahun di negara asalnya, Mike memutuskan kembali ke Indonesia. Dia melihat berbagai peluang ada di Indonesia. Sempat terbersit untuk pindah kewarganegaraan menjadi WNI. Namun, dia kerap mengurungkan niatnya. Sebab meski betah tinggal di Indonesia Mike tetap bangga menjadi orang AS. Sehingga selama tinggal di Indonesia dia mengantongi Kartu Izin Tinggal Terbatas (KITAS). Bahkan tak pernah absen untuk memperpanjang izin tinggalnya di Indonesia.

Kesibukannya sebagai konsultan mengharuskan dia tak sering pulang ke negara asalnya. Meski sibuk, Mike kerap meluangkan waktu satu atau dua pekan untuk kembali ke Amerika. Sebab dia masih memiliki orang tua. Setidaknya dalam satu tahun dia akan pulang mengunjungi orang tua di Texas dan Atlanta. "Habis project ini juga saya bakal balik ke Amerika seminggu," ujar Mike.

Aturan pemerintah tidak menerapkan standar gaji diterima para pekerja asing. Namun, melalui Peraturan Menteri Tenaga Kerja (Permenaker) Nomor 16 tahun 2015, menegaskan bahwa mereka harus melalui kualifikasi dan persyaratan.

Ada enam persyaratan. Pertama, memiliki pendidikan sesuai dengan syarat jabatan akan diduduki. Lalu, memiliki sertifikat kompetensi atau memiliki pengalaman kerja sesuai dengan jabatan akan diduduki paling kurang 5 (lima) tahun. Selanjutnya, membuat surat pernyataan wajib mengalihkan keahliannya dengan laporan pelaksanaan pendidikan dan pelatihan.

Syarat lainnya, yakni memiliki npwp bagi mereka sudah bekerja lebih dari enam bulan. Ditambah memiliki bukti polis asuransi pada asuransi berbadan hukum Indonesia. Dan terakhir, ikut kepesertaan Jaminan Sosial Nasional bagi mereka bekerja lebih dan enam bulan.

Info grafis jumlah TKI dan TKA 2018 Merdeka.com


Mike merupakan pekerja elit di Indonesia. Kisah berbeda datang dari James Blacker, editor bahasa untuk koran The Jakarta Post. Pria asal inggris ini pertama kali datang ke Indonesia tiga tahun lalu. Tujuannya bukan untuk bekerja, melainkan liburan di Bali. Surga bagi para turis mancanegara di Indonesia. Tak hanya sekedar liburan, James sempat belajar bahasa dan budaya Indonesia.

Di negara asalnya, James tinggal di Bristol. Sebuah kota kecil di barat daya Inggris. Di kota ini juga dia menghabiskan waktu hingga lulus kuliah di jurusan bahasa Prancis dan Rusia. Alih bahasa adalah pekerjaannya.

Seusai liburan di Bali, terbersit keinginannya kembali ke Indonesia. Bukan jadi turis. James ingin bekerja dan menetap di Indonesia. Sebab dari beberapa negara pernah disinggahi, dirinya merasa nyaman untuk tinggal di Indonesia. Serba murah menjadi alasan utamanya.

Pilihan James bukan lagi Bali. Melainkan kota berjulik Paris Van East Java, julukan dari Kota Malang. Itu dilakukan agar dia lebih mudah mempelajari bahasa Indonesia ketimbang di Bali. Selama tinggal di Malang, James banyak mengambil kerja paruh waktu. Mulai dari penerjemah hingga bekerja untuk perusahaan di Inggris secara online.

Hingga akhirnya tahun lalu ia melamar pekerjaan di Koran Jakarta Post sebagai editor bahasa. Terhitung sejak Agustus 2017, James resmi bekerja dan di kontrak satu tahun. Diakui pria 30 tahun ini, gaji diterima selama bekerja di Indonesia lebih kecil bila dibandingkan di negara asalnya. Namun, dia tak mempermasalahkan. Sebab pengeluarannya untuk kehidupan sehari-hari juga lebih sedikit. Bahkan dengan gaji diterimanya saat ini, dia bisa gunakan untuk keliling Indonesia saat libur.

Mulai dari naik gunung, berjemur di pantai hingga sekedar nongkrong di kafe atau mall di akhir pekan. Apalagi, di Indonesia banyak hari libur nasional. "Saya senang di Indonesia banyak hari liburnya," kata James akhir pekan lalu kepada kami di bilangan Senayan, Jakarta.

Selain memenuhi kebutuhan hidup di Indonesia, James juga menyisihkan uang untuk ditabung. Dia mengaku sebagai pekerja asing James dibayar lebih tinggi ketimbang warga lokal untuk jabatan sama. Namun, dia memastikan perbedaan gaji diterimanya tidak terlalu signifikan.

Hal ini tak membuat James seenaknya. Sebaliknya, dia justru malu. Menerima gaji lebih tinggi, tetapi beban kerja lebih ringan. Apalagi jam kerjanya lebih fleksibel. Dia memulai pekerjaan di siang atau sore hari. "Biasanya saya kerja siang sampai malam atau sore sampai malam. Kalau di Inggris, saya bekerja 8-9 jam sehari," ucap James.

James menceritakan persaingan mendapatkan pekerjaan begitu sengit di negara asalnya. Dia juga sempat mengalami kesulitan dalam mendapatkan pekerjaan. Sebaliknya di Indonesia ia merasa mudah mendapatkan pekerjaan. Sekalipun hanya menjadi penerjemah. Apalagi ia berasal dari Inggris dan bisa bahasa Indonesia.

Meski begitu, James mengaku kesulitan bersosialisasi dengan warga lokal. Bukan bahasa yang menjadi kendala, melainkan kesempatan bertatap muka dengan warga lokal. Sebab, di tempatnya bekerja, dia jarang bertemu sesama karyawan Koran Jakarta Post notabene merupakan warga lokal. James beserta tim editor bahasa memiliki ruang terpisah.

Sulitnya berinteraksi dengan sesama karyawan mendorong James lebih aktif di dunia maya. Aplikasi Tinder menjadi media James mulai berinteraksi dengan warga lokal. Bahkan, James mengaku memiliki kekasih di Jakarta berkat aplikasi Tinder. "Pas Aku di Jakarta susah cari teman atau pacar. Aku bingung cari di mana, makanya lewat tinder," cerita James. [ang]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini