Kekuatan dari Alam Baduy

Jumat, 29 Januari 2021 14:10 Reporter : Arie Basuki
Kekuatan dari Alam Baduy Kampung Baduy kala pandemi. ©2021 Merdeka.com/Arie Basuki

Merdeka.com - Langit di Desa Adat Baduy Luar, Lebak, Banten, siang itu sedang kelabu. Rintik hujan masih membasahi sebagian rumah dan tanah leluhur warga. Dari kejauhan, tampak tiga lelaki Baduy berjalan menuju rumah. Menenteng hasil bumi buah dan sayuran. Tidak langsung masuk ke dalam, mereka antre di depan kran bambu setinggi hampir 2 meter. Bergantian mencuci tangan dan kaki setelah seharian di ladang.

Setelah dirasa sudah bersih, tiga pria itu meletakkan hasil bumi di teras rumah. Kemudian beristirahat sambil bersenda gurau. Rona bahagia begitu terpancar. Tidak terlihat rasa lelah dari wajah mereka. Padahal siang itu hasil didapat belum sebaik hari sebelumnya. Semua tetap disyukuri.

kampung baduy kala pandemi

Kampung Baduy kala pandemi ©2021 Merdeka.com/Arie Basuki

Hasil hari itu memang untuk dinikmati bersama keluarga di rumah. Mereka ingin menjaga seluruh anggota keluarga tetap sehat. Apalagi cuaca sedang tak menentu dan dalam situasi pandemi Covid-19. Upaya menjalani protokol kesehatan memang menjadi prioritas yang harus dilakukan.

Semenjak pandemi Covid-19 melanda Indonesia pada Maret 2020 lalu, Desa Adat Baduy termasuk paling aman. Bahkan bisa dikatakan 'Zero Covid-19' hingga sekarang.

Sebanyak 11.600 jiwa penduduk Baduy tinggal di Pegunungan Kendeng dengan luas 5.100 Ha. Mereka terbagi ke dalam 65 perkampungan. Meski begitu, upaya mencegah virus corona masuk ke dalam desa memang sudah terasa sejak di Tugu Selamat Datang daerah Ciboleger.

Bermacam peringatan bahaya corona itu terus disampaikan hingga ke Kampung Belilmbing, Kampung Morango sampai Kampung Gazebo. Selain itu, masyarakat Baduy memang ketat dalam menerapkan protokol kesehatan dengan memakai masker, menjaga jarak dan mencuci tangan (3M) guna mencegah penularan virus corona.

kampung baduy kala pandemi

Kampung Baduy kala pandemi ©2021 Merdeka.com/Arie Basuki

Para tetua adat setempat bahkan turun tangan mengimbau masyarakat Baduy tidak ke luar daerah, terutama daerah zona merah penyebaran Covid-19. Kondisi ini berdampak besar sehingga menjadikan Baduy nol kasus Covid-19. Memang selama ini masyarakat Baduy lebih banyak di rumah dan ladang untuk mengembangkan pertanian.

Berada di tengah Desa Adat Baduy saat pandemi corona, suasana seakan masih normal. Hilir mudik warga masih beraktivitas biasa. Banyak warga adat berjalan dan berinteraksi sesama. Tidak ada rasa takut maupun canggung. Mereka tetap nyaman bersama meski sebagian besar tidak menggunakan masker.

Walau terlihat aman, masyarakat Baduy tetap sangat waspada. Apalagi di luar pemukiman Baduy Luar wilayah Ciboleger, terdapat warga positif covid-19. Jaraknya hanya sekitar 300 meter dekat pintu masuk desa adat. Tentu kondisi ini membuat mereka menjadi sangat berhati-hati.

Warga adat Baduy memang dikenal sebagai pekerja keras. Segala aktivitas mereka selalu selaras dengan alam sekitar. Semua selalu mengacu pada pada tradisi dari para leluhur. Sehingga menjadikan mereka orang yang sehat dan memiliki kekuatan fisik terbilang prima.

kampung baduy kala pandemi
©2021 Merdeka.com/Arie Basuki

Berjalan kaki naik turun bukit untuk bercocok tanam di ladang menjadi hal biasa mereka lakukan. Jarak dari rumah ke ladang bisa lebih dari 3 kilometer. Semua ditempuh dengan jalan kaki. Kebiasaan ini merupakan salah satu yang membuat imunitas warga Baduy tergolong kuat.

"Imun mereka terbentuk dari kebiasaan sehari-hari, Satu keluarga (ibu, ayah, anak) setiap hari mereka berjalan lebih dari dua hingga tiga kilometer naik turun bukit untuk bekerja di ladang," ujar Bidan Pita dari Puskemas Cisimeut kepada merdeka.com, pekan lalu.

Baca Selanjutnya: Kisah Ibu Bidan Pita...

Halaman

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini