Islamnya ISIS

Senin, 6 Juli 2015 10:08 Penulis : Mudzakir Amdjad
Islamnya ISIS Ilustrasi ISIS. ©2014 Merdeka.com

Merdeka.com -

Di bulan Ramadan yang suci ini, mulut mayoritas muslim di seluruh dunia ternganga dan gagal memahami kekejian yang dilakukan oleh kelompok yang meminjam agama mereka sebagai nama organisasi teror; ISIS (The Islamic State of Iraq and al-Sham) melakukan berbagai kekejaman, baik kepada non-muslim maupun kepada sesama muslim.

Mereka tak bisa mengerti atas tewasnya 39 turis yang diberondong peluru di pantai Sousse, Tunisia, atas bom bunuh diri yang menghantam masjid Syiah di Kuwait City saat pelaksanaan salat Jumat yang mengakibatkan tewasnya 27 orang dan melukai 202 jamaah lainnya, dan baru-bari ini (4/7) atas eksekusi terhadap 25 tentara Suriah, kota kuno bersejarah Palmyra di sebuah teater terbuka di depan umum oleh tentara ISIS yang masih remaja.

Islam sebagai agama jelas merupakan korban di sini. Seolah-olah teror ISIS adalah persoalan inheren dalam agama Islam. Ini nampak dalam berbagai komentar yang datang dari Barat. Contohnya, tulisan mantan anchor CNN, Piers Morgan yang berjudul Uncontrollable Rage di harian inggris Daily Mail (4/2) yang mengomentari video dibakarnya hidup-hidup pilot Jordania Muaz al-Kasasbeh oleh ISIS.

Morgan menyatakan: Jika masih ada muslim yang ragu untuk bersikap dan menyuarakan bahwa kekejian itu bukan atas nama saya dan agama saya, tontonlah video ini. Korban ini bisa saja anda, dan ini adalah perang anda!. Dia meminta muslim seluruh dunia untuk melawan ISIS baik secara militer, keuangan dan politik. Dengan meletakkan tanggung jawab pada muslim, Morgan telah masuk jebakan propaganda ISIS bahwa ini adalah perang mengenai agama.

Padahal ISIS sama sekali tidak peduli dengan agama Islam. Wartawan Perancis Didier Francois yang pernah disekap oleh ISIS selama 10 bulan di Suriah kepada Christian Amanpour dari CNN (4/2) menyatakan bahwa para penyekapnya itu tak tertarik sama sekali dengan agama. Mereka bahkan tidak mempunyai satu pun kitab suci Al Quran, dan tak pernah membicarakan agama Islam. Yang ada hanya pembicaraan yang bersifat politik.

Kalaupun ada sangkutan dengan Islam, ISIS mempromosikan Islam versi mereka sendiri. Mantan ulama Saudi, Sheikh Manii al-Manii, yang pernah menyatakan kesetiaan kepada ISIS namun akhirnya keluar dan meminta perlindungan di Kedubes Arab Saudi di Turki menyatakan bahwa Islam yang diajarkan oleh ISIS, bukanlah Islam yang ia ketahui. Katanya ekspresi keislaman ISIS sangat karikatural dan tidak ia pahami seperti; burqa hitam, pemenggalan dan lainnya.

Jadi, apakah ISIS berisi orang-orang gila dan irasional? Jelas tidak, bila dilihat perkembangannya, ISIS mempunyai strategi yang jelas untuk mencapai tujuan seperti memanfaatkan ketidakpuasan kalangan Suni di Irak terhadap pemerintahan yang dikuasai oleh golongan Syiah.

Apakah kekuatan ISIS karena ada dukungan muslim terhadap ideologi radikalnya? Menurut berbagai kajian dan contoh yang sudah saya sebut, Islam ala ISIS adalah sesuatu yang asing dan yang terjadi saat ini adalah murni masalah politik. Nafeez Ahmed dalam tulisannya di Middle East Eye (5/2) menyatakan bahwa akar munculnya ISIS dimulai sejak 2007, tatkala AS mengkoordinir penyaluran dana rahasia dari berbagai negara Timur Tengah kepada berbagai kelompok militan untuk melawan pengaruh geopolitis Iran dan Suriah di mana kelompok itu selanjutnya berkembang atau dimanfaatkan sehingga menjadi ISIS seperti sekarang ini karena perkembangan politik dan konflik di kawasan itu.

Meski ada yang aneh dengan Islamnya ISIS, kita patut mempertanyakan kenapa banyak muslim yang tertarik dan mudah direkrut oleh ISIS? Barangkali teori Abdullah Hamidaddin, pengamat politik Arab Saudi (Al Arabiya, 22/8/14), bisa menjelaskan. Katanya, sejarah telah menanamkan perasaan bawah sadar kepada muslim sebagai korban kejahatan Barat dan untuk itu mereka patut menuntut balas kepada Barat dan negara-negara Islam yang mendukungnya.

Invasi Napoleon ke Mesir, penjatuhan kekuasaan Ottoman oleh Barat, dan banyak dijajahnya negara mayoritas Muslim oleh kekuatan kolonial Barat telah menimbulkan wacana victimization (muslim sebagai korban kejahatan Barat sepanjang masa), yang menjadikan ISIS mudah merekrut ditambah perasaan terhina dan marah yang bercampur dengan kesusahan hidup. Wallahu alam. [war]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini