Haji Noer Alie, ulama pejuang ahli strategi

Rabu, 29 April 2015 09:59 Reporter : Pramirvan Datu Aprillatu
Haji Noer Alie, ulama pejuang ahli strategi Haji Noer Ali. ©wordpress.com

Merdeka.com - Sebagai pemimpin perang, strategi Kiai Haji Noer Alie saat bergerilya melawan penjajah memang berhasil. Kala itu tentara sekutu inggris dengan persenjataan lengkap masuk ke Indonesia setelah Jepang menyerah tanpa syarat kepada sekutu. Kedatangan Inggris itu dicurigai membonceng Belanda di belakangnya untuk kembali masuk menjajah negeri ini.

Pasukan Inggris berhasil dipukul mundur dalam pertempuran gerilya di Karawang-Bekasi, Jawa Barat. Keberhasilan memukul pasukan sekutu tersebut salah satunya berkat perjuangan ratusan santri yang dipimpin langsung oleh Kiai Noer Alie. Hingga akhirnya nama Kiai Haji Noer Alie terdengar hingga seluruh pejuang seantero negeri.

Keberanian Noer Alie yang bergelar 'Singa Karawang-Bekasi' dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia juga dibuktikan dalam Pertempuran Sasak Kapuk. Dalam pertempuran yang meletus pada 29 November 1945 itu, pasukan KH Noer Alie melawan Sekutu di Pondok Ungu.

Pasukan rakyat yang dipimpin Noer Alie mendesak pasukan sekutu dengan serangan mendadak. Melihat pasukan sekutu terdesak, mulai timbul rasa takabur pada pasukannya, sehingga ketika pasukan sekutu mulai berbalik setelah sekitar satu jam terdesak, pasukan rakyat berbalik terdesak sampai jembatan Sasak Kapuk, Pondok Ungu, Bekasi.

Melihat kondisi pasukannya yang kocar-kacir, Noer Alie memerintahkan untuk mundur. Tapi, sebagian pasukannya masih tetap bertahan, sehingga sekitar tiga puluh orang pasukan Laskar Rakyat gugur dalam pertempuran tersebut. "Pesantren juga dijadikan markas perawatan para pejuang," kata Sejarawan Bekasi, Ali Anwar kepada merdeka.com, di Bekasi, kemarin.

Tak hanya itu, perang pun kembali digelorakan di wilayah Rawagede, Karawang, Jawa Barat. Asal mulanya peristiwa berdarah Rawagede.

Dua tahun setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan, Belanda melakukan Agresi Militer pada 1947. KH Noer Alie bangkit mengobarkan semangat perlawanan. Ia bergerilya di Jawa Barat memimpin pasukan Komandan Markas Pusat Hizbullah-Sabilillah (MPHS) Jakarta Raya di Karawang.

Dari kepalanya muncul ide membikin ribuan bendera Indonesia yang terbuat dari kertas kecil di pepohonan dan rumah penduduk. "Bendera dibuat dari kertas minyak," kata Ali Anwar.

Alhasil, tentara sekutu pun murka. Mereka mencari-cari Mayor Lukas Kustaryo pejuang asal Tentara Nasional Indonesia. Karena tak kunjung ditemukan, tentara penjajah marah dan membantai warga sekitar Rawagede. "Noer Alie kecewa, marah dan sangat menyesalkan kejadian itu," ujarnya.

KH Noer Alie tak hanya gagah dan tangguh di medan pertempuran. Ia juga adalah seorang politisi hebat. Saat Indonesia merdeka, ia dipilih menjadi Ketua Komite Nasional Indonesia Daerah Cabang Babelan. Pada 19 September 1945, ia mengerahkan massa ke Lapangan Ikada untuk mengikuti Rapat Raksasa.

Saat rapat digelar, Noer Alie datang dengan mengendarai delman. Nama Noer Alie kian dikenal di kalangan pejuang saat Bung Tomo meneriakkan namanya beberapa kali dalam siaran radionya di Surabaya, Jawa Timur. [mtf]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini