Gubernur itu bukan bos

Jumat, 26 Januari 2018 06:00 Reporter : Angga Yudha Pratomo, Anisyah Al Faqir
Gubernur itu bukan bos Sudirman Said saat bertemu dengan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Bawang di Brebes. ©2018 Merdeka.com/Dian Ade Permana

Merdeka.com - Satu lagi mantan anak buah Presiden Joko Widodo ikut pertarungan kepala daerah. Maju dari partai oposisi pemerintah. Sebelumnya nama mantan Menteri Pendidikan Anies Baswedan di Pilgub DKI Jakarta. Diusung Partai Gerindra dan PKS. Hasilnya menang dan menjabat sebagai gubernur di Ibu Kota. Kini mantan menteri energi dan sumber daya mineral (ESDM) Sudirman Said juga mencoba peluang serupa.

Nasibnya sama seperti Anies. Sudirman diusung Partai Gerindra dan PKS. Diberi kesempatan maju di Pilgub Jawa Tengah. Bertarung dengan calon incumbent sekaligus Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo. Tawaran itu diterima. Bagi dirinya ini merupakan mandat harus dijalani.

Kesempatan masuk dalam politik praktis tak mau dibuang begitu saja. Segudang pengalaman pernah diemban. Mulai dari menjabat direktur utama di perusahaan BUMN, mantan menteri hingga membantu Anies-Sandiaga sebagai tim sinkronisasi di Pilgub DKI. Segala hal itu menjadikan dirinya perlahan paham dan terbiasa berkomunikasi dengan para petinggi partai.

Pria asal Brebes, Jawa Tengah, ini juga merasa kesempatan ini sebagai panggilan. Setelah banyak dorongan dan pandangan dari banyak pihak memintanya maju. Kemiskinan dan kesejahteraan menjadi paling disorot. Khususnya di wilayah Jawa Tengah. Dia merasa banyak keganjilan peran pemerintah dalam mengatasi dua masalah itu.

"Saya agak tidak bisa menerima karena ini Jawa. Jawa itu kan pulau paling maju, paling subur jadi kemiskinan adalah hal yang bisa kita atasi dengan cepat," kata Sudirman kepada merdeka.com, Rabu pekan lalu di Jakarta.

Berikut wawancara khusus wartawan merdeka.com dengan Sudirman Said. Banyak hal dibahas. Dari mengenai kondisi Jawa Tengah dan akhirnya memutuskan ikut kontestasi pemilihan kepala daerah.

Apa yang mau dikerjakan di Jawa Tengah?

Sederhana, Jawa Tengah itukan jawa, ada di tengah pulau paling maju tapi untuk ukuran angka kesehatannya menunjukkan mundur. Itu berdampak pada isu kemiskinan yang diakui Ganjar dalam hal kemiskinan dia gagal. Jawa Tengah itu menyimpan 50 persen dari seluruh penduduk miskin dari 28 juta jiwa. Kebetulan kampung saya di Brebes juga penerima beras raskin terbesar secara nasional. Agak menyedihkan karena itu adanya di Jawa. Nah semua ini bisa diatasi dengan cepat karena di Jawa Tengah menjadi kawasan elit nasional karena sekolah elit militer pertama di Jateng, sekolah pamong praja pertama. Dari sisi potensi alam juga luar biasa, ada 16 atau 17 kota yang mengakses ke jalur pantai, jadi tidak alasan untuk kita ketinggalan.

Tadi saya menyebut IPM yang di bawah rata-rata nasional, kalau kita bandingkan dengan Jabar dan Jatim, APBD-nya meningkat dalam 5 tahun terakhir. Nah kita ini masuk yang landai, jadi tidak ada lompatan yang signifikan. Rasanya kalau dipimpin dengan baik dan pendekatan manajerial yang terkonsep, masalah itu bisa kita hadapi. Apa yang berbeda? Saya percaya gubernur itu bukan bos tapi panjang tangan presiden, pemainnya adalah para bupati dan wali kota yang dipilih langsung rakyat.

Gubernur menjadi satu pimpinan untuk melakukan keseragaman di seluruh provinsi. Caranya ya tadi, bukan jadi bos tapi jadi pendengar, fasilitator, bertanya apa yang dibutuhkan kabupaten itu karena secara otonomi daerah kita tahu. Jadi kita tampil sebagai fasilitator. Memahami sebaik mungkin keinginan para bupati dan kepala daerah sebagai penghubung dari pemda ke pemerintah pusat.

Yang mungkin bisa jadi tugas adalah bagaimana cara mencari akses, karena saya pernah di kabinet, dan kita punya jejaring sehingga bisa mencari agar investasi bisa masuk karena kita pernah menjadi produksi paling atraktif nomor dua dari segi investasi. Tapi memang secara kenyataan tidak banyak investasi besar yang masuk, itu yang mesti diperhatikan.

Sampai di mana prosesnya sekarang, teman-teman tahu saya sudah melakukan pendaftaran dan sekarang sedang tahap verifikasi, hampir semuanya tidak ada masalah, tanggal 12 akan ada pengumuman penetapan calon dan selanjutnya pengundian nomor. Dan saat ini kita sedang menunggu hasil verifikasi. kita juga tengah membangun komunikasi dengan jaringan baik dari partai politik, atau yang lainnya.

Saya memercayai bahwa proses seperti ini harus ditempuh, saya banyak ketemu orang, mulai dari akademisi, pemilik pesantren dan pengusaha. Mereka mengatakan cukup lama di Jawa Tengah tidak memperoleh pemimpin yang punya leadership. Jadi mereka bilang, siapa tahu ini waktunya.

Kenapa Anda akhirnya memutuskan untuk ikut pertarungan di Pilgub Jawa Tengah?

Ya sebetulnya interaksi dengan komunitas politik sudah cukup lama. Sebagai aktivis organisasi juga dulu bolak-balik ke DPR memberikan penjelasan, testimoni melakukan lobi ke sana kemari jadi komunikasi dengan partai politik besar sudah dilakukan sejak lama. Kalau masuk ke politik praktis mungkin baru pertama kali. Nah yang membawa saya ke sini sebetulnya adalah mulanya ketika saya membantu Pak Anies dan Bang Sandi untuk tim sinkronisasi.

Di situ saya mempelajari peraturan, pemerintah daerah juga berinteraksi dengan para pimpinan partai karena saya harus lapor beberapa kali. Lalu ada beberapa dorongan-dorongan ke arah sana dan sebagian yang saya temui mengatakan pandangan. Ya punya reputasi yang baik, punya track record, punya pengalaman bekerja jadi coba dicek kemungkinan ikut Pilgub Jawa Tengah.

gerindra mengusung sudirman said cagub jateng 2017 merdeka.com/imam buhori


Anda dikenal sebagai mantan direktur utama di perusahaan BUMN, mantan menteri ESDM dan terakhir menjadi bagian tim sinkronisasi Anies-Sandi di Pilkada DKI. Dengan capaian itu, apakah sudah merasa menjadi modal cukup untuk ikut maju sebagai pemimpin daerah?

Tentu tidak ada resep yang mutlak atau rijit tapi saya merasa kelengkapan pengalaman di tiga sektor, di private sektor, korporasi dan pemerintahan dan juga di pergerakan, rasanya itu saling melengkapi. Dan saya percaya pemimpin siapapun itu yang punya pemahaman di tiga sektor itu akan menjadi bekal yang baik untuk menjalankan tugasnya.

Dari kaca mata Anda, bagaimana melihat masyarakat Jawa Tengah? Mulai dari kultur, sosial-politik hingga anak mudanya?

Tentu makin ke sini kan batas-batas daerah dan batas budaya itu makin cair, kalau anak sekarang ya enggak jauh bedalah yah, seleranya, perilakunya sama dengan teman-teman di Jakarta dan kota, tapi itu kan sebagian kecil. Tapi sebagian besar masyarakat Jawa Tengah kan masyarakat pedesaan. Saya mendapatkan tips dari Prof Subroto mantan menteri ESDM, beliau mengatakan masyarakat jateng adalah masyarakat yang respect kepada pemimpin, nurut, hormat. Jadi asal dibawa ke tempat-tempat yang bener sebetulnya hubungannya bisa cepet.

Nah saya meyakini itu dan karena itu memang betul masyarakat Jateng hormat kepada pemimpinnya, pemimpin yang baik. Kalau kita bisa memiliki kepemimpinan, leadership yang baik pasti dukungannya sangat kuat.

Bagaimana Anda melihat kondisi Jawa Tengah lima tahun terakhir? Apa yang sekiranya perlu dibenahi maupun dilanjutkan?

Saya menyebutnya ruang perbaikan, saya tidak ingin menyorot siapa pun. Jadi semua orang bicara soal kemiskinan yang cukup akut. Di kampung saya masih ada cerita bayi meninggal gara-gara tidak dilayani dengan cepat, di Brebes. Karena jalan berkilo-kilo meter, berjam-jam. Sampai di rumah sakit tidak dilayani dengan cepat jadinya meninggal.

Saya kemarin masih mendengar cerita bahwa seseorang yang makan pun masih susah dan itu masih ada. Saya agak tidak bisa menerima karena ini Jawa, Jawa itu kan pulau paling maju, paling subur jadi kemiskinan adalah hal yang bisa kita atasi dengan cepat. Jadi infrastruktur, meratanya pembangunan dari utara dan selatan.

Selama ini pembangunan di mana yang lebih maju dan tertinggal di Jawa Tengah?

Yang jelas daerah selatan itu relatif tertinggal, jalan-jalan di Selatan itu banyak yang rusak mungkin karena jauh dari pusat pemerintahan. Jadi ini nanti kuncinya adalah bagaimana pemerintah itu terus memperhatikan dengan pemerataan. Kemudian soal-soal kesempatan kerja.

Jadi angka pengangguran cukup tinggi dan kita harus dorong supaya proses penciptaan lapangan kerja ini lebih cepat dan lebih banyak dan yang lain-lain industri pariwisata kita punya yang potensial sekali. Kreatif, batik ada di mana-mana dan batiknya coraknya macam-macam, pusatnya di Jawa Tengah. Solo berbeda dengan Lasem, Lasem berbeda dengan Pekalongan, daerah Banyumas. Jadi ini hal-hal yang tadi saya sebut ruang perbaikan untuk dilakukan perbaikan-perbaikan.

Nama:
Sudirman Said

Tempat dan Tanggal Lahir:
Brebes, Jawa Timur, 6 April 1963

Pendidikan:
-Sekolah Tinggi Akuntansi Negara
-Master of Business Administration, Majoring in Human Resources Management and Organizational Behavior & Development di George Washington University, Washington DC, USA

Jabatan:
-Ketua badan Pelaksana Masyarakat Transparansi Indonesia
-Direktur Utama PT Pindad
-Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral [ang]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini