Atlet butuh 'kail' sebelum turun gelanggang

Jumat, 9 September 2016 07:34 Reporter : Aryo Putranto Saptohutomo
Atlet butuh 'kail' sebelum turun gelanggang Atlet Indonesia peraih medali di Olimpiade Rio-Brasil 2016. ©Setpres RI/Cahyo

Merdeka.com - Setiap masa ada orangnya, setiap orang ada masanya. Mungkin hal itu menjadi garis besar pendapat konsultan keuangan Aidil Akbar soal para atlet dan kesejahteraan. Dunia para mantan atlet Indonesia kadang membikin terenyuh. Sebab mereka mesti kepayahan saat masa jayanya telah lewat.

Aidil mengibaratkan atlet seperti artis. Hanya saja masa keemasan mereka bisa lebih singkat lantaran dipengaruhi usia dan kondisi fisik. Beda halnya dengan pesohor terkadang masih laku meski di usia senja.

Pelbagai kisah miris mantan atlet juga sampai ke telinga Aidil. Menurut dia, olahragawan semestinya dibekali kemampuan mengelola uang. Duit menjadi faktor penting supaya mereka bisa bertahan ketika mereka berprestasi dan kalau sudah tidak berlaga di arena.

Aidil mengambil contoh petinju Mike Tyson. Semasa jayanya, si tengkuk besi, julukan Tyson, bisa meraup miliaran dolar. Namun karena tidak bisa mengelolanya lantaran mendadak menjadi orang kaya baru, dia menghamburkan duitnya.

"Memang semasa mereka jaya harus menyisihkan uang," ujar Aidil saat dihubungi merdeka.com Jumat (2/9) pekan lalu.

Kebijakan pemerintah merekrut atlet berprestasi menjadi pegawai negeri sipil hanya bisa dinikmati oleh kalangan pribumi. Sedangkan bagi olahragawan keturunan Tionghoa misalnya, hal itu tak berlaku. Mereka akhirnya banting setir berbisnis ketika tak lagi berkutat di dunia olahraga.

Duit diperoleh atlet seharusnya diputar. Reksadana, emas, dan properti menurut dia menjadi pilihan investasi buat para atlet, jika memutuskan tidak berbisnis usai pensiun. Dia menyatakan risiko ketiganya minim. Namun di samping itu, paling penting adalah para atlet dibekali kemampuan mengelola keuangan, atau paling tidak didampingi konsultan atau orang dipercaya bisa mengurus duit mereka.

"Fokus mereka bertanding. Enggak boleh direcokin sama hal kaya gitu. Misal besoknya harus makan apa dan uangnya dari mana. Sebab waktu mereka habis untuk latihan, mereka enggak sempat lagi berpikir ke arah sana," ujar Aidil.

Alangkah baiknya, lanjut Aidil, bonus diberikan pemerintah kepada para atlet tak hanya berupa duit. Jasa konsultasi keuangan juga mesti diikutkan supaya mereka tidak bingung dalam mengelola fulus.

"Biarkan perencana keuangan yang mengelola atlet tadi, apakah sistemnya coaching (pendampingan) setahun sampai lima tahun atau lainnya," ucap Aidil.

Di samping itu semua, pemerintah menurut Aidil juga memiliki tanggung jawab dalam kesejahteraan atlet. Pemerintah dituntut harus mulai memilah cabang olahraga bakal diorbitkan menjadi industri. Jika menarik, pihak swasta baru berminat menjadi sponsor dalam kompetisi. Hanya saja, sayangnya sistem itu tidak berjalan semestinya. Sebab, industri olahraga bukan hanya buat meraup untung, tetapi juga buat membina atlet.

Dia sempat menyinggung soal Porkas di masa lalu dimaksudkan menghimpun dana dari masyarakat buat keperluan atlet. Namun, hal itu kembali ke kesiapan pemerintah.

"Di Indonesia belum ada industri olahraga. Kalau melibatkan swasta harus dibuatkan industri. Olahraga apa yang laku di Indonesia. Misalkan sepakbola dan badminton. Fokus itu saja," tutup Aidil. [ary]

Topik berita Terkait:
  1. Olahraga
  2. Kisah Pensiunan Atlet
  3. Jakarta
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini