Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Walkot Surabaya Wajibkan Orang Tua Melek Pengasuhan Anak, Hindari Dampak Buruk

Walkot Surabaya Wajibkan Orang Tua Melek Pengasuhan Anak, Hindari Dampak Buruk Ilustrasi orang tua dan anak. ©Shutterstock.com/ Andrey_Popov

Merdeka.com - Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menegaskan, para orang tua harus memiliki kemampuan memadai dalam pengasuhan anak. Pasalnya, pola pengasuhan anak akan berperan penting dalam pembentukan karakter anak pada masa mendatang.

Salah satu poin yang digaris bawahi Eri Cahyadi ialah perlunya terjalin komunikasi intensif antara orang tua dengan anak. Ketiadaan komunikasi yang baik akan menyebabkan ada jarak membentang antara orang tua dan anak.

"Jika tidak memahami itu (pola komunikasi dengan anak), anak-anak akan kesulitan menyampaikan yang dirasakan maupun apa yang ingin disampaikan," jelasnya dalam keterangan tertulis di Surabaya, Rabu (24/5/2023).

Menurut mantan Kepala Bappeko Surabaya itu, kemampuan pengasuhan anak juga harus dilandasi dengan ilmu keagamaan.

Seperti Sahabat

Ia mengimbau para orang tua menerapkan prinsip keterbukaan dengan buah hatinya. 

"Anak itu seperti sahabat, kalau anak ini tidak berani berbicara, tidak berani bertanya maka akan terjadi permasalahan dalam keluarga. Akhirnya anak mencari teman curhat. Bagaimana ayah dan ibu dekat dengan putra dan putrinya sehingga ada komunikasi apa yang dirasakan dan diinginkan anak)," ungkap Cak Eri, panggilan akrab Wali Kota Surabaya. 

Menurutnya, anak akan menjadi baik atau tidak, berhasil atau tidak, tergantung asuhan orang tua. 

“Sentuhan kasih sayang orang tua itu jauh lebih berarti, agar anak-anak ini bisa menahan dirinya dari kegiatan negatif," ujarnya  dalam acara Parenting Akbar Pusat Pembelajaran Keluarga (Puspaga) dan seminar Transisi PAUD ke SD di Surabaya, Selasa (23/5).

Orang tua, lanjut Cak Eri, harus mendampingi proses transisi pengenalan penggunaan gadget kepada anak serta memberikan penjelasan terkait dampak positif dan negatif penggunaan gawai. 

"Kalau anak melihat pornografi maka otaknya (kepandaian, red.) akan menyusut 4,44 persen, berarti menjadi anak bodoh. Kalau seperti itu, orang tua akan menyesal di belakang. Maka orang tua harus mengerti dan bisa menyampaikan kepada anak tentang dampak pornografi," jelasnya.

Permasalahan

ilustrasi anak kecanduan gadget

©2023 Merdeka.com/Freepik

Cak Eri menjelaskan, keluh kesah tentang sikap anak yang kurang sesuai harapan lebih banyak disampaikan oleh orang tua dari kategori usia muda. Mereka mengeluh tidak bisa fokus mengasuh anak karena waktunya habis untuk bekerja.

Selain itu, banyak orang tua yang mengeluh anak-anaknya tidak menurut serta lebih senang bermain dengan teman-temannya. 

“Parenting (mengasuh anak) menjadi refleksi diri bagi orang tua, termasuk saya dan istri saya. Bagaimana ke depan, saya harus bisa mengajak anak-anak saya, putra-putri saya berdiskusi, ngobrol, dan merasa terbuka. Jangan dilarang menggunakan ponsel karena pembelajaran kita juga lewat gadget," ujar politisi PDI Perjuangan itu, dikutip dari Antara.

Ketua Bunda Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Surabaya Rini Indriyani menambahkan, orang tua tidak boleh hanya menuntut anak pandai matematika atau sains, tetapi juga dilatih percaya diri melalui pentas seni. 

“Kita kuatkan di sana (pentas seni) dan kita ajarkan, karena untuk berkomunikasi dengan orang tua atau mengekspresikan emosi bisa lebih mudah, sebab sudah diajarkan sejak kecil," ujarnya.

Dia berharap, pelatihan terhadap anak-anak dalam menyampaikan ekspresi dan emosi akan membuat mereka terbiasa mengutarakan keinginan. 

"Misalnya ketika pulang sekolah, dia bercerita tentang apa yang dilakukan. Artinya, dia berkomunikasi untuk mengekspresikan emosinya. Kalau sudah dibiasakan komunikasi dengan baik, InsyaAllah saat remaja maupun dewasa, ia terbiasa berkomunikasi dengan orang tuanya," tandas Rini.

(mdk/rka)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP